HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Elektabilitas Anies-Sandi Dipengerahui FPI & Rizieq Shihab

Direktur Eksekutif Charta Politika, Yunarto Wijaya, saat merilis hasil survei, Sabtu 14 April 2017. (MI/Galih Pradipta)
31

HARIANACEH.co.id — Tren elektabilitas pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Anies Rasyid Baswedan dan Sandiaga Salahudin Uno cenderung stagnan di putaran kedua Pilkada DKI Jakarta.

Ini yang membuat pasangan petahana Basuki ‘Ahok’ Tjahaja Purnama dan Djarot Saiful Hidayat, menyalip keunggulan elektabilitas mereka yang sempat bertahan sejak November 2016.

Charta Politika mencatat, pada November 2016 elektabilitas Anies-Sandi unggul dengan 40,7 persen, Januari 45,2 persen, dan Februari 44,5 persen. Pasangan Ahok-Djarot pada November hanya meraih 31,1 persen suara, Januari 34,7 persen, dan Februari 41 persen. Momentum berbalik pada April, Anies-Sandi meraih 44,8 persen, sedangkan Ahok-Djarot 47,3 persen.

Direktur Eksekutif Charta Politika Yunarto Wijaya menilai, pada putaran pertama Anies-Sandi mampu menumbuhkan sentimen positif melalui kunjungan Sandi ke kandang Front Pembela Islam (FPI) di Petamburan, Jakarta Barat.

Simbol peci yang dikenakan keduanya di surat suara juga memengaruhi elektabilitas. “Ini efektif memosisikan mereka di kalangan pemilih Islam.” Strategi tersebut justru menggerus suara pasangan Agus Harimurti Yudhoyono dan Sylviana Murni yang akhirnya tersingkir dari arena.

Captive market terbangun, tapi hal ini tidak didapatkan kembali di putaran kedua,” ujar Yunarto, di kantor Charta Politika, Jalan Cisanggiri III, Jakarta Selatan, Sabtu 15 April 2017.

Malah, lanjut Yunarto, sentimen negatif muncul di putaran kedua ini. Satu hal yang memunculkan hawa buruk bagi pasangan ini ialah peristiwa penolakan Djarot di Masjid At-Tiin TMII saat acara haul Soeharto.

“Kemudian apa yang terjadi pada kasus FPI dan Rizieq Shihab, berkorelasi linier pada persepsi publik terhadap Anies-Sandi. Ini jadi beban di putaran kedua,” kata Yunarto.

Faktor berikutnya, yakni soal memperebutkan dukungan partai politik pendukung Agus-Sylvi. Yunarto menilai, Ahok-Djarot memenangi dukungan dengan mengambil dukungan PPP dan PKB. Terlebih, partai yang mendukung Agus-Sylvi didominasi partai Islam.

“Praktis hanya PAN (yang mendukung Anies-Sandi) yang suaranya lebih kecil dari gabungan PPP dan PKB,” kata pengamat politik itu.

Melihat kondisi ini, Yunarto menilai, jika tak ada strategi berarti dari Anies-Sandi, maka Ahok-Djarot berpeluang menang. “Kalau tidak ada strategi politik yang signifikan, Ahok-Djarot sulit ditahan.”(mtvn)

Komentar
Sedang Loading...
Memuat