HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Jika Begini, Istri Mana Tak Cemburu

22

Saat mencalonkan diri sebagai wali kota, dia mengira kedudukan itu sangat bergengsi. Maka dia pun habis-habisan waktu kampanye. Akhirnya jadilah ia wali kota. Di tiga bulan pertama bekerja, olala, ternyata, o, ternyata.

‘Puep chok,’ keluhnya. ‘Rupanya jadi wali kota itu pekerjaannya mengurus air PDAM untuk mandi warga, mengawal warung kopi agar tidak jual minuman keras, menjaga nyak-nyak di pasar sayur agar tidak berjualan di badan jalan.’

“Haa-haa-haa!” dia ketawa menghibur diri. ‘Kalau untuk ini, buat apa aku banyak kali menghabiskan duit waktu kampanye,’ batinnya.

Tuk-tuk-tuk! Tiba-tiba pintu ruang kerjanya diketuk. Abdul, stafnya, masuk.

“Ada apa, Nyak Do?” tanya Wali Kota, seperti biasa, memakai ‘nyak do’ sebagai panggilan akrab khas tradisi untuk semua orang bernama awal ‘abdul’. Sedangkan ‘abdul’ yang ini adalah ‘Abdul Hanif’ , pegawai muda berpangkat junior kantor wali kota.

“Ada tamu, Pak.”

“Minta masuk.”

“Baik, Pak.”

Nyak Do, eh, Abdul, keluar; tamu masuk. Mereka adalah tiga orang ibu-ibu.

“Silakan masuk, silakan duduk. Ada apa, Ibu-ibu?” tanya Pak Wali dengan ramah.

“Ini, Pak,” jawab seorang (mewakili dua lainnya), “septic tank di rumah-rumah di kawasan kami umumnya sudah penuh, sudah mengeluarkan uap yang mengganggu lingkungan. Sudah sepekan ini kami terus menelepon mobil menyedot di Kantor Kebersihan dan Pertamanan, mereka cuma menjawab, ‘Iya-iya-iya, kami segera datang,’ tapi tak datang-datang. Ini sudah hampir sebulan tak datang-datang. Beberapa warga yang mengidap penciuman sensitif malah sudah beberapa hari diopname di rumah sakit akibat sesak penciuman. Kami berharap Bapak segera turun tangan.”

Sepeninggalan tiga warganya, Pak Wali terduduk lesu. Dari soal air mandi sampai ke tangki septic adalah tanggung jawab wali kota, lalu—pikirnya—kenapa pula orang tergila-gila mau jadi wali kota.

Selang beberapa menit kemudian, “Tuk-tuk-tuk!” pintu ruang kerjanya diketuk lagi, dan Abdul masuk.

“Ada apa, Nyak Do?” tanya Wali Kota seperti biasa.

“Ada tamu, Pak.”

“Minta masuk.”

“Baik, Pak.”

Abdul keluar; sang tamu masuk. Ia seorang bapak-bapak berpenampilan parlente.

“Silakan masuk, silakan duduk. Ada yang bisa kami bantu?” tanya Pak Wali dengan ramah, sementara dalam hatinya berkata, ‘Melihat penampilan Bapak ini, ini pasti menyangkut urusan yang keren. Minimal menyangkut invetasi di atas satu triliyunan di kota tercinta ini.’

“Begini Pak. Saya sudah berkali-kali mengeluh pada petugas patroli Satpol Pe-Pe agar membubarkan kelompok tongkrongan anak-anak muda yang ribut main gitar tiap malam di lorong tak jauh dari rumah kami, tapi sepertinya petugas Bapak itu kurang respek sama keluhan warga.”

Sepeninggalan tamu parlente itu, Pak Wali kembali terduduk lesu. Dari tangki septic sampai ke tongkrongan anak-anak muda main gitar di lingkungan warga adalah tanggung jawab wali kota, lalu—pikirnya—kenapa pula orang tergila-gila mau jadi wali kota.

Baru tak lama, “Tuk-tuk-tuk!” Pintu ruang kerjanya diketuk lagi. Abdul masuk.

“Ada apa, Nyak Do?” tanya Wali Kota seperti biasa.

“Ada tamu, Pak.”

Baca Juga

Orang Kecil-Kecil

“Minta masuk.”

“Baik, Pak.”

Abdul keluar; tamu masuk. Ia seorang lelaki menjelang tua, berbaju lusuh.

“Silakan masuk, silakan duduk. Ada yang bisa saya bantu, Bapak?” tanya Pak Wali dengan ramah, sementara dalam hatinya berkata, ‘Melihat penampilan Bapak ini, orang pasti mengira ia hanya akan mengeluhkan urusan sepele. Tapi jika dibandingkan dengan tamu tadi, berpenampilan keren, padahal cuma mau mengadu soal anak muda main gitar, si Bapak ini pasti membawa persoalan besar. Ini sesuai sifat dunia yang penuh dengan rahasia Ilahi. Mungkin Bapak inilah yang justru mau berkonsultasi menyangkut invetasi di atas satu triliyunan. Ironi kehidupan manalah mungkin kita duga.’

“Begini, Pak Wali. Saya ketua organisasi pengemis kota kita ini. Anggota kami banyak mengeluh. Pendapatan mereka tiap hari kian merosot. Ini semata-mata karena warga kota ini semakin hari semakin pelit, susah bersedekah. Kami mengadu, semoga Pak Wali semakin memberdayakan orang-orang alim di kota kita untuk berdakwah menerangi jiwa solidaritas umat agar terus memperbanyak sedekah, karena, pahala dari bersedekahlah yang tersisa ketika mati, sedangkan harta lainnya semua akan jadi tahi.”

