HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Benarkah Anda Harus Minum Habis Obat Antibiotik?

0 7

HARIANACEH.co.id — Benarkah antibiotik harus diminum hingga habis? Hingga saat ini para ahli masih beradu argumen. Sebab, tidak ada bukti untuk menjelaskan pendapat bahwa antibiotik harus diminum hingga habis.

Profesor Helen Stokes-Lampard, pimpinan Royal College of General Practitioners, Inggris, mengatakan bahwa gejala yang berangsur-angsur membaik tidak berarti infeksi (penyakit) telah berhasil dibasmi sepenuhnya. “Sangat penting untuk para pasien mengerti hal ini, mantra yang dipercaya banyak orang bahwa antibiotik harus diminum hingga habis – perubahan sekecil apa pun dapat membuat mereka bingung,” ujar Stokes-Lampard.

Di sisi lain, peneliti lain  berpendapat bahwa mengurangi antibiotik sangat penting untuk membantu memerangi masalah pertumbuhan antibiotic resistance dalam tubuh. Prof Martin Llewelyn, dari Brighton and Sussex Medical School, bersama dengan koleganya, berpendapat bahwa penggunaan antibiotik dalam jangka waktu lebih lama dari yang diperlukan hanya akan meningkatkan risiko perlawanan terhadap antibiotik itu sendiri.

Llewelyn menambahkan bahwa resep tradisional sudah ketinggalan zaman dan perlawanan tubuh terhadap antibiotik dapat terjadi saat obat-obatan (antibiotik) yang dikonsumsi dalam jangka panjang untuk mengobati suatu penyakit (infeksi) tidak lagi manjur.

“Banyak bukti baru yang menunjukkan bahwa penggunaan antibiotik dalam jangka waktu cukup singat, 3 hingga 5 hari dapat membunuh bakteri dengan baik. Namun, ada beberapa pengecualian – misalnya, hanya memberi satu jenis antibiotik untuk mengobati infeksi TB (Tuberkulosis) – yang diketahui menyebabkan perlawanan terhadap antibiotik itu sendiri dengan sangat cepat.

Minum Obat Atibiotik. (Google Images)
Minum Obat Atibiotik. (Google Images)

Resep antibiotik dirancang khusus sesuai dengan infeksi (penyakit) yang diderita oleh masing-masing orang. Sehingga tidak semua orang cocok mengonsumsi antibiotik yang sama untuk mengobati penyakit yang berbeda.

Saat ini, kebutuhan antibiotik di banyak rumah sakit mengalami peningkatan meskipun ada tren baru yang tidak perlu mengonsumsi antibiotik terlalu lama. Pertanyaan baru kemudian muncul, apalah saran seperti itu akan membuat pasien merasa jauh lebih baik dan bermanfaat bagi kesehatannya? Terutama bagi mereka (pasien) yang tidak memiliki kesempatan untuk ditinjau kembali oleh rumah sakit setiap hari.

Para peneliti kemudian menerima masukan bahwa perlu dilakukan penelitian lanjutan.
Stokes- Lampard mengaku tidak berniat mengubah kebiasaan hanya karena satu studi yang dilakukan. Ia hanya menjelaskan, penggunaan antibiotik seharusnya tidak asal-asalan atau menggunakan sembarang resep, namun harus didasari pada kondisi masing-masing pasien dan jenis penyakitnya.

“Kami menyadari konsep dimana pasien akan berhenti mengonsumsi obat-obatan (antibiotik) sesaat setelah mereka merasa ‘lebih baik’, gejala yang berangsur-angsur membaik bukan berarti infeksi (penyakit) nya sudah hilang sepenuhnya,” kata Stokes-Lampard. (BBC)

loading...