HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Hati-hati Dengan Tanda Koma

Ilustrasi Tanda Baca (Foto: Google)
285

Semua yang tertulis di buku itu, tidak penting. Artinya: semua yang tertulis di buku yang dimaksud itu, tidak penting. Nah, kini, “Semua yang tertulis di buku, itu tidak penting.” Artinya: semua yang tertulis di buku manapun, itu tidak penting.

Hanya karena letak koma maka makna berubah. Yang satu, komanya terletak setelah kata ‘itu’ (berarti satu buku); yang satu lagi sebelum kata ‘itu’ (berarti semua buku).

Namun yang ingin dikatakan di sini bukan itu. Tapi, bahwa semua yang tertulis dalam sebuah buku, itu tidak penting. Yang terpenting adalah apa yang berubah pada diri kita, atau apa yang bermain-main dalam pikiran kita setelah membaca sebuah buku.

Oya, rata-rata, orang yang banyak membaca buku, punya ambisi untuk membuka taman baca gratis, baik di ruang publik kampungnya, ruang publik kotanya, atau bahkan di halaman rumahnya. Kenapa? Karena, dia sudah merasakan betapa beruntungnya orang yang banyak membaca dan, selanjutnya dia ingin juga orang lain menikmati keberuntungan yang sama.

Apa yang biasanya terjadi pada orang yang banyak membaca? Jawabnya adalah: perubahan. Katakanlah, secara umum, yakni berubah akan ianya dari seorang yang berwawasan sempit ke seorang berwawasan luas.

Kembali ke pertanyaan di atas, kenapa orang yang banyak membaca menginginkan orang lain pun banyak membaca? Ternyata jawabannya bukan hanya soal keberuntungan yang dirasakan seorang yang banyak membaca di mana kemudian dia menginginkan juga orang lain menikmati keberuntungan yang sama. Tidak. Tapi, rupanya, hidup dengan wawasan luas di tengah orang-orang berwawasan sempit, itu musibah.

Bentuk musibah yang dirasakan orang berwawasan luas di tengah orang-orang berwawasan sempit, sebut saja “alienasi”. Yakni, keterasingan (dari komunitas hidupnya). Si intelek itu bisa saja terlihat selalu ada dalam kawanan orang-orang selingkungannya. Tapi, di situ, dia tak lebih dari pengikut orang ramai.

Atau, dengan kata lain, dia harus selalu menyesuaikan segala apa yang dia cakapkan dengan kemampuan pencernaan orang-orang sekeliling. Yang lebih ekstrim, dia malah tak bisa bicara apa-apa; hanya hidup sebagai pendengar atau pengangguk terus- menerus sepanjang hidupnya (yang disebabkan keperbedaan luas wawasan dengan orang- orang seputarnya).

Rasulullah Muhammad SAW juga mengalami keteralienasian serupa pada awal-awal sebelum memulai langkah penebaran risalah barunya. Beliau coba- coba mempersatukan perspektif dengan Abu Bakar radziallahu ‘anh. Memang bukan dengan mengajak Abu Bakar banyak membaca buku. Tapi dengan diskusi (sebagaimana juga Rasulullah suka berdiskusi dengan para Ahli Kitab sewaktu masih remajanya). Rupanya Abu Bakar tergugah, minimal, merasa ia pernah memikirkan itu jauh sebelumnya namun tak pernah mengerucut mengkristal sebagai sebuah wawasan, atau sudut pandang.

Nah, sebagaimana Rasulullah SAW pernah mengalami ‘musibah’ alienasi intelektual dan lalu mengajak para Sahabat (pada awal-awal menjelang pergerakan) memikirkan hal serupa, begitu juga dengan orang- orang yang intelektualnya teralienasi gara-gara banyak membaca buku dan lalu mengajak orang lain banyak membaca agar: “musibah itu tidak hanya tertelan sendiri”.

Kembali ke soal “letak-koma- menentukan-makna”. Di baris penghabisan di salah satu paragraf di atas, kita baru saja menapak di atas kali kalimat yang berbunyi, “Hidup dengan wawasan luas di tengah orang- orang berwawasan sempit, itu musibah.” Makna “orang-orang berwawasan sempit” di kalimat tersebut bersifat “orang-orang berwawasan sempit yang ada di mana-mana (di dunia ini)”.

Coba jika koma di kalimat tersebut kita letakkan setelah kata ‘itu’: “Hidup dengan wawasan luas di tengah orang-orang berwawasan sempit itu, musibah.” Maka makna “orang-orang berwawasan sempit” di kalimat ini bersifat mengarah pada sekelompok orang berwawasan sempit tertentu, alias khusus, atau teridentifikasi.

Tapi, Abu, agaknya bukan hanya letak koma yang membikin makna berubah, tapi bacaan-bacaan yang tidak tepat juga bikin wawasan bukan malah bertambah.

“Ya, kamu betul.”

“Seperti orang yang banyak membaca berita hoax, misalnya.”

“Berarti otaknya penuh dengan—”

“Wawasan yang menyesatkan.”

