HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Jurnalis Muda Aceh dan “Brief Encounter in Aceh”

2.990

“Assalamu’alaikum, Bang. Saya Irsyad. Mohon ditambahkan pertemanannya ya Bang. Terima kasih.”

Demikian bunyi sebuah chat masuk, Selasa, dini hari (20/6).

“Wa’alaikumsalam. Ooo, ya-ya- ya. Dan, terima kasih sama-sama,” balasku.

Sang waktu berlalu beberapa menit. Dia masuk lagi, “Gak bisa nge-add Abang ni, karena pertemanan

Abang udah kepenuhan. Sepertinya Abang dech yang nambahin saya.”

“Saya coba ya,” balasku lagi.

“Ok, Bang,” katanya.

Sang waktu berlalu lagi beberapa menit. Kemudian aku membalas, “Sepertinya ditolak juga.

Atau besok saya hapus dulu akun-akun yang sudah tak aktif lagi, dan akan saya add Irsyad kembali.”

“He-he- he. Siap, Bang.”

Sang waktu berlalu lagi beberapa menit. Kemudian dia masuk lagi, katanya, “Oya, Bang. Salam kenal, saya jurnalis dari HAI (Harian Aceh Indonesia-pen).”

O, jurnalis muda rupanya, pikirku. Entah bagaimana, tiba-tiba aku teringat pada sebuah catatan lamaku, tentang jurnalis tua Indonesia, Rosihan Anwar. Rosihan tetap menulis hingga usia di atas 80 tahun sampai tutup umur, Kamis, 14 April 2011 pada usia 89 tahun.

Aku masih ingat, pada hari meninggalnya, orang-orang saling memberikan komentar berkenaan dengan kesan-kesan mereka terhadap Rosihan atau, sesuatu kenangan terhadap kata-kata tertentu yang pernah diucapkan Rosihan.

Sabam Sirait dan Karni Ilyas, dua wartawan senior Indonesia yang berkomentar di TV One, Jum’at pagi (15/4/2011), menyadarkan kita, baik sebagai jurnalis muda maupun sebagai anak bangsa di tengah beragam problema sosial dan politik di sebuah negara yang sedang berkembang, terutama dalam romantika pencarian jati diri sebagai sebuah bangsa besar.

Terkait dunia kemediaan, kata Sabam Sirait, Rosihan terkesan angkuh dan cuek terhadap wartawan yang biasa-biasa saja, tetapi menjadi pemuja yang antusias bagi mereka yang lasak mengembangkan potensi kreativitasnya.

Dan terhadap kemewahan yang dimiliki para jurnalis masa kini, Rosihan tidak anti. Yang penting, katanya, wartawan harus selalu berpihak kepada rakyat kecil.

Dalam konteks wartawan sebagai fungsionalis sosial kontrol, Karni Ilyas juga masih ingat satu kata Rosihan pada suatu ketika. Kata Karni, dengan lugasnya waktu itu Bung Rosihan pernah mengeluarkan kata-kata, “Kontrol terus itu anggota DPR. Mereka adalah kelompok manusia pemburu harta.”

Rosohan memang kritis. Dan sikapnya itu sudah teruji oleh empat zaman pergelutan hidup-mati negara besar ini, yaitu dari zaman penjajahan Jepang, zaman Orde Lama, Orde Baru dan hingga masa reformasi sampai ke presiden saat itu, Pak SBY, di mana waktu itu beliau mengaku, “Hingga sekarang pun Bung Rosihan masih kritis kepada saya.”

Seusia pergumulanku dengan dunia jurnalistik yang masih seumur jagung, dan wilayah pergelutan (di Sigli, Pidie, Aceh tahun 2011) yang jauh dari pusat negara (Jakarta) tempat Rosihan Anwar berada, saat itu aku hanya bisa mengenang beliau dari tulisan-tulisan featurenya yang sering kubaca di Harian Waspada, terbitan Medan, Sumatera Utara.

Dan memang benar seperti pendapat umumnya wartawan senior. Gaya tulisan Rosihan sangat sederhana namun acap menukik ke dalam jiwa hingga kesan-kesannya bersarang dalam jangka lama.Salah satu tulisannya yang sederhana namun amat mengesankan bagiku, karena kebetulan menyangkut Sigli, kawasan jurnalistikku saat itu, bersetting Pertemuan Sastrawan Indonesia-Malaysia- Singapura di Glee Gapui, Mila, tahun 1986 di mana kala itu aku baru kelas tiga SMA dan ikut hadir menyaksikan acara tersebut.

