HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Tiga Ilmuwan Ini Tunjukkan Detik-Detik Kehancuran Bumi Karna Manusia

12

HARIANACEH.co.id, WASHINGTON — Tiga ilmuwan yang telah mengkaji kepunahan ribuan spesies vetebrata mempercayai bahwa manusia telah banyak merusak ekosistem bumi, sehingga bumi sedang dalam perjalanan menuju kehancuran. Meskipun banyak orang yang skeptis dengan kedatangan akhir zaman (kiamat), sebuah studi yang diterbitkan Senin (17/7), menggambarkan gambaran suram tentang populasi spesies vetebrata yang hanya sekitar 9.000 spesies, termasuk mamalia seperti cheetah, singa dan jerapah yang pada 1900 hingga 2015 lalu telah mengalami penurunan populasi yang cukup signifikan.

Hampir 200 spesies telah punah dalam kurun waktu 200 tahun terakhir. Studi tersebut menerangkan indikasi dari enam peristiwa kepunahan yang sedang terjadi, dan akan memperngaruhi kehidupan manusia di bumi. “Ini adalah kasus pemusnahan biologis yang terjadi secara global, bahkan jika spesies yang menjadi populasi ini masih ada di suatu tempat di Bumi,” ujar Rodolfo Dirzo, rekan penulis studi tersebut dan seorang profesor biologi Universitas Stanford, dalam sebuah rilis berita yang dilansir Republika.co.id, Selasa (18/7).

Rodolfo menjelaskan, peneliti telah menganalisis sekitar 27.600 spesies burung, amfibi, mamalia, dan reptil. Dari analisis tersebut ditemukan bahwa 8.851 atau sekitar 32 persen spesies telah mengalami penurunan populasi karena menyusutnya habitat asli mereka. Analisis lain dilakukan lebih rinci pada 177 spesies mamalia, dan menemukan bahwa lebih dari 40 persen telah mengalami penurunan populasi yang signifikan. Hasil dari studi tersebut mengartikan bahwa miliaran populasi hewan yang pernah menjelajahi bumi kini telah hilang.

Para penulis menggambarkan penyusutan populasi spesies sebagai erosi besar-besaran dari keberagaman biologis terbesar dalam sejarah. Mereka menegaskan bahwa kepunahan massal keenam sudah terjadi saat ini, dan waktu yang efektif untuk melakukan suatu tindakan sekitar lebih dari dua atau tiga dekade ke depan.

“Semua tanda menunjukkan serangan yang lebih kuat terhadap keanekaragaman hayati dalam dua dekade ke depan, melukiskan gambaran suram tentang masa depan kehidupan, termasuk kehidupan manusia,” kata Rodolfo.

Terjadinya kerusakan dan kepunahan di bumi bermula dari aktivitas manusia yang terus-menerus yang mengakibatkan hilangnya habitat, polusi, dan gangguan iklim. “Hilangnya populasi dan spesies secara besar-besaran mencerminkan kurangnya empati terhadap semua spesies liar yang telah menjadi teman kita sejak asal-usul kita,” kata penulis utama studi tersebut, Gerardo Ceballos, yang juga seorang profesor ekologi di Universidad Nacional Autónoma de México di Meksiko dalam siaran persnya yang dilansir Republika.co.id.

Namun, beberapa komunitas mengaku tidak setuju dengan penemuan Ceballos dan timnya. Kepala Ekologi Konservarsi Universitas Duke, Kalifornia Utara Stuart Pimm mengatakan, penelitian Ceballos tidak perlu membuat kepanikan dengan mengatakan bahwa bumi sudah berada di tengah jalan menuju kehancuran. “Ini sedikit berlebihan. Benar, manusia membuat spesies untuk punah seribu kali lebih cepat dari seharusnya. Jadi ya, ada masalah, tapi sebaliknya, mengatakan bahwa kita semua pasti akan mati, sangatlah tidak membantu.” kata Pimm.

Kepala Musium Nasional Sejarah Alam Smithsonian Doug Erwin mengatakan, membandingkan penempatan kepunahan spesien hewan dengan apa yang berlangsung saat ini sebagai kepunahan massal dalam sejarah adalah ilmu sampah. “Banyak dari mereka yang membuat perbandingan yang mudah dipahami antara situasi saat ini dan kepunahan massal masa lalu tidak memiliki petunjuk tentang perbedaan sifat data, apalagi betapa mengerikannya kepunahan massal yang tercatat dalam catatan fosil laut sebenarnya,” kata Erwin.

Direktur Eksekutif Pusat Kebergaman Hayati Kieran Suckling mengatakan, para peneliti tersebut secara akurat menunjukkan kepunahan populasi yang tidak terbatas pada geografis atau spesies tertentu, melainkan fenomena global. “Saya pikir mereka membuat kasus ini dengan sangat kuat sehingga sekarang kita berada dalam kepunahan keenam, dan jika kita melanjutkan tren yang kita hadapi, kita akan melihat 50 sampai 75 persen spesies kita hilang selama seratus tahun berikutnya,” kata Suckling.

Direktur Spesies Terancam Punah Pusat Keberagaman Hayati Nuh Greenwald mengatakan setuju dengan kesimpulan para peneliti bahwa waktu bagi manusia untuk mengambil tindakan cepat menjadi sempit. Studi ini, kata dia benar dalam meningkatkan peringatan terutama dengan perubahan iklim bumi. “Kita benar-benar perlu melindungi habitat sebanyak yang kita bisa sekarang. Populasi kita terus berkembang, konsumsi kita terus berkembang,” kata Greenwald.

Pada dasarnya, konsep kepunahan massal keenam bukanlah hal baru, dan penelitian ini bukanlah yang pertama menyatakan bahwa Bumi sudah berada di tengah kehancuran. Dua tahun yang lalu, beberapa periset yang sama mengemukakan bahwa spesies menghilang dengan kecepatan yang tidak ada bandingannya sejak kepunahan massal Kawi dari dinosaurus. Studi tersebut menemukan bahwa spesies vertebrata telah menghilang hingga sekitar 100 kali lebih cepat dari tingkat normal selama abad yang lalu.

Namun para ilmuan menunjukkan catatan yang lebih membahagiakan, dengan menjelaskan upaya berkelanjutan untuk menyelamatkan spesies dan habitat yang terancam punah. Kesempatan tersebut, dapat terlaksana dengan adanya komitmen dari manusia untuk menyelamatkan spesies yang terancam punah. Jika manusia telah memutuskan untuk menyelamatkan spesies yang telancam punah, dan bersungguh-sungguh dalam melakukannya, maka manusia dapat memutarbalikkan tren negatif ini.

“Warga yang prihatin dengan kepunahan ini, dapat melakukan hal-hal praktis seperti menanam pohon di halaman rumah mereka, atau menunjukkan dukungan mereka terhadap perlindungan habitat,” kata Greenwald. Pusat Keanekaragaman Hayati, kata dia telah menghitung 34 undang-undang yang tertunda yang akan melemahkan perlindungan untuk spesies yang terancam punah.

loading...