HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Perdebatan Sengit AS-Rusia Terkait Korut Penuhi Ruangan DK PBB

Pertemuan anggota DK PBB (Foto: UN)
22

HARIANACEH.co.id, New York — Amerika Serikat (AS) dan Rusia melakukan kampanye berlawanan di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) mengenai jenis rudal balistik yang dilecut oleh Korea Utara (Korut) awal bulan ini. AS mendorong pemberlakuan sanksi yang lebih keras atas Pyongyang usai uji coba rudal tersebut.

Duta Besar AS Nikki Haley mengadakan pengarahan intelijen dengan sejawat DK PBB, pada Senin 17 Juli 2017. Mereka memperdebatkan Pyongyang yang meluncurkan rudal balistik antarbenua (ICBM), menurut para diplomat. Perdebatan itu dihadiri oleh Rusia dan sekutu Korut, China.

Para diplomat PBB mengatakan bahwa Rusia telah menyarankan agar pakar militer Rusia dan AS bertukar informasi mengenai rudal jenis apa yang diluncurkan.

Pengarahan AS terjadi sesudah Rusia mengirimkan sebuah surat dan diagram singkat pada 8 Juli ke 15 anggota DK PBB, yang dilihat oleh Reuters. AS menyatakan, radarnya memastikan bahwa rudal yang diluncurkan oleh Pyongyang pada 4 Juli adalah jenis jarak menengah.

Rusia membantah bahwa Korut tidak menyalakan ICBM, menghalangi dorongan Washington agar DK PBB menjatuhkan sanksi yang lebih keras kepada Korut. AS, Rusia, China, Inggris, dan Prancis merupakan anggota DK PBB yang memiliki hak veto.

Biasanya dewan tersebut mengecam rudal balistik jarak menengah yang diluncurkan oleh Korut melalui sebuah pernyataan. Beberapa diplomat mengatakan China dan Rusia hanya melihat uji coba rudal jarak jauh atau uji senjata nuklir sebagai pemicu bagi sanksi PBB lebih lanjut.

Pemimpin Korut Kim Jong Un telah menggambarkan peluncuran rudal tersebut sebagai tes ICBM, melengkapi kemampuan senjata strategis negaranya yang mencakup bom atom dan hidrogen, kata kantor berita KCNA.

Korut mendapat sanksi PBB sejak 2006 karena rudal balistik dan program nuklirnya. DK PBB sudah meningkatkan langkah-langkah tersebut dalam menanggapi lima uji coba senjata nuklir dan peluncuran dua rudal jarak jauh.

AS memberi China sebuah rancangan resolusi, dua pekan yang lalu, demi menjatuhkan sanksi lebih keras kepada Korut dalam peluncuran rudal 4 Juli. Haley sudah mengincar pemungutan suara selama beberapa pekan, namun seorang diplomat senior PBB, yang berbicara secara anonim, menggambarkan perundingan AS dengan China “lamban.”

Secara tradisional, AS dan China menegosiasikan sanksi terhadap Korut sebelum secara formal melibatkan anggota dewan lainnya. Diplomat mengatakan Washington secara informal membuat Inggris dan Prancis masuk dalam lingkaran, sementara China kemungkinan mendekati Rusia.

“Atas peluncuran rudal 5 Juli terdapat beberapa opsi demi memperkuat sanksi PBB, yakni membatasi aliran minyak ke program militer dan senjata Korut, meningkatkan pembatasan udara dan maritim serta menjatuhkan sanksi kepada para pejabat senior,” kata Haley seperti dikutip Reuters, Kamis 20 Juli 2017.

Menyusul uji coba senjata nuklir oleh Korut pada September — saat Presiden AS Barack Obama masih menjabat — Dewan Keamanan PBB dalam tiga bulan sepakat untuk memperkuat sanksi.

Tak lama setelah peluncuran rudal Korut pada 4 Juli, Rusia mengajukan keberatan atas sebuah kecaman DK PBB karena sebuah pernyataan pers yang dirancang oleh AS memberi label itu sebuah ICBM. Para diplomat mengatakan perundingan mengenai pernyataan tersebut macet.

Komentar
Sedang Loading...
Memuat