HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Warung Kopi: Tongkrongan Eksis Kaula Muda Aceh

16

Oleh: Fina Agustia Zain[1]

HARIANACEH.co.id – ACEH adalah daerah sejuta warung kopi, sebutan yang memang pantas disandang oleh “Bumi Rencong” ini. Rasanya bukanlah hal yang berlebihan jika menyebut Aceh sebagai salah satu daerah penghasil kopi terbaik di Dunia. Masyarakat di beberapa wilayah Aceh memilih untuk membuka lahan perkebunan kopi sebagai mata pencaharian utamanya, terlebih lagi wilayah itu cukup strategis untuk berkebun.

Sebut saja kopi Arabika Gayo yang sudah mendapatkan pengakuan akan kenikmatan cita rasa kopinya dari Organisasi pecinta kopi di berbagai belahan dunia, salah satunya adalah pengakuan dari Specialty Coffee Association of America (SCAA) pada pameren kopi dunia 2011 silam. Cita rasa dan kualitas kopi dari petani Aceh telah membuat daerah ini mampu mempertahankan eksistensinya sebagai salah satu penghasil kopi terbaik.

Esensi Budaya Minum Kopi di Aceh

Minum kopi dalam budaya Aceh tidak hanya sekedar meneguk kopi saat Breaktime, tapi dari secangkir kopi inilah tersirat berbagai makna dan tujuan. Seperti halnya menyuguhkan kopi kepada tamu yang datang khususnya laki-laki, merupakan hal yang ‘wajib hukumnya’.

Hal ini menandakan sopan santun dan memperlihatkan maksud baik sang pemilik rumah dalam menyambut tamu. Begitu pula dengan arti ajakan ngopi yang mengandung konotasi berupa ungkapan untuk membicarakan sesuatu yang penting atau hendak menyambung tali silaturrahmi dengan orang yang sudah lama tak bertemu. Sehingga minum kopi bukan sembarang rutinitas, tapi ia memiliki esensi tersendiri dalam budaya di masyarakat Aceh.

Benar bahwasannya tradisi minum kopi ini telah berkembang secara turun temurun. Namun, cepatnya laju globalisasi tak menjadi pengikis budaya ngopi yang telah ada sejak zaman kesultanan di Aceh. Eksistensi warung kopi yang tetap terjaga bukan hanya karena ia telah membudaya, tapi juga didorong oleh berbagai kemajuan teknologi dan tangan kreatif para pengusaha muda dalam mengembangkan warung kopi sehingga tak tergilas oleh modernisasi.

Transformasi Konsumen dan Warkop dalam Mengikuti Modernisasi Zaman

Dahulu jika kita melihat warung kopi di Aceh, tentunya akan identik dengan bangunan sederhana, didominasi oleh perabotan berbahan kayu dan beratapkan anyam daun sagu. Namun lain hal nya dengan sekarang, kini warung kopi dengan arsitektur menarik telah menjamur di berbagai wilayah perkotaan di Aceh.

Para pengusaha muda berlomba-lomba dalam meningkatkan keindahan dan fasilitas yang dapat menarik pelanggan. Beberapa perubahan sangat tampak pada desain interior dan fasilitas wi-fi yang ditawarkan oleh hampir semua warung kopi. Sehingga warung kopi menjadi salah satu tempat yang paling banyak dikunjungi oleh masyarakat era modern ini. Dan tentunya sasaran konsumen menjadi lebih luas, tak hanya berpusat pada laki-laki atau orang tua saja.

Sasaran pasar warung kopi tak lagi berbatas usia maupun gender. Meskipun masih didominasi oleh kaum laki-laki, tapi konsumen di tempat ini kini lebih general. Jika dibanding dengan dulu yang bisa dikatakan warung kopi bukanlah tempat nongkrongnya anak muda apalagi kaum hawa. Keadaan ini sangat berbeda dengan sekarang, dimana sekarang dapat kita lihat hampir semua warung kopi didominasi oleh kaum muda, terutama mahasiswa yang sibuk berkutat dengan laptopnya.

Bahkan perempuan juga menggemari warung kopi sebagai tempat untuk bersantai dan berbincang-bincang, meskipun hal ini belum sepenuhnya diterima di masyarakat, karena sejak dulu warung kopi telah identik dengan ‘Bapak-bapak’. Namun itu tak lagi menjadi hambatan bagi kaum hawa mengingat transformasi warung kopi lah yang telah membawa perubahan pada generalisasi konsumennya. Sehingga warung kopi menjadi tempat yang nyaman dan dapat menjangkau segala usia dan gender sebagai konsumen.

Ngopi tak lagi jadi Tujuan Utama

Warung kopi di Aceh tersebar dan telah memiliki pelanggannya masing-masing, dalam artiannya ngopi sudah tidak lagi menjadi tujuan utama konsumen, tapi konsumen akan cenderung memilih warung kopi yang memiliki fasilitas yang sesuai dengan tujuannya. Misalnya saja pada pelajar atau mahasiswa yang hendak mengerjakan tugas, tentunya akan mencari warung kopi dengan fasilitas wi-fi maksimal dan furnitur yang cukup ergonomis untuk mendorong produktifitas.

Sedangkan pada kaum hawa kebanyakan akan mencari warung kopi dengan desain interior yang unik dan nyaman, belum lagi ditambah dengan maraknya strategi marketing berupa photo contest via social media yang kian membuat ngopi jadi populer. Maka dapat dikatakan nongkrong di warung kopi sudah menjadi gaya hidup kaula muda Aceh.

Meski di bulan Ramadhan, warung kopi tetap menjadi tempat yang nyaman untuk beraktifitas selepas menunaikan ibadah tarawih. Banyak dari kaum muda yang notabenenya mahasiswa mengerjakan tugas kuliah yang sudah dekat dengan dead-line nya,  atau mungkin sekedar duduk untuk menikmati malam kota Madani sembari menyeruput kopi hangat dengan ditemani perbincangan ringan dan sekedar menambah teman.

Warung kopi pun telah menjadi saksi berbagai transaksi dan sarana membangun relasi. Kini hampir semua kegiatan atau pertemuan dapat dilakukan di tempat ini, baik itu rapat, reuni, bahkan membangun pertemanan dengan orang yang baru dijumpai. Inilah alasan mengapa budaya ngopi tak akan mudah memudar.

Eksistensi yang ada akan terus terjaga dengan transformasi yang berkembangan beriringan dengan perubahan trend melalui tangan kreatif rakyat Aceh sendiri. Dan pantas jika warung kopi disebut sebagai tongkrongan yang eksis dikalangan kaum muda Aceh.[]


CATATAN KAKI:
  1.  Mahasiswi Jurusan Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala
loading...