HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Komnas HAM Bersikeras Meminta Hukuman Mati Menjadi Hukuman Alternatif

Aksi menolak hukuman mati. (ANTARA/Muhammad Adimaja)
16

HARIANACEH.co.id — Pemerintah dan DPR telah sepakat merevisi aturan dalam KUHP tentang hukuman mati. Hukuman mati yang sebelumnya dijadikan sebagai hukuman pokok, diubah menjadi hukuman alternatif.

Dalam revisi aturan itu, narapidana yang sudah divonis hukuman mati akan dipantau oleh tim independen di bawah kendali Kementerian Hukum dan HAM. Jika narapidana berkelakuan baik, hukuman mati bisa diubah menjadi hukuman seumur hidup atau maksimal 20 tahun.

Sayangnya, masih ada pihak yang tetap tak setuju dengan pemberlakuan hukuman mati, meskipun dengan rencana akan diubah menjadi hukuman alternatif. Salah satunya Komnas HAM.

Komisioner Komnas HAM Natalius Pigai beranggapan bahwa hukuman mati sudah tidak relevan diterapkan di Indonesia. Sementara, negara-negara lain seperti di Amerika sudah menghilangkan hukuman itu.

Natalius mengatakan saat ini adalah eranya human rights millenium, sebuah demokratisasi perdamaian keadilan yang sudah mengubah hukum yang dulunya sebagai hukum pembalasan (retributive justice) menjadi hukum untuk memanusiakan manusia (restorative justice).

“Sekarang sudah tidak lagi menggunakan retributive justice tapi restorative justice dengan melakukan perdamaian, rekonsiliasi. Makanya peradilan negara lain menyediakan tempat mediasi yang berorientasi pada restorative justice, termasuk hukuman mati,” kata Natalius, dalam Metro News, Senin 4 Maret 2017.

Tak hanya era yang berubah, Komnas HAM menolak hukuman mati karena masih memegang prinsip hak asasi manusia yang menyatakan bahwa hak hidup seseorang tidak boleh dicabut oleh siapapun. Meskipun, ada pengecualian dalam konstitusi, Komnas HAM tetap kukuh menolak hukuman mati.

“Hukuman mati itu hak yang tidak bisa dicabut oleh siapapun termasuk para hakim itu prinsip human right kecuali Tuhan yang mematikan orang,” ungkap Natalius. (mtvn)

Komentar
Sedang Loading...
Memuat