HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Orang Kecil-Kecil

37

Masih di suasana lebaran, seorang anak lelaki dibawa ayahnya berjalan-jalan hingga, petang itu, naiklah mereka ke ketinggian menara masjid di ibukota provinsi. Tiba di tingkat paling puncak, si anak menatap ke bawah, lalu berkata dengan takjub:

“Wow! Orang-orang di bawah tampak kecil-kecil, Ayah. Seperti mainan.”

“Begitu juga kelak saat kamu berada di ketinggian singgasana kepemimpinan, orang-orang di sekeliling dan di bawahmu dengan sendirinya akan terlihat kecil-kecil,” balas Sang Ayah sambil menyembunyikan senyum keterlaluannya (mengingat ia mengatakan itu seperti pada teman sebayanya saja).

Si anak tidak paham pada perumpamaan ayahnya hingga, lama kemudian, saat nasib mengantarnya ke dunia politik dan, kala itu, ia terpilih jadi gubernur provinsi tersebut, di situ baru ia mengerti.

Saat ini, semua orang yang berada di bawah dan sekelilingnya terlihat kecil-kecil…, kecil-kecil…, kecil-kecil…. Kecuali satu orang, yang justru terasa lebih besar darinya. Yakni: Sang Istri.

Jauh di waktu kecilnya, rupanya, Sang Istri Gubernur juga pernah dibawa berjalan-jalan oleh ibunya hingga, petang itu, naiklah mereka ke ketinggian menara masjid di kabupaten mereka. Tiba di tingkat paling puncak, gadis kecil itu menatap ke bawah, kemudian berkata dengan takjub:

“Jeh-naka! Orang-orang di bawah tampak kecil-kecil, Mak. Seperti mainan.”

“Begitu juga kelak saat kamu berada di ketinggian singgasana kepemimpinan yang diduduki suamimu, orang-orang di sekeliling dan di bawahmu dengan sendirinya akan terlihat kecil-kecil,” balas Sang Ibu sambil menyembunyikan senyum keterlaluannya (mengingat ia mengatakan itu seperti pada teman sebayanya saja).

Si anak tidak paham pada perumpamaan ibunya hingga, lama kemudian, saat nasib mengantarnya menjadi istri seorang lelaki tokoh politik yang kini terpilih sebagai gubernur provinsi tersebut, di situ baru ia mengerti.

Saat ini, semua orang yang berada di bawah dan sekelilingnya terlihat kecil-kecil…, kecil-kecil…, kecil-kecil…. Kecuali beberapa orang, yang justru terasa lebih besar darinya. Yakni: orang-orang sekeliling yang siap mempersembahkan penghormatan tertinggi setiap waktu yang membuat ia selalu merasa lebih besar dari suaminya.

Maka pada suatu hari, pembangunan sebuah menara tertinggi yang dicetus Sang Gubernur untuk masjid provinsi yang penuh kenangan baginya itu, tiba pada tahap peresmian. Gubernur dan Ibu akan meresmikan menara ini di lantai terpuncak, sesuai rencana yang telah dipublikasikan jauh-jauh hari.

Saat menjejakkan kaki di lantai tertinggi itu, Gubernur berkata pada istrinya, “Tolong jaga ya Bu. Jangan sampai ada yang mendorong Bapak dari belakang. Kalau tidak, Bapak akan ringsek di bawah sana.” Sang Gubernur mengatakan ini karena di matanya hanya istrinyalah yang besar dan sanggup melakukan tanggung jawab itu.

Seraya mengiyakan, Ibu berpaling ke belakang, memberi perintah pada satuan pengamanan, “Tolong jaga ketat agar tidak ada orang yang tiba-tiba mendorong kami dari belakang. Kalau kami jatuh, bayangkan saja, kami akan menjadi daging adonan bakso di bawah sana.”

Salah seorang staf pengaman, yang kesehariannya di lingkungan pendopo suka berkelakar dengan Gubernur dan Ibu, menjawab (hanya sekedar sentilan humor untuk menetralisir ketegangan yang ditimbulkan oleh kegamangan berada di puncak tertinggi), “Mana sanggup kami menolong Ibu dan Bapak, kami kan orang kecil-kecil…, orang kecil-kecil…, orang kecil-kecil….”

Sebagai tambahan informasi: tadi waktu hendak naik ke puncak menara ini, semua orang di sekeliling Ibu Gubernur—yakni mereka selalu siaga mempersembahkan penghormatan tertinggi setiap waktu yang membuat Ibu selalu merasa lebih besar dari suaminya—tidak berani naik lantaran gamang pada ketinggian. Padahal di mata Ibu, orang-orang itulah yang lebih besar darinya.

Baca Juga

Tapi begitulah, orang-orang yang cendrung kurang iklas dengan semua cakap dan tindakannya, cendrung takut pada kegamangan alias phobia pada ketinggian. Mereka selalu merasa besar dan berpower dalam posisi melata di lantai. Dan hal inilah yang sedikit dilepas dalam sayap-sayap kalimat dari mulut staf pengamanan yang suka berkelakar itu.

“Kamu ngomong apa, Bram?” balas Ibu dengan wajah memerah.

“Tapi kenyataannya kan begitu, Bu?”

“Sudah, sudah. Nanti Ibu seleksi kembali mereka.”

“Susah menyortir para pemuja, Bu,” kata staf itu lagi, seperti sangat kurang sopan, tapi Gubernur dan Ibu sendiri mengakui, di situlah kelebihan si staf pengamanan satu itu. Di balik setiap sentilan kurang etisnya, di situlah bergelantungan kebenaran (yang tekadang begitu menyakitkan untuk diakui).

Di antara dakwa-dakwi berkapasitas softly di tengah kerumunan orang kecil-kecil yang nekat melawan kegamangan karena mau menyaksikan langsung prosesi ‘tekan bel peresmian’ menara tertinggi dari semua masjid yang ada di seluruh Republik nan besar ini, Gubernur menyela dengan berbisik pada istrinya, “Ini menjadi pelajaran bagi Ibu. Hanya orang kecil-kecil yang berani melawan kegamangan untuk tetap bersama kita di puncak tertinggi yang mengerikan ini.”

“Oh….” Ibu mendesah dengan tatapan penuh penghayatan.

“Hanya satu orang besar yang berani menemaniku naik ke sini, Bu.”

“Siapa, Pak?”

“Dikau.”

‘Ya, karena aku kasihan, melihat Bapak begitu kecil,’ balas Ibu dalam hati, berkelakar dengan dirinya sendiri.

“Haaa? Apaaa?” tanya Gubernur seperti dapat membaca bahasa hati istrinya.

“Oh, tidak. Maksud Ibu, tekanlah bel itu segera. Orang-orang di bawah sudah menanti.”

Dan bel pun ditekan. Menara tinggi ini, diresmikan. Beberapa jurnalis yang nekad melawan kegamangan, memotret dari dekat. Kebanyakan jurnalis yang phobia pada ketinggian, menarik zoom kameranya habis-habisan dari bawah bersama dongakan ribuan wajah rakyat yang memenuhi halaman masjid provinsi seraya bertepuk tangan dengan riuh.

Sekali lagi, saat turun, Gubernur berbisik pada istrinya, “Hanya ‘orang kecil-kecil’ dan ‘orang-orang kecil’ yang berani melawan kegamangan untuk tetap bersama kita di puncak tertinggi yang mengerikan ini.”[***]

loading...
Subscribe to our newsletter
Sign up here to get the latest news, updates and special offers delivered directly to your inbox.
You can unsubscribe at any time