HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Pengangguran usia muda Masih Banyak di Abdya

0 37
HARIANACEH.co.id — Jumlah pengangguran usia muda di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) Provinsi Aceh masih cukup tinggi mencapai 11,66 persen dari 990,05 jiwa jumlah penduduk usia 15 tahun ke atas.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Abdya, Bahruddin, di Blangpidie, Kamis, mengatakan tingginya angka pengangguran terbuka di Abdya karena banyak masyarakat usia muda yang belum berpengalaman dalam bekerja dan minimnya keterampilan.
“Selain minimnya keterampilan, penyebab tingginya angka pengangguran terbuka juga disebabkan rendahnya daya serap tenaga kerja di kabupaten ini, baik dari sektor pertanian maupun dari sektor perkebunan,” sebutnya.
Ia menjelaskan pada tahun 2014 jumlah angka pengangguran di Abdya ini hanya sekitar 6,79 persen, kemudian pada tahun 2015 naik menjadi 11,66 persen dari jumlah penduduk usia 15 tahun ke atas.
“Kalau jumlah penduduk miskin di Abdya sekitar 25.730 jiwa atau sekitar 18,03 persen dari keseluruhan penduduk berjumlah 143.312 jiwa. Jadi, angka itu berdasarkan data tahun 2016 ini,”kata dia Bahruddin.
Tokoh masyarakat Kecamatan Tangan-Tangan, Adelin (40) ketika diminta tanggapannya mengatakan tingginya angka pengangguran di pedesaan dalam kabupaten Abdya juga dipicu oleh faktor teknologi canggih seperti Alat Mesin Pertanian (Alsintan) modern.
Ia mengatakan perkembangan ilmu teknologi pertanian yang terus menerus terjadi secara pesat sangat berpengaruh terhadap pengangguran masyarakat seperti teknologi mekanisasi panen padi seperti “Combine Harvester”.
“Dulu dalam satu hektare lahan sawah, petani membutuhkan tenaga kerja lima sampai tujuh orang untuk tenaga panen padi, sekarang tenaga masyarakat tidak perlu lagi karena sudah ada alsintan yang lebih modern itu,” katanya.
Lebih lanjut ia mengatakan selain kekurangan tenaga kerja untuk panen, tenaga manusia sekarang juga tidak dibutuhkan lagi untuk bekerja dalam proses perontokan padi dengan “power thresher” karena sudah keluarnya “Combine Harvester”.
Cara kerja lama masyarakat petani itu membutuhkan tenaga hingga empat orang untuk merontokkan padi dengan “power thresher” namun dengan peralatan lebih moderen tersebut tidak perlu lagi tenaga kerja karena sudah ada mesin.
Menurut dia, kehadiran Combine Harvester ke tengah-tengah masyarakat memang menguntungkan petani sawah ketika proses panen padi tiba, selain menghematkan biaya produksi, dengan mesin bisa lebih cepat.
“Hampir rata-rata lahan sawah di Abdya ini milik orang kaya. Ada yang disewakan kepada petani ada juga digarap sendiri. Banyak masyarakat miskin selama ini mencari nafkah bekerja mengolah sawah, tanam padi, panen padi,” katanya menambahkan. (Antara)
loading...