HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Jasad Pasangan yang Hilang 75 Tahun Silam Terkuak dari Lelehan Gletser

Pegunungan Alpen masih menyisakan banyak misteri (Foto: USA Today)
20

HARIANACEH.co.id, Valais — Jasad pasangan asal Swiss yang hilang 75 tahun lalu di Pegunungan Alpen akhirnya ditemukan di tepi gletser yang meleleh. Temuan itu sudah dilaporkan oleh media setempat.

Marcelin dan Francine Dumoulin — orang tua dari tujuh anak — pergi hendak menuang susu sapi mereka di padang rumput di wilayah Valais pada 15 Agustus 1942. Lalu keduanya lenyap tanpa jejak.

“Kami menghabiskan seluruh hidup kami demi mencari mereka, tanpa henti. Kami berpikir bahwa kami bisa memberi mereka pemakaman yang layak mereka dapatkan suatu hari nanti,” kata putri bungsu mereka, Marceline Udry-Dumoulin, 79, kepada Le Matin — sebuah surat kabar di Lausanne.

“Untuk pemakaman, saya tidak akan memakai warna hitam,” tambahnya.

“Saya pikir putih akan lebih tepat. Ini merupakan harapan, yang tidak pernah saya lewatkan,” imbuhnya, seperti dilansir USA Today, Selasa 18 Juli 2017.

Polisi lokal mengatakan bahwa dokumen identifikasi ditemukan di kedua mayat tersebut, yang didapati oleh seorang pekerja di dekat lift ski di atas resor Les Diablerets pada ketinggian 2.600 meter.

Mayat, serta buku, ransel, jam tangan, dan barang lainnya, dibawa ke lembaga medis Lausanne guna dilakukan tes DNA, kata polisi Valais dalam sebuah pernyataan.

Bernhard Tschannen, direktur gletser 3.000, sebuah perusahaan mobil kabel, mengatakan mayat-mayat itu ditemukan berdekatan satu sama lain, masih utuh tertimbun es.

“Kedua jasad itu berasal dari seorang pria dan seorang wanita mengenakan pakaian yang berasal dari periode sebelum perang,” katanya kepada surat kabar Tribune de Geneve.

Pasangan itu, berusia 40 dan 37 saat mereka menghilang, meninggalkan lima putra dan dua putri. “Ini adalah pertama kalinya ibu saya pergi bersama ayah dalam sebuah perjalanan. Dia selalu hamil dan tidak bisa memanjat gletser yang sulit,” kata Udry-Dumoulin.

“Setelah beberapa lama, kami anak-anak terpisahkan dan dipelihara keluarga. Saya beruntung tinggal bersama bibi saya. Kami semua tinggal di wilayah ini, tapi saling menjadi orang asing,” katanya.

“Saya dapat mengatakan bahwa setelah 75 tahun menunggu, berita ini memberi saya perasaan tenang yang mendalam,” tambahnya.

Komentar
Sedang Loading...
Memuat