HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Pasukan Israel Bersiaga Penuh, Unjuk Rasa Berlanjut di Yerusalem

Warga Palestina berlari dalam bentrokan dengan aparat Israel yang melarang mereka masuk ke Masjid Al-Aqsa. (Foto: EPA)
0 34

HARIANACEH.co.id, Yerusalem — Yerusalem Timur terus membara, Sabtu 22 Juli 2017, yang merupakan salah satu momen terburuk dalam bentrokan Israel dan Palestina sejak beberapa tahun terakhir.

Barisan pemuda bertopeng bentrok dan melemparkan batu ke arah polisi antihuru-hara Israel di jalanan. Jumat 21 Juli, tiga warga Palestina tewas dalam bentrokan, dan satu lainnya pada Sabtu petang.

Korban di kedua belah pihak berjatuhan akibat perselisihan yang meningkat soal penempatan detektor logam Israel di pintu masuk kompleks Masjid Al-Aqsa. Sejumlah kalangan mengkhawatirkan ketegangan ini bisa terus meningkat.

Warga Palestina kembali ke Gerbang Singa di luar Kota Tua Yerusalem untuk salat dan berdemonstrasi melawan pemasangan detektor logam Israel di luar tempat suci bagi Muslim dan Yahudi.

Barikade polisi Israel membuat para pria di sekitar lapangan sepak bola menjauh dari dinding luar Kota Tua. Puluhan pria dan wanita hilir-mudik menunggu waktu salat isya, sementara anak-anak mengeluarkan botol air dan kue kering.

“Kemarin, mereka menendang saya,” kata Khalil Yassin, pekerja bangunan berusia 21 tahun. “Saya datang ke sini setiap hari — dan setiap hari jumlah kami meningkat. Kami tidak takut pada apapun. Saya hanya ingin pergi ke masjid dan berdoa,” tegasnya seperti dinukil LA Times, Minggu 23 Juli 2017.

Pembatasan Ibadah

Berdiri bersama dua pemuda lainnya, Yassin bersikukuh demonstrasi akan berlangsung selama berminggu-minggu sampai detektor logam dicabut, yang dia klaim sebagai pemaksaan terhadap umat dan mengganggu jamaah wanita.

Namun warga Palestina juga berkata detektor logam merupakan tindakan sepihak Israel untuk menegaskan kedaulatannya di tempat suci, yang dikenal oleh orang Yahudi sebagai Bukit Kuil dan Muslim sebagai kompleks Masjid-Al Aqsa. Pemasangan detektor logam juga dinilai membatasi ibadah umat Islam.

Mereka mengaku khawatir pemerintah Israel akan tunduk pada tuntutan sayap kanan Israel untuk mencabut larangan Yahudi berdoa di lokasi tersebut. Mereka takut kalau harus berbagi lapangan terbuka dengan penganut Yahudi, sama seperti mereka berbagi makam situs suci Patriark di Tepi Barat Kota Hebron.

“Selama Al-Aqsa dikepung, anak-anak muda kita tidak akan pergi dari luar gerbang,” kata Mahmoud abu Ghanem, yang keponakannya, Mohammed, ditembak mati polisi Israel di tengah kerumunan pemuda melempar batu di pemukiman Bukit Zaitun.

“Unjuk rasa ini mendorong semangat pemuda,” kata Sheik Ahmed Amra melalui pengeras suara. “Selamat kepada keluarga para martir. Anakmu meninggal demi Al Aqsa,” serunya.

Detektor Logam

Israel telah mengidentifikasi korban penusukan di pemukiman Halamish sebagai Yosef Salomon, 70 tahun, dan dua anaknya, Chaya, 46, dan Elad, 36. Ketiganya ditikam Omer Abed, pemuda 19 tahun asal Palestina. Pelaku menyelinap ke permukiman saat santap malam keluarga tersebut pada awal hari sabat Yahudi, Jumat 21 Juli malam.

“Inilah tindakan terorisme yang dilakukan oleh perusuh yang dihasut kebencian brutal,” kata kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dalam sebuah pernyataan pada Sabtu.

Pejabat Israel mengatakan detektor logam diperlukan sesudah tiga orang bersenjata menyerang dan membunuh dua polisi yang menjaga situs suci Yerusalem.

Mereka menuduh orang-orang Palestina melecut sentimen keagamaan atas detektor logam dan Masjid Al Aqsa. Israel menegaskan, siapa pun yang ingin beribadah di sana dapat melakukannya, namun harus melalui detektor logam.

Namun sebelumnya, beberapa media internasional melaporkan bahwa Israel melarang Muslim di bawah usia 50 tahun masuk ke Masjid Al-Aqsa.

Komentar
Sedang Loading...
Memuat