“Kamu benar.”

“Oya, Abu. Mau tanya nih.”

“Ya, lanjut.”

“Kenapa Abu banyak sekali membaca buku?

“Karena alasan di atas tadi. Demi memperluas wawasan.”

“Saya sepertinya mencurigai satu alasan lain yang tak hanya sebatas itu.”

“Ya, kamu betul.”

“Apakah itu?”

“Tapi ceritanya tadi kan kamu sudah tahu?”

“Hanya curiga, tapi tak tahu alasan persisnya.”

“Ya. Sebagaimana kau lihat, Taman Baca di halaman rumahku hanya ramai dikunjungi anak-anak, yang notabene adalah generasi di bawah kita. Alhamdulillah, kita patut syukuri itu. Namun di sisi lain, pada akhirnya aku sadar, aku ternyata tak mampu mempengaruhi orang-orang yang sebaya denganku di lingkungan kehidupan kita ini untuk gemar membaca. Mereka tak ingin beranjak dari wilayah nyaman yang mereka nikmati selama ini.

“Banyak membaca, (koma) itu mengandung risiko. Banyak membaca itu, (koma) mengandung risiko. Sorry, Gam, ini kasus letak koma yang tak mengubah makna. Di ‘banyak membaca itu mengandung risiko’, tanda komanya bisa terletak di mana saja, setelah kata ‘itu’ atau sebelumnya. Penekanan dalam kalimat ini hanya pada ‘banyak membaca’.

“Kuulangi, ‘banyak membaca itu mengandung risiko’. Kau merasa aman hidup dalam ketidaktahuan bahwa kebodohan sedang menjajah kita. Namun setelah banyak membaca, kau semakin tahu bahwa betapa banyak buku yang belum kau baca. Ini membuatmu merasa harus bergerak-bergerak- bergerak, mencari buku-mencari buku-mencari buku, membaca-membaca- membaca. Dan, tentu saja, itu membuat hidupmu tak tenang lagi, bukan?

“Jadi, bagi orang yang nyaman hidup dalam kebodohan, banyak membaca itu adalah musibah. Ingat, mengetahui (sesuatu) itu terkadang musibah, dibandingkan tidak mengetahui apa-apa bagai sebelumnya.

“Pada suatu malam Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wassalam bersama rombongan hendak pulang dari

berperang. Nabi memerintahkan memukul genderang saat rombongan hampir mencapai batas kota. Kenapa? Yakni agar orang-orang di dalam kota tahu, bahwa orang-orang yang selama ini pergi bertempur sudah pulang. Namun begitu, Rasulullah tetap memerintahkan agar rombongan menginap di batas kota untuk satu malam lagi. Tidak langsung pulan ke rumah. Kau tahu, kenapa?”

“Tahu, Abu.”

“Kenapa?”

“Bagi seorang lelaki yang sudah lama meninggalkan istrinya, maka ketika pulang, hendaknya ia tidak langsung pulang ke rumah. Ia harus memastikan dulu bahwa istrinya benar-benar sudah tahu bahwa ia akan segera pulang. Yang pertama, agar sang istri bisa berbenah. Yang kedua—ini yang barangkali cukup penting- agar jika ada hal-hal yang mencurigakan yang terjadi selama suaminya tidak ada di rumah, segera bisa dibersihkan.”

“Ya, betul. Dan, pernahkah kamu mengira betapa Rasulullah selalu sempat berpikir terhadap hal-hal sedetil itu?”

“Sallallahu ‘Alaihi Wassalam. Benar, Abu. Subhanallah. Betapa detilnya cara Rasulullah berpikir. Subhanallah….”

“Yach, begitulah. Mengetahui istrimu berselingkuh, itu musibah. Makanya, dalam sebuah masyarakat, jika seorang istri berselingkuh, orang yang paling terakhir tahu adalah suaminya. Itu karena orang-orang tidak mau memberitahu si suami. Atau dengan kata lain, masyarakat berharap si suami tetap tidak tahu hal itu sampai istrinya lambat-laun berbenar untuk mengambil sikap mengakhiri semua perselingkuhannya.”

“Jangan panjang-panjang tentang ini, Abu. Meski bagaimana, ini mengarahkan pikiranku ke hubungan mesra. Aku belum kawin. Mana sedang berpuasa pula begini. Imajinasi cepat kali jisambui.”

“Oke, sorry. Jadi, intinya, mengetahui (sesuatu) itu terkadang musibah, dibandingkan tidak mengetahui

apa-apa bagai sebelumnya. Berangkat dari inilah terkadang betapa berat memilih untuk menjadi orang yang banyak tahu, terutama dengan gemar membaca. Lalu, akhirnya, untuk orang-orang yang seusia denganku di lingkungan kita ini, aku nekat mengambil tanggung jawab itu sendiri. Membaca untuk sendiri, juga untuk kau Gam, dan untuk kita semua. Dan—”

“Tidak pernah mengabaikan tanda baca, meski hanya sekedar koma.” (***)

 

Komentar
Sedang Loading...
Memuat