,

Niat Puasa dengan Redaksi Khusus, Haruskah?

Kajian Islam

Ilusrasi Ramadhan
Ilusrasi, (semesti.com.my)

HARIANACEH.co.id — Ramadhan tinggal hitungan hari lagi, semoga Allah panjangkan umur kita sehingga berjumpa kembali dengan bulan yang penuh berkah ini.

Berbicara bulan ramadhan yang sebentar lagi, sudah tentu kita punya niat untuk berpuasa nanti. Terkait niat ini,mengingatkan saya pada film Ipin dan Upin, yang judulnya “Dugaan Ramadhan”
Disana Opah bilang pada Ipin dan Upin:
“Ipin Upin, masih ingat niat berpuasa ta?”
Ipin: Masih ingat Opah. Kita orang kan budak-budak rajin berpuase.

lalu Ipin dan Upin seraya berkata: “Bismillahirrahmanirrahim, nawaitu shauma ghadin ‘an adai fardhi syahri ramadhana hadzihi sanati lillahi ta’ala”

Mengenai niat puasa ini, sebenarnya haruskah seperti yang dilakukan Ipin dan Upin di atas?

Imam An-Nawawi (w.676 H) dalam Kitabnya Al-Majmu’ menjelaskan:

المجموع شرح المهذب (6/ 294)
قَالَ الشَّافِعِيُّ وَالْأَصْحَابُ لَا يَصِحُّ صَوْمُ رَمَضَانَ وَلَا قَضَاءٌ وَلَا كَفَّارَةٌ وَلَا نَذْرٌ وَلَا فِدْيَةُ حَجٍّ وَلَا غير ذلك من الصيام الواحب إلَّا بِتَعْيِينِ النِّيَّةِ لِقَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ” وَإِنَّمَا لِكُلِّ
امْرِئٍ مَا نَوَى ” فَهَذَا ظاهر في اشتراط التعيبن لِأَنَّ أَصْلَ النِّيَّةِ فُهِمَ اشْتِرَاطُهُ مِنْ أَوَّلِ الْحَدِيثِ ” إنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ ” وَاسْتَدَلَّ الْأَصْحَابُ بِالْقِيَاسِ الَّذِي ذَكَرَهُ الْمُصَنِّفُ وَهَذَا الَّذِي ذَكَرْنَاهُ مِنْ اشْتِرَاطِ تَعْيِينِ النِّيَّةِ هُوَ الْمَذْهَبُ وَالْمَنْصُوصُ وَبِهِ قَطَعَ الْأَصْحَابُ فِي جَمِيعِ الطُّرُقِ إلَّا الْمُتَوَلِّي فَحَكَى عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ الْحَلِيمِيِّ مِنْ أَصْحَابِنَا وَجْهًا أَنَّ صَوْمَ رَمَضَانَ يَصِحُّ بِنِيَّةٍ مُطْلَقَةٍ وَهَذَا الْوَجْهُ شَاذٌّ مَرْدُودٌ (الثَّانِيَةُ) صِفَةُ النِّيَّةِ الْكَامِلَةِ الْمُجْزِئَةِ بِلَا خِلَافٍ أَنْ يَقْصِدَ بِقَلْبِهِ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ رَمَضَانَ هَذِهِ السَّنَةَ لِلَّهِ تَعَالَى فَأَمَّا الصَّوْمُ فَلَا بُدَّ مِنْهُ وَكَذَا رَمَضَانُ لَا بُدَّ مِنْ تَعْيِينِهِ إلَّا وَجْهَ الْحَلِيمِيِّ السَّابِقَ فِي الْمَسْأَلَةِ قبلها (وأما) الاداء والفرضية فَفِيهِمَا الْخِلَافُ السَّابِقُ فِي الصَّلَاةِ وَقَدْ سَبَقَ مُوَضَّحًا بِدَلِيلِهِ لَكِنَّ الْأَصَحَّ هُنَا وَهُنَاكَ أَنَّ الاداء لا يشترط (وأما) الفرضية فَاخْتَلَفُوا فِي الْأَصَحِّ هُنَاكَ وَهُنَا فَالْأَصَحُّ عِنْدَ الاكثرين هناك

المجموع شرح المهذب (6/ 295)
الِاشْتِرَاطُ وَالْأَصَحُّ هُنَا أَيْضًا عِنْدَ الْبَغَوِيِّ الِاشْتِرَاطُ وَالْأَصَحُّ هُنَا عِنْدَ الْبَنْدَنِيجِيِّ وَصَاحِبِ الشَّامِلِ وَالْأَكْثَرِينَ عَدَمُ الِاشْتِرَاطِ وَالْفَرْقُ أَنَّ صَوْمَ رَمَضَانَ مِنْ الْبَالِغِ لَا يَكُونُ إلَّا فَرْضًا وَصَلَاةَ الظُّهْرِ مِنْ الْبَالِغِ قَدْ تَكُونُ نَفْلًا فِي حَقِّ مَنْ صَلَّاهَا ثَانِيًا فِي جَمَاعَةٍ وَهَذَا هُوَ الْأَصَحُّ (وَأَمَّا) الْإِضَافَةُ إلَى اللَّهِ تَعَالَى فَقَدْ سَبَقَ فِي بَابِ نِيَّةِ الْوُضُوءِ أَنَّ فِيهَا وَجْهَيْنِ فِي جَمِيعِ الْعِبَادَاتِ ذَكَرَهُمَا الْخُرَاسَانِيُّونَ (أَصَحُّهُمَا) لا تجب وبه قطع العراقيون (وأما) لتقييد بِهَذِهِ السَّنَةِ فَلَيْسَ بِشَرْطٍ عَلَى الْمَذْهَبِ وَهُوَ الْمَنْصُوصُ وَبِهِ قَطَعَ الْمُصَنِّفُ وَسَائِرُ الْعِرَاقِيِّينَ وَآخَرُونَ مِنْ غَيْرِهِمْ وَحَكَى إمَامُ الْحَرَمَيْنِ وَآخَرُونَ مِنْ الْخُرَاسَانِيِّينَ وَجْهًا فِي اشْتِرَاطِهِ وَغَلَّطُوا قَائِلَهُ وَحَكَى الْبَغَوِيّ وَجْهًا فِي اشْتِرَاطِ فَرْضِ هَذَا الشَّهْرِ وهو بمعني فرض هذا السنة وهو ايضا غلط وَاَللَّهُ تَعَالَى أَعْلَمُ

