HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Sesungguhnya Kita adalah Pencuri

23

Lelaki tua berbaju putih, berjenggot panjang, bermata cemerlang, mengelilingi pasar yang ramai itu dengan langkah-langkah teratur. Ia menikmati suasana keramaian. Tiba di sebuah warung kopi pinggiran kota, ia mendekati seorang pelanggan, berkata:

Kau banyak menghabiskan masa di warung kopi. Sebagian waktu yang kau bawa ke sini adalah hak istri dan anak-anakmu di rumah. Berarti kau tergolong pencuri, yang hidup senang di atas terpenggalnya milik orang lain.

Astaghrfirullah, Kakek. Sebelumnya aku tidak memandang ini dari sudut itu, dan ketika Kakek mengatakannya, baru aku sadar. Terima kasih, Kakek. I promise you, ini hari terakhirku mencuri hak istri dan anak-anakku atas waktu-waktu mereka bersamaku.

Jika itu benar, berarti kau lelaki keren, kata orang tua itu mengangkat jempol sembari berlalu dari hadapan orang yang ditemuinya sekaligus mengucapkan terima kasih atas tawaran kopi yang ditolaknya dengan alasan bahwa dulu ketika muda dia juga sudah terlalu banyak membawa waktu dari rumah untuk dihabiskan sendiri di warung kopi sehingga, sejumlah kecerdasan yang dia miliki, yang seharusnya dapat diwariskan kepada anak-anaknyamelalui momen-momen gembira sambil bermain bersama mereka di rumahjanam besama seruputan kopi, kepulan asap rokok, dan ngobrol ke sana-ke mari sepanjang hari bersama teman-teman pembunuh waktu.

Kini langkahnya tiba di gebang salah satu Dayah di kabupatennya. Kepada seorang santri senior yang ditemuinya pertama-tama, ia berkata, Kau sudah terlalu lama belajar di sini. Lulus-tak lulus. Asyik menikmati sensasi kebanggaan dari kebiasaan masyarakat memandang dan terus mengimajinasikan santri sebagai jenis manusia paling mulia di sisi Allah Ta’ala. Padahal tanpa sadar kau telah mencuri hak ibu-bapamu atas tenagamu untuk membantu mereka di sawah dan ladang. Kau santri pencuri yang menyebalkan.

Tapi, Kakek, jika kelak aku membawa pulang ilmu sebagaimana yang mereka harapkan ketika mengantar aku ke sini, itu berarti aku telah menggantikan apa yang kucuri dari mereka. Kedudukannya berarti draw, satu:satu.

Kau yakin bisa pulang dengan usungan berat segenap harapan yang telah bertahun-tahun membebani harap-harap cemas mereka?

Insya Allah, dalam setahun ini aku akan menyelesaikan semua pelajaran, dan pulang mempersembahkan semua itu untuk ayah-ibu dan orang-orang desa kami.

Jika itu benar, berarti kau santri yang keren.

Kini langkah orang tua itu berada di halaman sebuah sekolah menengah pertama di pinggiran kota kabupaten. Pada seorang guru yang pertama-tama dijumpainya, ia berkata, Berapa judul buku ilmu pengetahuan yang kau khatamkan dalam empat bulan ini?

Mmm¦, ngngng¦, aaa¦, tidak satu pun, Kakek.

Berapa judul buku sastra yang kau tamatkan dalam tiga bulan terakhir?

Mmm¦, ngngng¦, aaa¦, tidak satu pun, Kakek.

Kau telah mencuri hak kecerdasan dan inspirasi kehidupan yang seharusnya didapatkan murid-murid sekolah ini darimu. Waktumu untuk membaca beragam buku telah kau gunakan untuk entah apa saja yang bersifat menyenangkan hanya untuk dirimu dan keluargamu. Dengan demikian kau tak lebih dari seorang guru pencuri!

Baca Juga

Orang Kecil-Kecil

Jika Begini, Istri Mana Tak Cemburu

Maafkan aku, Kakek. Ini sepertinya tamparan keras buat kami. Mulai besokaku berjanjiaku akan mati-matian mengkampanyekan Ayo Membaca Demi Ilmu dan Inspirasi Bagi Murid-murid Kita’ pada semua guru di Kabupaten ini.

Kau berani bersumpah untuk janjimu?

Demi Allah aku bersumpah akan menunaikan janjiku mulai besok.