Dalam "Brief Encounter in Aceh", setelah menceritakan pertemuan singkatnya dengan Daud Beureueh di Banda Aceh dan Hasan Tiro di New York, di sana Haji Rosihan Anwar juga melukiskan pertemuannya dengan Nurdin Abdurrahman di Sigli.

Beberapa alinea yang saya kutip dari “Brief Encounter in Aceh” berbunyi sebagai berikut, “Tiap orang dalam hidupnya mengalami brief encounter, pertemuan singkat. Bukan seperti dalam film tahun 1950-an, Brief Encounter, pertemuan seorang perwira Amerika dengan wanita Inggris di London dalam Perang Dunia II, menjalin asmara, bermuara duka-cerita sang perwira, gugur di medan laga.

“Sebagai wartawan, saya mengalami brief encounter dengan beberapa putra Aceh, bertemu, berpisah, tiada lagi berjumpa. “Suatu brief encounter lagi. Saya bertemu dengan Nurdin Abdurrahman pada tahun 1986 ketika di Kota Sigli diadakan Pertemuan Sastrawan Indonesia-Malaysia- Singapura. Nurdin, Bupati Pidie juga sastrawan, dikenal sebagai ‘Bupati Jango’ karena mengingatkan pada koboi Jango yang diperankan oleh Franco Nero.

“Dalam pertemuan itu hadir serta Mochtar Lubis dan istrinya Halimah, Arifin C Noer dan istrinya Jajang, Taufiq Ismail dan istrinya Ati, Sutardji Calzoum Bachri, LK. Ara, Ibrahim Alfian, Hasballah.

Saya menginap di rumah Bupati Pidie sekamar dengan Ali Hasymi, mantan Gubernur Aceh, penyair Poedjangga Baroe.

“Dalam Perang Aceh, Sigli merupakan pangkalan utama operasi Belanda, setelah Letnan Jenderal Van Heutsz menyerang Pidie dengan 6.000 serdadu. Daerah Pidie terkenal sebagai sumber pergolakan.

“Di zaman Indonesia Merdeka di sana terdapat Tentara Islam Indonesia (TII) yang mengikuti gerakan Darul Islam Daud Beureueh, menentang Presiden Soekarno. Pada tahun 1959, TII menyerah kepada KSAD Jenderal AH Nasution yang khusus datang ke Pidie di tempat bernama Jabal Gafur.

“Menurut Nurdin AR, Jabal Gafur berarti ‘Bukit Pengampunan’ atau ‘Amnesty Hill’. Di tempat itu ia mendirikan kampus universitas untuk mendidik generasi muda Pidie. "’Orang di sini cenderung memandang secara ekstrem dan hanya mengenal warna hitam atau putih.

Warna kelabu tidak dikenalnya. Melalui pendidikan, semua itu perlahan-lahan akan dapat diubah,’ kata Bupati Nurdin kepada saya ketika kami berjalan di padang terbuka di Jabal Gafur. Bupati Nurdin AR kini sudah almarhum.” Demikian Rosihan Anwar, tokoh pers nasional, sejarawan, sastrawan dan budayawan merajut kita dalam nukilannya yang sederhana. Dan kini beliau telah tiada.

“Salam buat semua kru HAI ya. Gimana nih, enak di HAI kan,” tulis saya lagi di chat balasan untuk Irsyad, Irsyad Feisal Ahmad lengkapnya, sebagaimana juga nama akun Facebooknya. “Alhamdulillah, Bang. Kekeluargaan sekali. Bersyukur. Saya baru ini jadi jurnalis. Alhamdulillah, di sini banyak ilmu untuk menulis,” balasnya.

“Kerennnnn. Alhamdulillah. Dan, jangan lupa banyak membaca buku, buku tentang apa saja,” balasku sok antusias sekaligus ingat pada satu alinea catatanku di atas yang berbunyi, “Terkait dunia kemediaan, kata Sabam Sirait, Rosihan terkesan angkuh dan cuek terhadap wartawan yang biasa-biasa saja, tetapi menjadi pemuja yang antusias bagi mereka yang lasak mengembangkan potensi kreativitasnya [*] .”

“Siap Bang!!” balas Irsyad. Sepertinya antusias juga.***

loading...
Subscribe to our newsletter
Sign up here to get the latest news, updates and special offers delivered directly to your inbox.
You can unsubscribe at any time