HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Gugatan Uni Eropa terkait BMAD Biodiesel Terus Diproses Kemendag

13

HARIANACEH.co.id — Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengungkapkan bahwa soal gugatan kepada Uni Eropa tentang Bea Masuk Anti Dumping (BMAD) yang meningkat dan merugikan Indonesia masih dalam proses gugatan. Kondisi itu penting agar Indonesia tidak mengalami kerugian dan dipandang di mata dunia internasional.

“Ya kita terusin, kita jalankan. Kita gugat,” tegas Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita, di Kantor Kementerian Perdagangan, Jalan MI Ridwan Rais, Jakarta, Senin 1 April 2017.

Minggu lalu, Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Oke Nurwan mengatakan, tim dari Kementerian Perdagangan bersama Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) hadir dalam sidang gugatan pertama. Hari ini rencananya hasil sidang gugatan itu dilaporkan kepada dirinya.

“Minggu kemarin tim perdagangan, pengacara dan Aprobi hadir di sidang pertama gugatan Indonesia ke WTO terkait dumping Uni Eropa produk biodiesel. Hari ini tim baru akan lapor ke saya,” kata Oke.

Selain mengurangi jumlah ekspor biodiesel ke Uni Eropa, Oke melanjutkan, pengenaan bea masuk tinggi ini berpotensi diikuti oleh negara lain.  Baru-baru ini, tambah Oke, produsen biodiesel Amerika Serikat (AS) mengajukan petisi kepada Pemerintah Amerika Serikat untuk mengenakan dumping untuk biodiesel Indonesia.

“Bila tidak disikapi bisa diikuti oleh negara lain, seperti saat ini Produsen Biodiesel AS mengajukan petisi kepada Pemerintah AS mengenakan dumping dan subsidi kepada Indonesia,” jelas dia.

Sebelumnya, sejak dikenakan Bea Masuk Anti Dumping (BMAD) oleh Uni Eropa, kinerja ekspor biodiesel dari Indonesia ke Uni Eropa turun dari USD635 juta pada 2013 menjadi USD9 juta pada 2017. Nilai BMAD yang ditetapkan cukup besar, yaitu 8,8 hingga 23,3 persen atau 76,94 euro hingga 178,85 euro per ton.

Berdasarkan hasil analisis pengenaan BMAD tersebut, Pemerintah Indonesia menilai ada ketidakadilan dan inkonsistensi dengan Anti-Dumping Agreement (ADA) WTO. Atas alasan itu, Indonesia mencari keadilan melalui forum Dispute Settlement Body (DSB) WTO.

Indonesia meyakini bahwa Komisi Eropa (KE) sebagai otoritas penyelidikan melakukan kesalahan dalam metodologi dan penghitungan normal value serta profit margin yang menyebabkan produser atau eksportir biodiesel asal Indonesia dikenakan BMAD tinggi. (mtvn)

loading...
Subscribe to our newsletter
Sign up here to get the latest news, updates and special offers delivered directly to your inbox.
You can unsubscribe at any time