HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Balap Liar

Mahasiswi Fisip Ilmu Politik UIN Ar-raniry Banda Aceh, Cut Mazaya Meyosi. Foto: Ist
550

Oleh: Cut Mazaya Meyosi[1. Mahasiswi Fisip Ilmu Politik UIN Ar-raniry Banda Aceh]

HARIANACEH.co.id, BANDA ACEH — Balap liar telah menjadi fenomena yang dikategorikan sebagai masalah sosial. Ini lantaran kenakalan remaja itu ikut meresahkan berbagai pihak. Mulai dari orangtua, pemerintah, dan masyarakat. Kaum remaja yang seharusnya melakukan hal-hal positif untuk mengisi waktu luang, bila belarku sebaliknya maka akan sangat rentan dengan masalah ke depannya .

Hal ini karena kenakalan remaja merupakan suatu perilaku menyimpang atau tingkah laku yang tidak dapat diterima sosial, sampai pelanggaran status, hingga tindak kriminal. Kenakalan remaja memang bisa saja terjadi pada setiap anak muda yang masih berseragam sekolah atau berstatus pelajar, maupun masyarakat pada umumnya. Masa remaja merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak menuju masa kematangan emosional, mental, sosial, dan fisik. Sebab itulah posisinya menglami kerentanan. Sebab pada sisi yang lain, sesungguhnya masa remaja merupakan masa yang sangat penting bagi pembentukan identitas diri karena terjadinya proses transisi.

Hal ini berarti bahwa keberhasilan dalam membentuk identitas diri pada masa remaja akan mempengaruhi keberhasilan yang dicapai pada masa-masa selanjutnya. Konsep indentitas pada umumnya merujuk pada suatu kesadaran akan kesatuan dan kesinambungan pribadi, serta keyakinan yang relatif stabil sepanjang rentang kehidupan, sekali pun terjadi berbagai perubahan. Faktor pergaulan di dalam lingkungan sangat mempengaruhi seorang remaja. Karena dari situ mereka bisa belajar banyak hal, baik itu bersifat positif maupun negatif.

Fenomena balap liar ini sebenarnya bukan hal yang asing lagi untuk masyarakat. Malahan bagi sebagian kalangan telah menjadi hiburan tersendiri. Bila dilihat dari segi penyebabnya, terdapat beberapa faktor yang menyebabkan remaja melakukan balapan liar:

  1. Faktor internal;

a.Kepribadian; faktor-faktor yang mempengaruhi anak muda atau remaja masuk ke dalam dunia balap liar dikarenakan tidak mempunyai seseorang sebagai panutan dalam memahami dan meresapi tata nilai atau norma-norma yang berlaku dimasyarakat. Kondisi semacam ini lazim disebut sebagai hasil proses sosialisasi yang tidak sempurna. Akibatnya, ia tidak bisa membedakan hal-hal yang baik ataupun yang buruk, benar atau salah, pantas atau tidak pantas, dan sebagainya. Adapun di samping itu pengaruh lingkungan kehidupan sosial yang tidak baik, misalnya lingkungan yang dekat dengan arena balap liar , mempunyai teman-teman yang biasa dengan balap liar, dan yang terutama kurangnya perhatian dari orang tua.

Dan yang paling penting para remaja tersebut memiliki hobi balap namun hobi tersebut tidak tersalurkan dengan baik karena minimnya dana atau sarana dan prasarana arena balap yang resmi. Kepribadian adalah suatu organisasi yang dinamis pada system psikosomatis dalam individu yang turut menentukan caranya yang unik dalam menyesuaikan dirinya dengan lingkungannya (biasanya disebut karakter psikisnya). Pada periode ini, seseorang meninggalkan masa anak-anak untuk menuju masa dewasa. Masa ini dirasakan sebagai suatu krisis identitas karena belum adanya pegangan, sementara kepribadian mental untuk menghindari timbulnya kenakalan remaja atau perilaku menyimpang.

  1. Faktor prestise; prestise merupakan bentuk sanjungan atau pujian yang diberikan kepada seseorang yang telah melakukan atau berbuat sesuatu. Faktor pretise ini adalah  suatu faktor yang menjadi penyebab mengapa seorang terlibat dalam aksi balapan liar. Prestise ini terkadang membuat orang yang memperolehnya akan mengulanginya, sehingga dia memperoleh prestise atau sanjungan tersebut.
  2. Faktor status dan peranannya di masyarakat; status seorang anak atau remaja tidak pernah lepas dari kehidupan bermasyarakat. Apabila cerminan terhadap remaja dari masyarakat itu baik, maka baik lah status remaja tersebut. Apabila tidak maka tidak baik lah anak remaja tersebut. Perilaku seseorang yang dianggap sebagai perilaku menyimpang akan diberi label oleh masyarakat yang disebabkan adanya perbedaan interpretasi antara individu dengan masyarakat sekitar.

Contoh, seseorang yang pernah berbuat menyimpang terhadap hukum yang berlaku, setelah selesai menjalankan proses sanksi hukum (keluar dari penjara), sering kali pada saat kembali kemasyarakat status atau sebutan “eks narapidana” yang diberikan oleh masyarakat sulit terhapuskan sehingga anak tersebut kembali melakukan tindakan penyimpangan hokum karena meresa tertolak dan terasingkan.

