HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Agama, Politik, Omong Kosong dan Pangkal Paha Seorang Mahasiswi

20

“Sssssssttt,” bisik seorang mahasiswi pada temannya. “Ada yang sedang berselingkuh di pustaka,” katanya.

Si teman yang dibisiki, tanpa menunggu detik, bergegas menuju gedung pustaka dengan langkah- langkah membal agar tidak menyisakan bunyi di lantai.

Lewat sudut jendela paling belakang, ia mengintip hati- hati ke ruangan perpustkaan. Disorotnya tatapan ke segala sudut. Diulangi sorotan beberapa kali mengitari ruangan dengan tambahan kosentrasi sampai ke area yang tak masuk akal, empat sudut langit-langit.

Akhirnya ia kembali ke teman pembisik, masih dengan langkah hati-hati. Dengan harapan, yang sedang berselingkuh tetap tak terganggu, dan ia akan membuktikannya pada misi intipan kedua setelah mendapatkan detil keterangan TKP dari teman.

“Tidak ada. Semua sedang tekun membaca.”

“Ya. Itulah maksudku. Mereka sedang berselingkuh dengan ilmu pengetahuan.”

“Pukimbeklah kau, Kawan!”

Di hari lain, tiga menit menjelang dosen masuk ruang kuliah, mahasiswi kita kembali berinteraksi dengan si teman. “Jilbabku ditawari tiga puluh mayam emas.”

“Ya Allah. Sama siapa?”

“Toke Jalil pemilik ‘Jalil Swalayan’.”

“Yang betul.”

“Betul.”

“Pasti si konglomerat itu ada niat lain.”

“Ya, tiga puluh mayam, untuk jilbab sekaligus pemiliknya.”

“Nah, kan? Aku mulai cerdas berhadapan dengan ulokmu, kan?”

Di hari lain lagi, sembari jalan kaki berdua melintasi gedung laboratorium, mahasiswi kita bertanya pada temannya, “Apa yang sedang kamu pikirkan, Nora?”

“Aku sedang menanti kecohan apa lagi yang akan kamu timpakan atasku hari ini.”

“Ya, aku tahu. Maka aku bertanya, apa yang sedang kamu pikirkan?”

“Ya, aku sedang memikirkan bahwa aku sedang menanti kecohan apa lagi yang akan kamu timpakan atasku hari ini.”

“Coba konsentrasi dulu, apa yang sedang kamu pikirkan?”

“Ooo, ya-ya-ya. Aku dapat sekarang. Rupanya aku sedang memikirkan bahwa kamu ini persis Facebook dengan keusilan ‘apa-yang-sedang-Anda-pikirkan’ itu.”

“Nah, kan? Kamu hampir terkecoh lagi, kan?”

Dan pada hari yang lain lagi, saat mereka baru usai kuliah—masih di taman hijau komplek kampus—mahasiswi kita bertanya pada temannya itu, “Semalam kamu nyaris tak tidur, kenapa?”

“Kok tahu?”

“Dari bawaan tatapan matamu, sayu-lentur begitu.”

“Tak ada apa-apa. Cuma tak bisa tidur. Terlanjur banyak minum kopi.”

“Tapi tak mungkin tak melakukan apa-apa sepanjang malam,” pancing mahasiswi kita.

“Ya, cuma membaca.”

“Membaca messenger-black, kemudian membalasnya,” pakh’am Suryawati yang membuat Nora tersangak dengan mulut menganga.

“Kok kamu tahu?” Nora kembali deg-degan. Dia yakin, Suryawati pasti akan mempermainkannya lagi.

“Katakan saja dengan jujur, siapa dia?” tanya Sur langsung tanpa tedeng aling-aling.

“Lelaki. Teman baru Facebook. Tampan. Kalimat-kalimat komunikasinya di chatingan, bagus, santun. Sepertinya berwawasan luas.”

“Tapi tak santun seratus persen, kan?” Suryawati mulai memperlihatkan bakatnya.

“Ya, ampun. Maksudmu, Sur?”

“Terakhir dia minta dikirimi foto uram pha (pangkal paha-red) kamu kan? Dan kamu langsung mengirimnya dengan santun, kan? Oh, aduhai, dua pangkal paha dengan posisi agak mengangkang, mmmuach…”

“Ya ampun, Sur! Kok kamu tahu?!”

“Itu kan akun palsuku.”

Seketika langkah Nora terhenti. Ia berdiri tegak mematung, kaku seperti arca. Mulutnya menganga membentuk huruf “O”. Kemudian, lambat laun ia lunglai. Untunglah, manakala Nora hendak ambruk ke tanah, Suryawati sigap merangkul pundaknya.

Pulih dari kehilangan keseimbangan mentalnya, Nora menyerah, “Sejak saat ini aku tak izinkan lagi kamu mengecohku, apalagi sampai jauh menukik hingga ke relung-relung privacy begitu. Kamu ingat itu, Sur? Suryawati?”

“Oke, sippp! Gampang itu. I promise you.”