Sepeninggalan tamu itu, Pak Wali kembali terduduk lesu. Kini malah menekur merebahkan wajahnya ke lipatan tangan di atas meja. Dari soal tongkrongan anak-anak muda main gitar di lingkungan warga sampai ke soal warga kota yang pelit bersedekah adalah tanggung jawab wali kota, lalu—pikirnya—kenapa pula orang tergila-gila mau jadi wali kota.

Tuk-tuk-tuk! Pintu ruang kerjanya diketuk Nyak Do lagi.

Dalam posisi wajah menekur meja, di antara tidur dan jaga, Pak Wali tanpa sadar berseru dengan suara tinggi dan panjang, “Nyak Dooooooooo! Berhentilah mengetuk pintu kamar kerja Wali Kota! Kau paham, Kawaaaaaaaaannn?!”

Namun begitu Abdul tetap masuk dengan enjoynya. “Ibu, Pak,” katanya mengabari yang bahwa tamu kali ini justru istri Pak Wali sendiri.

“Haaa? Ibu? Tumben. Ada apa? Suruh masuk.” Pak Wali agak gelagapan.

Abdul keluar; Ibu Lena masuk. Pak Wali langsung berdiri dari kursi, melangkah ke sofa tamu, duduk di samping istrinya. “Ada apa, Bu?”

“Tadi ada staf Bapak yang telepon saya. Identitasnya dirahasiakan. Dia bilang ada tiga ibu-ibu cantik bertamu ke Bapak. Tak lama kemudian, dua orang keluar. Satu lagi tinggal di dalam. Nah, mana dia orangnya?”

Dihadapkan pada pertanyaan ini, Sang Wali Kota menggeragap kaku dengan napas tertahan, mulut menganga dan bibir membulat. Namun tak lama, saat kesadarannya pulih, ia sigap memanggil Abdul untuk meluruskan informasi yang keliru itu.

“Ya, memang, Bu,” kata Abdul. “Tadi ada tiga ibu cantik, eh, ibu warga datang mengeluh tentang ketidakbecusan kerja orang-orang di Dinas Kebersihan dan Pertamanan. Setelah itu, satu orang keluar dari kamar, dua orang tinggal di dalam. Tak lama kemudian, dua-duanya keluar bebarengan. Jadi, info yang dikasih staf intelejen bahwa dua orang keluar, satu tinggal di dalam, itu terbalik. Yang benar, satu keluar, dua tinggal di dalam. Dan, barang setengah jam kemudian dua-duanya juga keluar.”

Mendengar itu, Ibu Lena percaya dan panas hatinya kembali dingin. Ia segera meninggalkan kantor suaminya dan bergegas pulang ke rumah. Sepeninggalan sang istri, Wali Kota bertanya pada Abdul, “Siapa kira-kira staf intelejen yang kurang tidur itu, Nyak Do?”

“Tidak ada siapa-siapa, Pak.”

“Kok kamu lebih memihak ingin melindungi pegawai yang suka angkat telur itu daripada saya?”

“Ya, memang tidak ada siapa-siapa, Pak. Jelasnya, tadi Ibu menelepon saya, tanya, apa Bapak lagi sibuk. Nampaknya ibu mau membahas sesuatu dengan Bapak. Lalu saya bilang, ‘Lagi ada tamu, Bu.’ Kemudian Ibu bertanya, ‘Tamu dari Jakarta?’ Terus saya jawab, ‘Bukan. Tiga orang ibu-ibu warga.’ Lantas Ibu tanya lagi, ‘Cantik-cantik?’ Kemudian saya jawab, ‘Lumayan, Bu.’ Lalu Ibu tanya lagi, ‘Sekarang ketiganya masih di ruang kerja Bapak?’ Saya menjawab, ‘Satu orang sudah keluar, tinggal dua di dalam.’ Nah, inilah yang salah didengar Ibu. Ibu mengira dua orang sudah keluar, satu tetap tinggal di dalam.”

“Aduh!” respon Pak Wali sambil menepuk jidat. “Ini aku bilang, ya, Nyak Do. Sepanjang usia perkawinan kami, Ibu tak pernah cemburu. Sekarang kita malah jadi heran, ada apa ini. Nah, menurutmu, Nyak Do, kira-kira sejak kapan Ibu mulai ada akal-akal cemburu seperti itu?”

“Menurut saya, sejak Bapak jadi Wali Kota.”

“Loh, apa hubungannya?”

“Dulu waktu Bapak masih Direktur Bank, yang suka berhubungan dengan Bapak paling-paling para pebisnis, pejabat dan orang-orang parlemen. Sekarang, coba, semua warga sekota provinsi ini mau dimanjain Bapak. Istri mana yang tidak cemburu.”

“Kamu memihak Ibu rupanya Nyak Do? Ya Allah, begini-ini jadi wali kota, kenapa pula orang suka berlomba-lomba ingin jadi wali kota.”

“Karena, dicemburui itu anugerah, Pak,” jawab Nyak Do sembari menyembunyikan seringai senyum dengan telapak tangan sambil melangkah keluar meninggalkan Wali Kota yang melongo sendirian dengan mulut menganga.***

loading...
Subscribe to our newsletter
Sign up here to get the latest news, updates and special offers delivered directly to your inbox.
You can unsubscribe at any time