HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Tak Ada Kecerdasan, Yang Ada Hanya Keberanian Pok Tembok

ilustrasi
278

ABU, orang tua bijak kampung itu, tadi sore ditanyai seorang pemuda sedesa yang biasa berdialog dengannya.

“Kita sering mendengar orang menyebut ‘kerja-kerja-kerja’, eh, sorry, Abu. Maksudku ‘cerdas’, ‘cerdas’, ‘cerdas’. Kadang aku acap berpikir, apa sih ‘kecerdasan’ itu.”

“Tak ada kecerdasan. Yang ada hanya keberanian berpikir bebas melewati tembok pemikiran yang pernah dibangun orang sebelumnya.”

“Hmmm….”

“Dan itu sesuai dengan tujuan utama Allah SWT menganugerahkan pikiran kepada manusia; kau boleh menyebutnya sebagai ‘berpikir liar’. Atau, ‘berani berpikir liar’.”

“Eh?”

“Itu sesuai dengan penekanan Allah SWT dalam al-Qu’an yang di sejumlah ayat diawali atau diakhiri dengan, ‘Tidakkah kamu pikirkan?! Tidakkah kamu pikirkan?! Tidakkah kamu pikirkan?!’”

“Hmmm….”

“Jika kamu membentengi pikiranmu hanya sebatas wilayah tembok-tembok pikiran yang telah dibangun orang lain, maka kita tak lebih dari penganut suatu aliran pikiran yang membuat pikiran sendiri hanya sebatas berfungsi untuk ‘memikirkan pikiran orang lain, tidak menemukan hasil pikiran sendiri.’”

“Abu menuntut semua orang harus menjadi orang yang menghasilkan aliran pikiran sendiri?”

“Apakah saya mengatakan itu?”

“Saya memahaminya begitu.”

“Yach…, kalau begitu, mungkin saja saya memang begitu ya; menuntut setiap orang harus menghasilkan aliran pikiran sendiri, berani ‘pok tembok’ (menghantam/mendobrak-red) bangunan pemikiran orang lain.”

“Tapi, Abu, kenyataan bahwa Allah SWT tidak melahirkan manusia yang semuanya adalah pemikir. Di setiap komunitas, atau di setiap wilayah, atau di setiap era/zaman, pemikir hanya ada beberapa, selebihnya hanyalah pengikut atau publik yang menikmati hidup di atas aliran pemikiran itu.”

“Iya juga, ya.”

“Berarti Abu tidak berpikir.”

“Bukan aku tidak berpikir. Tapi pikiranku hanya sebatas itu. Sedangkan pikiranmu lebih dari pikiranku. Berarti kamu lebih cerdas dariku.”

“Berarti ada dong yang namanya kecerdasan itu. Tidak seperti Abu bilang tadi.”

“Tidak. Tidak ada kecerdasan.”

“Tapi barusan Abu bilang aku lebih cerdas dari Abu.”

“Tidak. Tidak ada kecerdasan. Yang ada hanya keberanian berpikir bebas melewati tembok pemikiran yang telah dibangun ‘abu’, yakni sesuai dengan tujuan utama Allah SWT menganugerahkan pikiran kepadamu; kau boleh menyebut itu sebagai ‘berpikir liar’, atau ‘berani berpikir liar’.

Itu sesuai penekanan Allah SWT dalam al-Qu’an yang di sejumlah ayat diawali atau diakhiri dengan, ‘Tidakkah kamu pikirkan?! Tidakkah kamu pikirkan?! Tidakkah kamu pikirkan?!’ Jika kamu membatasi pikiranmu hanya sebatas dalam wilayah tembok-tembok pikiran yang telah dibangun ‘abu’-mu ini, maka kau tak lebih dari penganut suatu aliran pikiran yang membuat pikiran sendiri hanya sebatas berfungsi untuk ‘memikirkan pikiran ‘abu’, tidak menemukan hasil pikiran sendiri’.

Kalau kenyataannya begitu, berarti kamu cocok—salah satunya, misalnya—hanya sebagai penggenap hitungan massa dalam sebuah perhelatan unjuk rasa.”

“Berarti aku harus selalu berani menentang Abu?”

“Iya. Dengan harapan—”

“Dengan harapan apa?”

“Semoga kamu tidak konyol saja nanti.” (***)

 

 

 

Komentar
Sedang Loading...
Memuat