HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Iman Setengah Babi

0 57

“Abu, apa yang dimaksud dengan ‘kekayaan pikiran’?”

“Kekayaan pikiran mampu menyelamatkan kita dari hal-hal buruk dalam masa penantian yang panjang. Bahkan kelak, sekali lagi, kekayaan pikiran akan menyelamatkan kita dari kehampaan dan putus asa saat penantian panjang ternyata berakhir sia-sia.”

“Hmmm, agak romantis-romantis gitu, ya.”

“Di masa perang gerilya di negeri kita, bagi perajurit GAM yang terdesak ke jantung rimba di pergunungan bersama kelaparan dan malaria, kekayaan pikiran telah menyelamatkan mereka dari usaha nekad menembak kepala sendiri.”

“U…, ngeri kali.”

“Kekayaan pikiran tidak ada kaitan dengan kecerdasan. Kekayaan pikiran meliputi kemampuan seseorang membunuh waktu dengan hal-hal yang tidak mencederai moral dan penghormatan atas diri-sendiri. Kekayaan pikiran juga meliputi kemampuan berimajinasi dan menghayal tingkat tinggi.”

Nyan bak hi, sang, lagee-lagee, syo’k kuh, ka geugapu droekuh ji-Abu,’ kata anak muda itu, dalam hati.

Seperti dapat membaca pikiran orang, Abu memungkas, “Kekayaan pikiran juga meliputi kemampuan meragukan pendapat orang yang kita anggap lebih tahu.”

“Ommak, gawat. Rupanya kekayaan pikiran juga dapat membaca kata hati lawan bicara.”

“Itu namanya ‘intuisi’.”

“Oya, Abu, apakah ‘iman’ atau keberimanan seseorang terhadap sesuatu hal dapat digolongkan dalam ‘intuisi’?”

“Aku rasa, tidak. Intuisi adalah dorongan bertindak berdasarkan keyakinan bahwa tindakan ini tepat meski tanpa pertimbangan rasionalitas. Sedangkan ‘iman’ adalah kepercayaan yang dibangun setelah intelektualitas tidak mampu diajak berperan maksimal.”

Nyoe bak hi, sang, lagee-lagee, syo’k kuh, ka geugapu droekuh ji-Abu,’ kata anak muda itu dalam hati.

Lagi-lagi, seperti dapat membaca pikiran orang, Abu berkata, “Intuisi juga meliputi keberanian membatin, ‘Ini sepertinya, mungkin, bagai-bagai, ragu aku, Abu sudah membohongi aku.’”

“Haa-haa-haa!” tergelak anak muda itu mendapati Abu demikian tepat meraba kata hatinya.

“Oya, Abu, menyangkut wisatawan domestik yang membuang sampah seenaknya di halaman Masjid Raya, apakah itu masuk dalam wilayah ‘kekayaan atau kemiskinan pikiran’?”

“Mana ada. Itu kan wilayah ‘iman’.”

“Tapi kata Abu tadi, ‘iman’ adalah kepercayaan yang dibangun setelah intelektualitas tidak mampu diajak berperan maksimal. Orang diajak hidup bersih kok tidak mampu dijangkau intelektualitas?”

“Pada zaman dahulu, ketika umat diajak hidup bersih, mereka berapologi, ‘Babi hidupnya kotor, tapi kok eksis terus.’ Nah, kalau batasan intelektualitas mereka hanya segitu, upaya apalagi yang bisa dilakukan melainkan langsung memasukkan ‘kebersihan setengah dari iman’, agar orang tetap menjalani gaya hidup bersih tanpa harus berargumen sana-sini, apalagi harus membanding-bandingkannya dengan gaya hidup babi.”

Nyoe bak hi, sang, lagee-lagee, syo’k kuh, ka geugapu droekuh ji-Abu,’ kata anak muda itu lagi, dalam hati.

Lagi-lagi, bagai dapat membaca pikiran lawan dialog, Abu berkata, “Yang mau kamu katakan sebenarnya apa, ayoo, coba.”

“Kalau menurutku sih, itu lebih ke-‘kita belum terbiasa membuang sampah pada tempatnya’. Cuma itu saja.”

“Cuma itu saja, katamu?”

“Iya, Abu, lalu mau memainkan apologi apa lagi?”

“Yang jelas, kita sudah terbiasa dengan ‘tong sampah itu adalah seluas Nanggroe Aceh ini’; dan kita masih merasa terintimidasi oleh sampah di tangan yang membuat kita harus kalangkabut mencari tong pembuangan sehingga, akhirnya, merasa lebih jantan dengan sikap lempar begitu saja sesuka-suka dan, itu pun sambil melirik kiri-kanan, dengan harapan, orang di sekeliling melihat sikap pejantan kita yang gagah berani membuang sampah seenaknya.”

“Di tangan Abu, segalanya kok menjadi lebih rumit?”

“Kembali ke ‘kekayaan pikiran’ tadi. Artinya, bukan ‘lebih rumit’. Tapi, lebih mau dan lebih iklas melihat segala sesuatu dengan kelelahan ekstra memainkan pisau bedah analisis.”

“Kalau begitu, Abu, aku juga mau coba-coba membedah lebih dalam sebagai kelelahan ekstra untuk perkara ini.”

“Oke, ayoo, coba.”

“Dalam spektrum lebih luas, itu bermakna: kekuatan Islam orang Aceh masih berporos pada fanatisme, namun sampai hari ini kita masih bermasalah dengan perkara iman sebagai subtansi keislaman itu sendiri. Jadi, halaman Masjid Raya Baiturrahman yang penuh dengan sampah buangan para pelancong, menurutku, dapat dilihat sebagai representasi dari belum selesainya kita dengan perihal iman. Kita masih memegang pola, ‘Babi itu kotor, tetapi hidupnya tetap eksis.’”

“Maksudmu, kita masih setengah babi?” tanya Abu dengan mata menyala dan tangan terkepal tiba-tiba.

Seraya mengambil langkah seribu, anak muda itu menjawab, “Iya, Abu!!!”[***]

loading...
Subscribe to our newsletter
Sign up here to get the latest news, updates and special offers delivered directly to your inbox.
You can unsubscribe at any time