HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Konflik Sudan

Banyak Warga Sudan Selatan Melarikan Diri ke Negara Uganda

Seorang penjaga perdamaian PBB berpatroli di Juba, Sudan Selatan, Oktober 2016. (AFP/ALBERT GONZALEZ FARRAN)
20

HARIANACEH.co.id, Juba — Lebih dari 3.000 warga Sudan Selatan melarikan diri ke Uganda, Selasa 4 April 2017, setelah prajurit pemerintah menyerang kota Pajok. Menurut para pengungsi, tentara membunuh pria, wanita dan anak-anak tanpa pandang bulu.

Serangan pasukan pemerintah SPLA adalah kali pertama yang mengenai kota-kota di wilayah selatan dekat perbatasan Uganda, seiring meluasnya perang sipil di Sudan Selatan sejak tiga tahun terakhir.

Pejabat pemerintahan Sudan Selatan belum dapat dihubungi untuk dimintai konfirmasi.

“Jika Anda lari, Anda ditembak. Jika Anda ditangkap, Anda akan dibantai,” ucap seorang warga Sudan Selatan bernama Lokang Jacky, seperti dilansir Reuters.

Para pengungsi Sudan Selatan dan agen intelijen Uganda mengatakan serangan terhadap kota Pajok terjadi pada Senin sekitar pukul 08.00 pagi waktu setempat. Pajok adalah kota dengan populasi mencapai 50 ribu.

“Kota itu benar-benar sepi,” kata seorang pastor bernama Mondaa. “Jika mereka menangkap seseorang, mereka akan membunuhnya,” sambung dia.

Akhir Maret, pemberontak loyalis mantan wakil presiden Riek Machar mengaku telah membebaskan sejumlah narapidana dari sebuah penjara di kota Kajo-Keji, sekitar 100 kilometer dari Juba.

Namun pemerintah mengecamnya, dan menyebut pemberontak telah menyerbu penjara tersebut dan membebaskan sejumlah narapidana.

Sudan Selatan merdeka pada 2011. Negara termuda di dunia itu terjerumus ke gelombang kekerasan pada akhir 2013, saat rivalitas Presiden Salva Kiir dan Machar memicu perang sipil yang kerap melibatkan konflik antar etnis.

Menurut data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), konflik Sudan Selatan telah membuat jutaan orang terusir dari rumah mereka sendiri, merusak sektor pertanian, dan memicu musibah kelaparan.

Komentar
Sedang Loading...
Memuat