HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Pelaku Kekerasan Terdahap Jurnalis Tidak Boleh Dibebaskan dari Proses Peradilan

6

HARIANACEH.co.id, JAKARTA — Wakil Ketua Komisi I DPR, Tubagus Hasanuddin, menyesalkan tindak kekerasan dan pembunuhan terhadap wartawan di Sumatera Utara, beberapa pekan lalu. Dia meminta tak ada impunitas terhadap pelaku kekerasan kepada jurnalis.

Seharusnya, kata dia, bila semua pihak memahami fungsi pers sesuai Undang-undang Pers No. 40/1999, kekerasan terhadap wartawan tidak lagi terjadi.

“Kalau ada pemberitaan yang tidak sesuai, harusnya diselesaikan melalui mekanisme yang sesuai Undang-undang. Artinya, selesaikan dengan cara yang diatur UU Pers No. 40/1999, bukan dengan melakukan kekerasan terhadap wartawan,” ujar Hasanuddin dalam keterangan tertulisnya, Kamis 30 Maret 2017.

Hasanuddin mengatakan, penyelesaian melalui jalur kekerasan melanggar Pasal 4 ayat 1 dan ayat 3 junto Pasal 18 ayat 1 UU Pers No. 40/1999, dan dapat dikenakan ancaman hukuman dua tahun penjara serta denda Rp500 juta.

“Namun, bila kekerasan itu berakibat pada hilangnya nyawa seseorang, maka itu masuk dalam tindak pidana pembunuhan berencana, sebagaimana diatur dalam Pasal 340 KUHP. Hukumannya bisa pidana mati,” kata dia.

Menurut Hasanuddin, ada empat hal yang bisa meminimalisir kasus kekerasan terhadap wartawan. Pertama, lanjut dia, aparat keamanan harus mampu memberikan perlindungan secara maksimal terhadap wartawan.

“Aparat keamanan harus komitmen dalam melindungi masyarakat, termasuk wartawan yang menyajikan informasi pada masyarakat. Jangan sampai aparat keamanan justru menjadi pelaku kekerasan,” kata politikus PDI Perjuangan itu.

Kedua, kata dia, masyarakat juga harus disadarkan pada kerja-kerja wartawan yang dilindungi oleh Undang-undang Pers No. 40/1999. “Ketiga, pemerintah daerah juga harus aktif mensosialisasikan fungsi media sebagai pilar keempat demokrasi,” imbuhnya.

Keempat, lanjut Hasanuddin, wartawan sebagai pemburu informasi juga harus sensitif dalam melaksanakan tugasnya. “Jangan memaksa masuk ke dalam area masyarakat yang tengah berkonflik atau demontrasi yang berujung pada chaos, karena massa mudah sekali diprovokasi,” kata dia.

Sebagaimana diketahui, dalam sepekan ini telah terjadi kekerasan dan pembunuhan terhadap wartawan di Sumatera Utara. Amran Parulian Simanjuntak, wartawan salah satu surat kabar mingguan yang bertugas di Binjai dibunuh orang tak dikenal pada Rabu 29 Maret 2017. Amran dibunuh karena diduga terkait dengan pemberitaan. (mtvn)

loading...