HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Sanksi Baru, Kim Jong Un Diminta Kembali ke Meja Perundingan

0 8

HARIANACEH.co.id — Sanki baru PBB untuk Korea Utara adalah buah hasil tekanan AS pada China yang membukukan 90 persen perdagangan negara pimpinan Kim Jong Un itu.

Kerja sama dari China sangat penting dalam upaya meloloskan sanksi PBB yang disponsori oleh AS tersebut.

Sebelumnya China dan Rusia menolak tekanan AS dengan mengatakan bahwa dialog dengan Korea Utara merupakan jalan terbaik untuk membujuk Pyongyang menghentikan program militernya.

Dutabesar China untuk PBB Liu Jieyi mengatakan bahwa resolusi “tidak ditujukan menyebabkan satu dampak negatif” pada rakyat Korea dan menekankan bahwa resolusi ini hanya meminta negara itu kembali ke perundingan menghilangkan nuklir di semenanjung Korea.

“Kenyataan dewan (Keamanan PBB) mengadopsi resolusi ini secara bulat menunjukkan bahwa masyarakat internasional memiliki suara sama terkait isu nuklir di semenanjung itu,” kata Liu di PBB pada Sabtu (6/8).

Dutabesar Rusia Vasily Nebenzia menekankan bahwa sanksi itu “bukan tujuan akhir” tetapi hanya “alat untuk mengajak negara itu melakukan perundingan yang konstruktif.”

Amerika Serikat yang didukung Jepang, Korea Selatan dan sekutu Eropa, bersikeras bahwa sanksi keras akan menekan Korea Utara kembali ke meja perundingan.

Dutabesar AS untuk PBB Nikki Haley mengatakan bahwa “langkah selanjutnya ditentukan oleh Korea Utara.”

“Amerika Serikat sudah berteriak soal ini, sekarang masyarakat internasional sudah melakukan hal yang sama dan kini Korea Utara harus memberi reaksi,” kata Haley seusai pemberian suara sanksi di Dewan Keamanan PBB i New York, Sabtu (6/8).

Korea Utara telah dikenakan sanksi PBB sejak 2006 akibat program rudal balistik dan nuklir. Sanksi PBB yang baru ini dijatuhkan setelah Korea Utara melakukan lima kali ujicoba senjata nuklir dan empat kali peluncuran rudal jarak jauh.

Menlu AS Rex Tillerson sebelumnya mengatakan bahwa Washington tidak berniat mengganti rejim Korea Utara dan siap berunding dengan Pyongyang.

Dengan pernyataan itu, tampaknya AS ingin meyakinkan Korea Utara bahwa negara ini tidak berniat mengganti kepemimpinan Kim Jong Un. (CNN)

loading...