HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

BKSDA dan Polda Aceh Berhasil Amankan Opsetan Satwa Liar Dilindungi

32

HARIANACEH.co.id, BANDA ACEH — Polisi berhasil  menangkap pelaku perdagangan satwa liar dilindungi Rabu (12/07/2017). Pelaku ditangkap sekitar pukul 11.00 WIB di rumahnya di kawasan Gampong Batu Hitam, Kecamatan Tapaktuan, Kabupaten Aceh Selatan.

Penangkapan tersebut dilakukan polisi dengan cara menyamar menjadi pembeli dan mendatangi kediaman pelaku langsung.

Dalam penangkapan, polisi berhasil mengamankan sisik Tringgiling yang sudah kering seberat 4 kilogram, lidah Tringgiling  29 biji, 2 ekor janin Rusa yang sudah diawetkan dan satu cula Badak Sumatera. Pelaku berinisial Ag (53 tahun) sudah menjadi penadah opsetan hewan dilindungi selama 6 tahun.

Direktur Dikrimsus Polda Aceh, Kombes Pol Armensyah mengatakan,“Setelah  kita mendapat informasi langsung melakukan penyamaran dan saat itu juga kita lakukan penangkapan.”

Ia melanjutkan, opsetan hewan yang dilindung itu diperoleh pelaku dari masyarakat. Bila ada masyarakat yang mendapatkan tringgiling atau hewan dilindungi lainnya, dia langsung mendatangi untuk membeli, baik yang sudah mati maupun yang masih hidup.

Demikian juga dengan opsetan hewan dilindungi lainnya, seperti cula Badak Sumatera yang sudah sangat langka di Aceh, juga ikut ditampung oleh pelaku. Pelaku kemudian mencari pasar hingga ke luar negeri.

Cula Badak Sumatera yang ikut disita dari pelaku diperkirakan berusia sekitar 50 tahun hingga 60 tahun. Ini dilihat dari struktur cula yang sudah berat, saat dijatuhkan di atas tangan terasa ada beban dan itu dibuktikan mengandung protein. Demikian juga saat dibakar, bau cula Badak sepeti bau rambut terbakar.

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Aceh (BKSDA) Sapto Aji Prabowo memperlihatkan satu cula Badak Sumatera yang berhasil diamankan oleh Polda Aceh. FOTO: HarianAceh.co.id/Zulfan Monika
Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Aceh (BKSDA) Sapto Aji Prabowo memperlihatkan satu cula Badak Sumatera yang berhasil diamankan oleh Polda Aceh. FOTO: HarianAceh.co.id/Zulfan Monika

 

 

 

 

“Kalau masih hidup, seperti Tringgiling itu dibunuh dulu baru diambil sisiknya, sedangkan dagingnya biasanya ada juga dimakan. Pelaku memasarkannya sampai ke Cina,” sambungnya

Kemudian Armensyah menambahkan untuk kasus perdagangan satwa liar dilindungi, pelaku dijerat dengan pasal 40 ayat (2) Jo Pasal 21 ayat (2) huruf A, B dan D dalam Undang-Undang  Nomor 05 Tahun 1990 Jo Pasal 55,56 KUHP dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara.

Perburuan dan perdagangan satwa liar saat ini semakin marak, tercatat pada tahun 2016 ada sekitar 7 kasus yang berhasil diamankan, dan pada tahun 2017 Polda baru mengamankan satu kasus.[]

loading...
Subscribe to our newsletter
Sign up here to get the latest news, updates and special offers delivered directly to your inbox.
You can unsubscribe at any time