HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Ketua SEMA FEBI UIN: KEK Arun Solusi Pengganti Dana Otsus!

9

HARIANACEH.co.id, BANDA ACEH - Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Arun, Lhokseumawe adalah asset berharga Aceh dimasa akan datang. Selayaknya elemen pemuda dan masyarakat Aceh untuk mensupport penuh percepatan KEK Arun yang rencanaya akan rampung beberapa tahun depan.

Hal ini dikatakan Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Ar-Raniry, Hidayattullah Yakob dalam realese kepada HARIANACEH.co.id, Selasa 18 April 2017.

“KEK Arun itu asset Aceh, jadi masyarakat Aceh itu harus mendukung penuh atas percepatan KEK Arun tersebut, dan para pemuda Aceh juga harus mempersiapkan diri bila nantinya proyek tersebut berjalan,” ujar Hidayat.

Tambah Hidayat, KEK Arun adalah proyek yang sangat pontensial bagi masyarakat Aceh, karena akan menampung banyak tenaga kerja nantinya. “KEK Arun diperkirakan akan menampung 30 ribu tenaga kerja, ini dapat mengurangi angka penganguran dan kemiskinan di Aceh,” jelasnya.

Terkait Peraturan Pemerintah RI Nomor 5 tahun 2017, Hidayat mengatakan, sangat kecewa karena peraturan tersebut sangat bertolak belakang dengan peraturan yang pernah diusulkan pemerintah Aceh. Dimana pemerintah Aceh mengusulkan bahwa KEK Arun itu dikelola oleh pemerintah Aceh dan dibantu oleh Pemerintah Aceh Utara dan Pemerintah Lhokseumawe.

“Peraturan pengelolaan KEK Arun saat ini memang masih ada tolak tarik antara Pemerintah Aceh dan Pemerintah Pusat. Dan bila kita kaji dari PP NO 5 Tahun 2017 pemerintah pusat lebih berkuasa atas pengelolaan KEK Arun. Jadi yang kita sayangkan sekarang dari PP tersebut adalah ketidakadilan bagi rakyat Aceh dan pemerintah Aceh yang mana KEK Arun tersebut adalah asset Aceh dan didalam UUPA sendiri telah disebutkan bahwa asset daerah harus dikelola oleh daerah” jelas Hidayat.

Ia juga mengungkapkan bila KEK Arun itu dikelola pemerintah pusat, itu adalah sebuah kerugian rakyat Aceh. Seperti sistem pengelolaan Excon Mobille, dimanapendapatannya dibawa pulang kepusat dan warga yang domisili sekitar Exxonmobille (Aceh utara dan Lhokseumawe) hanya menerima ampasnya saja. “Kita harus belajar dari Exxon mobile yang pernah beraktivitas di Aceh Utara, tapi apa yang kita dapatkan?,” tanya Hidayat.

Sekarang kita tidak ingin itu terulang lagi pada KEK Arun, tambah Hidayat, “Bek buya krueng teu dhong dhong buya tamong meuraseuki,” ucap Hidayat yang juga pemuda asal Aceh Utara.

Hidayat juga menjelaskan, bila KEK Arun dikelola oleh Pemerintah Aceh secara otomatis Pendapatan Anggaran Daerah (PAD) Aceh akan meningkat dan itu sangat penting untuk Aceh dimana dana Otsus untuk Aceh hanya tinggal 10 tahun lagi dan dengan PAD dari KEK Arun dapat membantu Aceh ketika dana Otsus itu habis masa. “KEK Arun dapat jadi solusi ketika dana Otsus habis,” pungkasnya.

loading...