  1. Faktor kepuasan; salah satu faktor yang menjadi penyebab maraknya aksi balapan liar adalah adanya kepuasan tersendiri ketika orang terlibat dalam aksi balapan liar. Apalagi bisa menghasilkan uang dari hasil taruhan. Salah satu maraknya aksi balapan liar adalah faktor keuangan.
  2. Faktor Ekstern

a). Kondisi lingkungan keluarga; khususnya dikota-kota besar di Indonesia, generasi muda yang orang tuanya disibukan dengan kegiatan bisnis sering mengalami kekosongan batin karena bimbingan dan kasih sayang langsung dari orang tuanya sangat kurang. Kondisi orang tua yang lebih mementingkan karier daripada perhatian kepada anaknya akan menyebabkan munculnya perilaku menyimpang terhadap anaknya. Kasus kenakalan remaja yang muncul pada keluarga kaya bukan karena kurangnya kebutuhan materi melainkan karena kurangnya perhatian dan kasih sayang orang tua kepada anaknya.

b). Kontak sosial dari masyarakat kurang baik atau kurang efektif; apabila pengawasan dari masyarakat terhadap pola perilaku anak muda sekarang kurang berjalan dengan baik, akan memunculkan tindakan penyimpangan terhadap nilai dan norma yang berlaku. Misalnya, mudah menoleransi tindakan anak muda yang menyimpang dari hukum atau norma yang berlaku. 31 Seperti mabuk-mabukan yang dianggap hal yang wajar, tindakan perkelahian antara anak muda dianggap hal yang biasa saja. Sikap kurang tegas dalam menangani tindakan penyimpangan perilaku ini akan semakin meningkatkan kuantitas dan kualitas tindak penyimpangan dikalangan anak muda.

c). Faktor sarana atau fasilitas; sarana atau fasilitas merupakan salah satu faktor yang menyebabkan maraknya aksi balapan liar. Faktor keterjangkauan sarana atau fasilitas yang memadai bagi para pelaku aksi balapan liar untuk menyalurkan hasrat mereka sehingga para pelaku aksi balapan liar menggunakan fasilitas umum atau jalan raya sebagai arena untuk melakukan aksi mereka.

d). Faktor kesenjangan eonomi; kesenjangan ekonomi antara orang kaya dan orang miskin akan mudah memunculkan kecemburuan soSial dan bentuk kecemburuan sosial ini bisa mewujudkan tindakan perusakan, pencurian, dan perampokan. Disintegrasi politik (antara lain terjadinya konflik antar partai politik atau terjadinya peperangan antar kelompok dan perang saudara) dapat mempengaruhi jiwa remaja yang kemudian bisa menimbulkan tindakan-tindakan menyimpang.

e). Faktor perubahan sosial budaya yang begitu cepat (revolusi). Perkembangan teknologi diberbagai bidang khususnya dalam teknologi komunikasi dan hiburan yang mempercepat arus budaya asing yang masuk akan banyak mempengaruhi pola tingkah laku anak menjadi kurang baik, lebihlebih anak tersebut belum siap mental dan akhlaknya, atau wawasan agamanya masih rendah sehingga mudah berbuat hal-hal yang menyimpang dari tatanan nilai-nilai dan norma yang berlaku.

Akibat dari balap liar adalah  berdampak mengganggu kelancaran jalan raya, mengganggu ketentraman masyarakat sekitar akibat suara kenalpot,merugikan orang tua dan Membuat orang tua khawatir,dapat memicu terjadinya tawuran antar geng motor,sering terjadinya pelanggaran norma, memicu terjadinya taruhan dan perjudian, menyumbang angka kecelakaan lalu lintas, dan dampak terberat adalah kehilangan nyawa, dan lainnya.

Aksi balapan liar dapat diminimalisir maupun diberantas diantaranya adalah :

  1. Polisi harus sering melakukan razia balapan liar di tengah malam karena dapat membahayakan masyarakat yang melintas dan menindak tegas pelaku agar jera dan tidak mengulangi perbuatannya di kemudian hari.
  2. Sementara pihak sekolah harus memantau perilaku anak didiknya dan memberikan peringatan keras bagi yang ketahuan melakukan balapan liar. Selain itu pihak sekolah harus memberikan dan mewajibkan bagi setiap murid untuk mengikuti kegiatan ekstrakulikuler agar waktu luang para siswa dapat diisi dengan kegiatan yang lebih bermanfaat. Jikalau banyak waktu yang para siswa habiskan dengan kegiatan yang bermanfaat, niscaya mereka akan lelah kemudian beristirahat dan tidak sempat memikirkan hal-hal yang cenderung negative.
  3. Yang sangat penting adalah upaya preventif yang harus dimulai dari lingkungan keluarga. Dimana para orang tua harus memberikan waktu lebih untuk memantau dan memberi perhatian kepada anaknya agar anak mendapat kasih saying yang cukup. Juga dengan memberikan nasihat dan sanksi apabila anak melakukan kesalahan. Selain itu orang tua harus menciptakan lingkungan keluarga yang kondusif dan harmonis agar anak dapat betah berada di rumah.[]
Komentar
Sedang Loading...
Memuat