Keren. Kalau begitu, aku yakin, kau juga akan menginspirasi guru-guru lain di segenap pelosok negeri ini, kata orang tua itu sembari berbalik langkah dari halaman gedung sekolah yang mentereng itu.

Kini hari sudah sore. Kakek, dengan tetap berjalan kaki, kembali ke kampungnya di pesisir. Ia masuk ke rumah dengan jiwa yang sunyi. Sudah tak ada siapa-siapa lagi di seputaran hidupnya di dunia inikecuali, tentu saja, tetangga-tetangga yang baik. Anak, istri dan beberapa cucunya telah meninggal dalam peristiwa tsunami tiga belas tahun nan lalu.

Secara finansial, Kakek hidup dari hasil beberapa petak tanah tambak miliknyayang dikelola para tetangga dan petani upahan di kampung itu. Selebihnya, hari-hari Kakek dihabiskan di balai-balai pengajian desa, pustaka gampong, bersosialisasi dengan masyarakat desa dan kecamatan dan, sekali-sekali, jika ada waktu senggang, berjalan-jalan menjumpai orang-orang yang dikenalnya dari berbagai profesi untuk meneruskan sisi pembelajaran spontan dan alamiah gaya Socrates, filsuf dari Athena, Yunani.

Pernah suatu hari, dalam menjalankan missi pencerahanya, Kakek nyaris diserang sekelompok pemuda yang termakan provokasi seorang ahli spiritual yang telah dinobatkan sebagai mahaguru mereka. Waktu itu Kakek berkata pada ahli spiritual tersebut:

Jangan Tuan curi hak para pengikut Tuan atas sumber daya insani mereka berdedikasi pada dunia dengan terlalu menggiring mereka ke arah hamba-hamba pengejar surga semata-mata. Kukira, dengan cara ini, selangkah lagi Tuan akan menjadi kepala teroris yang mencuri separuh hidup para pemuda dengan bom-bom yang melilit tubuh mereka untuk diledakkan di suatu kawasan tertentu yang akan mengantarkan mereka ke surga tanpa tertahan-tahan sedikit pun.

Setelah berkata itu, besoknya sekelompok pemuda yang merupakan murid-murid binaan ahli spiritual itu, mengelilingi rumah Kakek dengan spanduk-spanduk bertuliskan, Jangan Halangi Jalan Kami ke Surga!!!, Kalau Tak Mau Menyumbang, Jangan Justru Menghalang!!!, Kakek Pengikut Socrates, Kami Pengikut Nabi Muhammad SAW!!!, Kakek Penganut Garis Politik Gajah Mada, Kami Penganut Garis Politik Gaj Ahmada!!! dan spanduk-spanduk dengan bunyi-bunyi yang lain.

Namun unjuk rasa itu berakhir damai setelah polisi, tokoh kecamatan dan kabupaten turun tangan sekaligus membawa tokoh spiritual itu ke Balai Meusapat untuk berjanji tidak lagi meracuni anak-anak muda dengan aliran spiritual yang hanya mementingkan diri sendiri mengejar surga sedangkan pada saat bersamaan samasekali abai pada dunia dan negeri sendiri yang notabene sedang diincar negeri-negeri asing untuk dikeruk hasil buminya dengan jalan terlebihdulu mengrim paramuda pemilik negeri ke surga.

Bahkan pernah suatu hari Indatu Kita itu datang ke rumahku, berkata, Musmarwan Abdullah yang baik, saat kau terlalu banyak menghabiskan waktu di dunia maya, berarti kau telah mencuri sebagian kesempatan untuk keluarga, kawan-kawan dan orang-orang kampung berkomunikasi denganmu di dunia nyata. Masak orang-orang tua di kampung harus masuk ke Facebook dulu agar bisa chatingan denganmu. Berarti kau ini tak lebih dari seorang pencuri juga.

Memang saat itu aku menjawab, Kakek yakin bahwa Kakek tidak mencuri apa-apa dari kehidupan orang lain?

Ngngng¦, aaa¦, mmm¦. Berhadapan dengan pertanyaan itu, Kakek tergagap dan seluruh tubuhnya nyaris gemetaran. Astaghrfirullah. Memang ada yang telah terlanjur kucuri dari hidup orang lain?

Minimal, jawabku, kalaupun Kakek tidak mencuri suatu hak tertentu dari hidup mereka, Kakek telah ikut menghalangi mereka untuk bebas memilih hidup sebagai pencuri.

Kujawab begitu, Kakek lega.[***]

loading...