HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Dua Irisan Sawo, atau Dua Biji Kurma

ilustrasi-kurma (foto: republika)
310

“ORANG KAYA adalah bintang iklan gratis bagi semua produk dagang. Tapi, tentu saja, ini berlaku antarsesama orang kaya. Misalnya, ketika yang satu membeli sebuah produk, yang lain segera mengikutinya.”

“Ya, misalnya, seorang kaya membeli selembar sajadah baru yang paling keren dan mahal, segera orang kaya lain berlomba membelinya.”

“Betul, Abu. Bukan hanya sajadah, tapi juga mobil, motor dan segala perangkat rumah tangga.”

“Pedagang amat diuntungkan oleh keberadaan orang-orang kaya. Oya, ketika seorang pedagang berdoa, ‘Ya Allah, mudahkanlah rezeki hamba,’ itu secara tidak langsung ia berdoa agar masyarakat di sekelilingnya menjadi orang-orang kaya.”

“Oh, Abu. Benar sekali. Semoga Allah selalu menerima doa para pedagang. Dan aku berharap, di antara doa-doa mereka, doa salah satu di antaranya menimpaku, sehingga aku akan menjadi orang kaya dan, membeli barang-barang mereka. Ya Allah, kabulkanlah doa-doa para pedagang kami.”

“Betapa beruntungnya jadi pedagang; sudah banyak untung, didoakan pula. Oya, tadi katamu, orang kaya adalah bintang iklan gratis bagi semua produk dagang.”

“Betul, Abu. Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasallam juga ikut dijadikan bintang iklan gratis oleh pedagang. Dan, satu hadis beliau cukup dijadikan teks iklan itu, lalu suatu komoditas perkebunan laku keras di seluruh dunia.”

“Uh, betul? Aduh! Apakah itu? Jangan asal-asalan kamu. Awas!” respon Abu disertai penasaran stadium tinggi, juga sembari mengepalkan tangannya, yang artinya, jika nanti sedikit saja terdapat jawaban berlatarbelakang analogi sesat, uppercut-nya—yang selagi muda terkenal amat mematikan—siap mendarat (dengan selamat) di rahang si anak muda.

Dengan hati-hati, sambil menyeringai khawatir, juga sambil menyaring ketat setiap kalimat yang keluar dari mulutnya, pemuda yang juga berstatus mahasiswa itu menjelaskan: bahwa alam bersifat mendukung terhadap kehidupan manusia di sekitarnya. Atau, sebaliknya, bahwa di mana ada kehidupan manusia, di sekitar itu ada berbagai tetumbuhan dan fauna yang bersifat menyokong kehidupan si manusia.

Misalnya, sambung si mahasiswa semakin hati-hati, di Aceh ada kerbau dan kuda; di Arab ada keledai dan unta. Di Aceh ada buah sawo dan minyak kelapa; di Arab ada minyak zaitun dan buah kurma. Kerbau, kuda, buah sawo dan minyak kelapa adalah anugerah alam untuk orang Aceh. Buah kurma, minyak zaitun, keledai dan unta adalah anugerah alam untuk orang Arab.

Sebatas di paparan itu, lidah si anak muda seketika tercekat. Ia tiba-tiba diam, tak tahu harus melanjutkan bagaimana. Sementara itu sudut matanya terus mengerling kepalan tangan Abu.

“Betul seperti katamu. Tapi maksudmu apa?” tanya Abu dengan kepalan tangan yang sepertinya agak dikendurkan mengingat hal itu tampaknya cukup mengintimidasi bagi si anak muda.

“Bahwa,” sambung anak muda itu dengan keberanian baru, “buah kurma itu sangat baik untuk orang Arab, dan buah sawo sangat baik untuk orang Aceh. Nabi menyunatkan berbuka puasa dengan buah kurma karena di Arab tidak ada buah sawo. Seandainya buah kurma hanya tumbuh di Aceh dan buah sawo hanya tumbuh di Arab, tentu Rasululllah akan menyunatkan berbuka puasa dengan buah sawo.”

“Jadi, maksudmu, orang Arab yang pada dasarnya berjiwa dagang itu telah memanfaatkan hadis Nabi yang menyunatkan berbuka puasa dengan kurma lalu mengekspor buah itu ke seluruh dunia?” tanya Abu dengan kepalan tangan yang diketatkan kembali disertai sinar mata menyala.

“Sorry, Abu. Maksud saya memang begitu,” jawab si anak muda seraya dengan tangkasnya mengambil start dan seketika melesat bagai anak panah lari mengambil langkah seribu dari meja warung terbuka tepian kampung tempat mereka berencana bubar (buka puasa bareng).

“Woi! Gam! Berhenti kau!” teriak Abu. “Sini-mari! Mana ada main lari-lari begitu. Siapa pula yang mau meninju kau. Ada-ada saja kamu. Sini, selesaikan diskusi kita.”

Si anak muda berbalik, namun tak duduk sedekat tadi di samping Abu. Dia menggeserkan kursinya agak jauh dari meja.

“Mari kubilang ya,” kata Abu setelah pemuda itu mendekat, dengan telapak tangan yang samasekali tak dikepalnya lagi.

“Memang apa yang kamu bilang tak sepenuhnya keliru, orang Arab telah ikut memanfaatkan Islam untuk perkara di wilayah bisnis. Tapi itu sepenuhnya hak mereka, dan kita harus iklas. Mengingat, di awal-awal terbangunnya agama mulia ini, mereka sudah sangat banyak berkorban harta, tenaga dan nyawa. Tanpa itu, orang Aceh entah menganut agama apa sekarang.”

“Cas Abu!!!” teriak anak muda itu tiba-tiba, tanda menyetujui argumen Abu.

Plakkkkkkk! Mereka melakukan cas bagai dua orang yang sama-sama muda. Lalu, tepat di saat itu, sirene berbuka meraung dari mik lonceng di puncak bubung meunasah desa itu. Dan, mereka pun berbuka puasa dengan dua irisan buah sawo, eh, dua biji kurma, plus minuman inspiratif kopi Arabica Gayo. (***)

Komentar
Sedang Loading...
Memuat