HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Terlanjur Tauhid

Tauhid. (Foto: Blogspot)
274

OLEH karena ‘terlanjur’ bicara mengenai ketauhidan di beberapa status, maka oleh beberapa teman mayanya Her dianggap arif di bidang agama. Hingga, suatu malam, seorang gadis cantik mengirim chat, “Selamat malam, Ustazd.”

“Selamat malam juga, Sahabat. Apa kabar?” balas Her (tanpa mempermasalahkan panggilan ‘ustazd’ itu, meski ia agak risi).

“Kabar baik. Semoga Ustazd juga demikian. Mau mengajak bincang-bincang tentang ‘tuhan’, jika Bapak berkenan.”

“Baik. Tak apa. Silakan. Tapi hanya semampu saya, ya,” balas Ustazd, eh, Her.

“Sebagai orang yang beragama, tentu Pak Her percaya pada Tuhan, kan?”

“Tidak. Saya tidak percaya pada Tuhan,” balas Her. Orang yang sejak remajanya tumbuh di Dayah ini sengaja membalas demikian karena tahu, Sang Teman adalah salah satu di antara belasan penganut atheis di jejaring pertemanan sosial medianya.

Apakah itu sebuah kepura-puraan, atau semacam penyusupan? Tidak. Her tidak berpikir demikian saat menjawab itu. Lelaki empatpuluhan ini corrected orangnya; tak mau ‘mengkhianati’ orang lain, meski sebatas di wilayah-rasa dalam hati.

Ketika menjawab, “Tidak. Saya tidak percaya pada Tuhan,” itu spontan, tanpa dipikirkan. Namun yang paling ia sadari, ia selalu ingin menyatu dengan setiap orang yang mengajaknya berdialog, kendati untuk itu ia terkadang harus berkorban sikap dan idealismenya.

“Tapi Bapak menganut agama, kan?” tanya gadis cantik berambut kepirangan (berdasarkan foto-foto yang dia upload di FB-nya) itu.

“Ya. Agama adalah wilayah tata cara berkehidupan; beda agama, beda hukum-hukumnya. Sedangkan menyangkut ‘tuhan’, itu wilayah ketauhidan. Ini bersifat lintas agama. Dia tidak terikat dengan syariat apa pun, dia persoalan hakikat, di mana, atheis pun bisa masuk ke area ini.”

“Ustazd tahu saya atheis?”

“Ya, dari postingan-postingan Anda.”

“Kenapa Bapak tidak pernah memprotes saya? Malah Ustazd sering menge’like’ status-status saya.”

“Ya, itu karena, meski kita sama-sama atheis, namun beda cara memahami atau, mendalami persoalan.”

“Apanya yang beda, Ustazd, Bapak? Saya tiba-tiba jadi penasaran nih.”

“Anda tidak percaya adanya Tuhan, dan tak meragukan sedikit pun mengenai itu. Nah, saya, dulu, waktu masih menjadi santri di Dayah, percaya bahwa Tuhan ada. Namun, diam-diam, di tengah kepercayaan itu terselip sedikit keraguan; jangan-jangan, Tuhan yang diyakini ada, malah tidak ada. Nah, sekarang, ketika saya dewasa, saya menjadi orang yang tidak percaya adanya Tuhan. Namun, diam-diam, di tengah ketidakpercayaan itu terselip sedikit keraguan; jangan-jangan, Tuhan yang saya yakini tidak ada, malah ada.”

“Oh, jujur, harus saya akui. Kadang-kadang, di saat-saat tertentu, saya juga begitu, Ustazd.”

“Begitu bagaimana?”

“Jujur, kadang, diam-diam, di tengah ketidakpercayaan saya pada ‘tuhan’, terselip sedikit keraguan; jangan-jangan, Tuhan yang saya yakini tidak ada, malah ada.”

‘Nah, kan?’ kata Her dalam hati. Kemudian menulis kata-kata itu di chat balasan, “Nah, kan?”

Si Sahabat membalas dengan emotikon: ” ^_^ ”

Jika, barangkali, kelak di suatu hari si Sahabat yang cantik itu dipersatukan dengan Her dalam sebuah lembaga rumah tangga, mungkin di malam pertama, si gadis berkata, “Tuhan mempersatukan kita karena kita sama-sama tidak percaya pada-Nya.”

Saat itu, boleh jadi, Her yang tampan itu membalas, “Kau menyayangi aku. Aku menyayangi kamu. Aku dapat merabamu. Kau dapat merabaku. Kita begitu dekat. Kita menyatu begitu rapat. Kelak, sampai kau hamil dan melahirkan anak kita, kita yakin bahwa semua ini disebabkan cinta. Namun, sampai kapan pun kita tak bisa meraba dewi asmara itu. Kita boleh bersikukuh bahwa dewi asmara hanya delusi, namun bayi montok yang secantik kamu ini adalah realita….

“Kosmonot bolak-balik ke angkasa luar, namun tak pernah bertemu Tuhan; seorang dokter berkali-kali membedah otak para pasien, namun belum pernah melihat pikiran; kau dan aku berpelukan di malam pertama, namun sejak tadi kita tak melihat cinta bergentayangan di kamar ini….

“Dewi Asmara itu tidak ada kalau kita ingin menyaksikannya dalam wujud pecitraan tertentu, karena dia menyatu dengan segenap isi kamar ini, dalam segenap rasa antara kau dan aku, bahkan dalam kornea mata saat kita bersitatap. Malah dia ada dalam kalimat ketika kau bersikukuh mengatakan, ‘Dewi Asmara itu hanya delusi.’ Lalu, saking gemasnya, Dewi Asmara mengatup bibirmu. Tentu, dengan bibirku.”

Komentar
Sedang Loading...
Memuat