HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Lupakan Logika Keluarga di Film Fate of The Furious

30

HARIANACEH.co.id – Jangan berharap film Fate of the Furious punya kisah yang cemerlang untuk diikuti. Kendati sejak awal, seri film balap jalanan ini tidak didapuk sebagai kisah superhero mutan atau cyborg, film kedelapan memaksa kita untuk percaya bahwa Dom Torreto (Vin Diesel) dan kawan-kawan telah menjadi dewa mobil tak terkalahkan jika sudah bertakhta di belakang setir mobil. Apapun bisa terjadi.

Di balik banyak pemaksaan logika teknologi dan manusiawi, Fate of the Furious  (F8) adalah drama keluarga penuh humor dengan bumbu aksi tembak-tembakan dan ledakan. Lupakan akal sehat sejenak, film ini dapat dinikmati dengan riang.

Kisah F8  diawali di pantai Havana, Kuba. Dalam bulan madunya dengan Letty (Michelle Rodriguez), Dom menyempatkan diri adu balap mobil dengan pemilik mobil tercepat di kawasan itu. Berbekal tabung dinitrogen oksida (NOS), trik rahasia, serta pengalamannya di jalan, kita bisa menebak apa hasil akhirnya.

11 menit pembuka film sebenarnya dapat mengisyaratkan menu apa saja yang tersaji dua jam berikutnya. Kehadiran anak-anak seusai balapan memberi warna bagi hidup Dom. Balap jalanan juga menjadi tak penting lagi baginya dan bagi keseluruhan cerita film ini.

Kekeluargaan

Konflik mereka melaju dalam level lain. Tak lagi dengan pertengkaran jalanan, pembajak, atau pengedar narkoba, tetapi kini dengan keselamatan seluruh umat manusia. Senjata-senjata ampuh hasil kemajuan teknologi, yang telah diperkenalkan di dua film sebelumnya, dimunculkan dan menjadi salah satu motif utama cerita. Betapa heroik.

Namun bagi Dom, senjata terampuh tetap keluarga. Kita tahu rasa sayangnya kepada Mia (Jordana Brewster) dan Brian (mendiang Paul Walker) lewat kisah sebelumnya. Juga kepada Letty hingga Dom berpisah dengan Elena (Elsa Pataky) dalam Furious 7 (2015).

Lewat trailer, kita mengetahui daya tarik cerita yang jadi jualan utama F8 adalah pengkhianatan Dom terhadap tim yang telah dia anggap sebagai keluarga. Maka, tentu butuh motif yang lebih besar ketimbang keluarga untuk dijadikan alasan membelot dan bergabung dengan bos penjahat sekaligus peretas kelas dunia bernama alias Cipher (Charlize Theron).

Motif tersebut dibuka ke penonton di pertengahan film dan terbilang sukses dalam memberi sentuhan emosional baru dalam kisah balapan maut. Meskipun jika ditarik ke belakang di kisah Furious 7, logikanya dapat dipertanyakan.

Logika Nomor Sekian

Namun logika cerita adalah prioritas kesekian di F8. Nomor satu adalah bagaimanapun masa lalu tokoh, tindakan mereka harus merupakan perwujudan rasa kekeluargaan. Maka tak penting lagi misalnya, masa lalu Deckard Shaw (Jason Statham).

Kebencian dan konfliknya dengan keluarga Torreto tidak terasa lagi. Perseteruannya dengan Luke Hobbs (Dwayne Johnson) pun terkesan komikal dan dipaksakan. Seakan memang dirancang sebagai petunjuk ke bagian cerita selanjutnya supaya penonton dapat mengikuti dengan sangat mudah. Namun patut diakui aksi Deckard Shaw mampu mencuri perhatian penonton.

Lalu nomor dua, bagaimanapun para tokoh kita nyaris mati, harus ada keajaiban di detik terakhir. Pahlawan pasti menang. Formula ini telah kita serap dengan sangat baik sehingga ketika menonton film aksi klasik, kita tak lagi penasaran dengan apa akhirnya, tetapi bagaimana tokoh kita akhirnya mampu melewati halangan.

Tenang saja. Jika ada tokoh yang hendak terbunuh atau tak terbunuh, sudah banyak penanda untuk memandu, entah lewat pilihan visual, musik, atau dialog.

Prioritas ketiga, seberapapun Cipher digambarkan sebagai penjahat dan peretas kejam nan cerdas, tindakannya tak mencerminkan tokoh tersebut. Dia bisa saja membunuh lawannya di kesempatan pertama. Namun lagi-lagi, narasi film ini ingin tokoh-tokohnya melemparkan bumerang semata demi alur cerita.

Soal peretasan, satu hal kecil yang begitu klasik dan mengganggu  dalam dunia fiksi Fast & Furious adalah pemasukan adegan kontes mengetik antara hacker kubu putih dan kubu hitam. Terlihat keren memang, tetapi tetap menggelikan.

Tanpa kehadiran para pemain besar, aksi pemain pengganti (stunt), serta kesuksesan film-film sebelumnya, kisah F8  akan menjadi sangat biasa. F8  jelas bukan karya terbaik dalam waralaba Fast & Furious. Namun sebagai hiburan ringan penuh aksi, film ini patut disimak.

F8 telah mengembangkan karakter Dom Torreto, dari begundal jalanan yang suka balapan, menjadi agen intelijen nyaris superhero. Tak ada kendaraan di Bumi yang dapat mengalahkan jika Dom telah duduk di kursi kemudi mobil berotot. Barangkali tinggal menunggu waktu, Dom menjadi seperti Batman lalu ikut dalam aksi kejar-kejaran dalam dunia fiksi Star Wars di galaksi nun jauh di sana. (DEV)

loading...