Imam An-Nawawi menjelaskan perihal niat ini ada beberapa masalah, diantaranya?
1. Apakah niat harus dita’yiin (dengan redaksi khusus dan tertentu)?
2. Bagaimana redaksi atau sifat niat yang sah?

Pertama, beliau menyatakan:
Imam Asy-Syafi’i dan ulama-ulama Syafi’iyah berpendapat tidak sah puasa seseorang, baik itu puasa Ramadhan, qadha, nadhar, kafarah, fidyah haji, dan puasa wajib lainnya kecuali dengan ta’yiin niat, berdasarkan hadis nabi: “Setiap orang tergantung apa yang dia niatkan” dan syarat ta’yiin niat ini sebagaimana awal hadis berbunyi: “Setiap amal disertai niat”. Adapun pendapat yang menganggap niat tidak perlu dita’yiin, cukup ada maksud atau niat mutlak saja, tanpa harus dengan redaksi khusus, maka ini merupakan pendapat yang syadz dan tertolak.

Kedua, bagaimana konteks atau sifat niatnya?

صِفَةُ النِّيَّةِ الْكَامِلَةِ الْمُجْزِئَةِ بِلَا خِلَافٍ أَنْ يَقْصِدَ بِقَلْبِهِ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ رَمَضَانَ هَذِهِ السَّنَةَ لِلَّهِ تَعَالَى فَأَمَّا الصَّوْمُ فَلَا بُدَّ مِنْهُ.

Sifat niat yang sempurna adalah menyengaja di dalam hati untuk puasa besok hari, menunaikan fardhu bulan Ramadhan, pada tahun ini, karena Allah Ta’ala.

Seperti makna dari yang diucapkan Upin dan Ipin di atas, hanya saja niat yang sesungguhnya adalah diucapkan di hati, kalau yang diucapkan di lisan dengan redaksi nawaitu shauma gadhin…, belum disebut niat, melainkan baru lafadz. dan redaksi niat di hatinya dengan menyebutkan ” Sahaja aku puasa esok hari, menunaikan puasa bulan Ramadhan tahun ini, karena Allah Ta’ala”

Kemudian Imam An-Nawawi menjelaskan lagi mengenai kenapa harus dengan redaksi seperti di atas, harus menyebutkan puasa, bulan ramadhan, pada esok hari, di tahun ini, karena Allah Ta’ala.

1. Kalau penyebutan puasa ramadhan pada esok hari itu harus dilakukan, untuk menyatakan bahwa puasanya dilakukan besok hari adalah benar-benar puasa Ramadhan, dilakukan di bulan Ramadhan, dan sifatnya fardhu. Untuk membedakan dari niat puasa sunnah. Sebaliknya tidak sah redaksi niat di atas pula diucapkan pada malam sebelum malam Ramadhan, seperti pada malam 30 sya’ban.

2. Kenapa harus menyebutkan lafadz ada (tunai), berdasarkan pendapat yang paling benar seperti disebutkan dalam masalah shalat, agar menyatakan bahwa puasanya tunai, bukan qadha.

3. Penyebutan fardhu juga harus dilakukan, karena adakalanya puasa tersebut tidak wajib, yaitu puasa bagi anak kecil, diqiyas kepada shalatnya orang yang ikut berjama’ah dzuhur untuk kedua kalinya. shalatnya shalat dzuhur, tapi hukumnya hanya sunnah, tidak wajib.

4. Penyebutan karena Allah, dalam hal ini terjadi khilaf,sebagian berpendapat harus atau wajib, dan sebagian tidak mensyaratkan harus ada di dalam niat. Dan pendapat yang paling shahih tidak wajib.

5. Adapun menyebutkan di dalam niat “pada tahun ini”, bukan merupakan syarat yang harus ada dalam niat.

Kesimpulan: dari apa yang dipaparkan oleh Imam An-Nawawi di atas, maka penulis meyimpulkan, niat puasa Ramadhan dalam madzhab Asy-syafi’i, sebagaimana yang dirajihkan imam An-Nawawi adalah harus dita’yiin atau dengan redaksi khusus, seminimal-minimalnya menyebutkan di dalam hati, menyegaja atau berniat puasa, menunaikan fardhu bulan Ramadhan pada esok hari.

Sedangkan redaksi lengkapnya ” Sahaja aku puasa, esok hari, menunaikan puasa Ramadhan, pada tahun ini, karena Allah Ta’ala”.

Wallahua’lam.

 

Sumber : rumahfiqih.com

loading...
Pengamat Politik, Erlanda Juliansyah Putra. Foto: (Ist)

Erlanda: ICJR Jangan Terlalu Ikut Campur Dalam Kekhususan Aceh

Laut

Pajang Foto Makhluk Bernyawa, Bagaimanakah Hukumnya?