Tiga bulan berlalu sejak hari itu. Suryawati dan Nora masih akrab seperti biasa. Ke mana-mana tetap berdua. Namun Nora seperti kehilangan gairah hidup.

“Tiap bangun pagi dan hendak memulai hari baru, tak ada lagi yang bikin aku penasaran, apa yang akan menimpaku hari ini akibat kecohanmu. Ini membuatku hampa. Kosong. Membosankan.”

“Kau yakin itu?” tanya Sur serius dengan mata berbinar bagaikan orang yang kembali meraih kemenangan setelah kalah bertubi-tubi dalam kompetisi tiga bulanan.

“Aku yakin. Ayolah, Sur, permainkan aku lagi seperti biasa. Suer. Ini sungguh-sungguh. Aku mohon,” kata Nora bagai kanak-kanak merengek.

“Ternyata betul, kan?” jawab Sur. “Tanpa kecohan-kecohan, dongeng-dongeng, dan hal-hal yang tidak ada artinya, hidup amat membosankan, bukan? Seperti semua agama di dunia, mereka menundukkan umat dengan ibadah-ibadah tambahan yang penuh omong-kosong, namun itu baik sejauh umat merasa nyaman dengan itu.

“Seperti orang-orang parlemen, birokrat, polisi, tentara dan para pemimpin melakukan manuver-manuver politik yang penuh omong kosong, namun itu baik agar mentalitas cinta tanah air di jiwa para kawula negeri tetap berdenyut dan dinamis.

“Seperti sains dengan temuan-temuan mutakhir di bidang pengobatan yang justru lebih menenggelamkan sisi kemanusian; seperti sains dengan temuan-temuan mutakhir di bidang teknologi informasi yang justru lebih memperjarak sisi penyatuan antarmanusia; seperti sains dengan temuan-temuan mutakhir di bidang property yang justru lebih menjauhkan manusia dengan alamnya. Seperti—”

“Seperti aku yang ingin hidup betul-betul tanpa kejahilan dan omong kosongmu tiap hari,” sela Nora nekat.

“Kau Nora, apakah kau benar ingin hidup kita ini kembali berisi hal-hal tidak berguna di sela-sela keseriusan kita menyelesaikan kuliah yang amat mengerikan itu?” tanya Suryawati serius seakan mengacu pada mata kuliah-mata kuliah mereka yang butuh konsentrasi tinggi selaku dua mahasiswi Fakultas Kedokteran.

“Ya,” jawab Nora dengan anggukan lebai seperti kanak-kanak ditawari halwa.

“Ayo kita mulai.”

“Haa? Mulai? Maksudmu?” Nora langsung penasaran.

“Ayo buka tasmu,” kata Suryawati dengan gaya seorang penjual obat kaki lima menyuruh anak buahnya membuka kelambu akrobat di tengah-tengah rasa penasaran massa penonton.

“Haa? Apa? Buka tasku? Maksudmu?”

Jauh pagi, waktu mereka sarapan di kantin tadi, saat itu Nora sekejap meninggalkan meja kopi menuju toilet. Momen itulah dimanfaatkan Suryawati memasukkan sesuatu ke dalam rangser Nora.

“Simsalabin, buka rangsermu.”

“Ya Allah. Kau selalu membuatku hampir pingsan,” gumam Nora dengan tatapan berpindah-pindah antara tangannya yang sedang membuka resleting rangser dan mata Suryawati.

Nora kelihatan agak pucat saat telapak tangannya meraba sesuatu di dalam rangser yang ia yakini benar dan bahkan ia berani bersumpah langit-bumi tak pernah memasukkan itu, samasekali tidak, baik sejak tadi malam, atau tadi pagi saat berkemas-kemas hendak ke kampus.

Lalu ia mengeluarkan pelan-pelan selembar kertas yang agak tebal itu. Rasanya seperti lembaran kertas foto. Ya, ternyata benar-benar selembar foto; berukuran sepuluh inci. Nora menatapnya dengan napas tertahan, kerongkongan tercekat, mata terbelalak, dan mulutnya membuka, menganga, mebulat membetuk huruf “O”. Dia agak lama berdiri terpacak dengan foto itu bagai kaku di tangannya sampai Sur memecah keheningan dengan kata-kata:

“Hanya satu yang diharapkan Siti Aisyah Radzhiallahu ‘Anh kepada setiap perempuan umat Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam, terutama di tengah zaman yang serba tak jelas seperti hari ini: kau harus selalu utuh sebagai sebuah pribadi yang elegan, kuat, tanpa macam-macam, kendati sedang berada seorang diri dalam kamar pribadimu. Terbukalah sejak dalam hati; jujurlah sejak dalam pikiran, di mana pun kau sedang berada, dengan siapa pun kau sedang WhatsAppan, chatingan atau inboxan.”

Mendengar itu, Nora nyaris limbung, dan lembaran foto berisi gambar pangkal pahanya dengan posisi agak mengangkang, jatuh melayang ke tanah.***

loading...
Subscribe to our newsletter
Sign up here to get the latest news, updates and special offers delivered directly to your inbox.
You can unsubscribe at any time