HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Begini Cara Medeteksi ABG yang Sedang Galau, Orang Tua Wajib Tahu!

Ilustrasi remaja sedih atau galau. (Pxhere.com)
0 51

HARIANACEH.co.id — Emosi remaja masih belum stabil. Mereka masih membangun identitas diri, maunya segala hal dilakukan sendiri, mencoba berbagai peran yang berbeda, mengambil lebih banyak risiko sosial, dan mulai mencoba-coba narkoba, rokok, dan minum alkohol. Karena itulah cukup sulit untuk membedakan antara remaja yang masih serba coba-coba dengan yang depresi.

“Sulit bagi orang tua untuk mengidentifikasi remaja yang sedang depresi karena pada usia ini emosi anak-anak lebih gampang naik turun dan mereka cenderung mengasingkan diri,” kata Dr. Gene Beresin, direktur eksekutif sebuah pusat kesehatan mental remaja di Boston, Amerika Serika, kepada Live Science.

Depresi sering dialami remaja, terutama yang berumur 15-19 tahun. Pada awal masa remaja, perbandingan antara laki-laki dan perempuan yang mengalami depresi hampir sama. Tapi setelah masa pubertas, potensi remaja putri mengalami depresi dua kali lipat dari lawan jenisnya.

Kasih sayang dan perhatian orang tua sangat dibutuhkan para remaja bermasalah tersebut. Berikut kiat-kiat untuk mengetahui apakah anak remaja kita sedang depresi.

1. Amati perubahan pada anak

Coba amati apakah ada perubahan sikap pada anak, misalnya mereka lebih menutup diri, murung, lebih pendiam, dan tabiat yang mendadak berubah.

2. Cari informasi dari luar

Cari informasi dari orang lain mengenai anak remaja kita, misalnya guru, teman-teman, pelatih olahraga, atau orang tua teman. Menurut Beresin, anak-anak mungkin sungkan mengungkapkan masalah mereka pada orang tua jadi orang tualah yang harus mencari tahu dari orang lain.

Baca Juga

3. Bicara dengan anak

Rutinlah berdiskusi dengan anak-anak mengenai apa yang mereka lakukan dan bagaimana perasaan mereka. Lakukan hal itu misalnya saat sedang berdua di mobil atau makan malam. Biarkan anak-anak bicara dan dengarkanlah.

4. Sampaikan perhatian

Bukalah jalan agar anak mau menceritakan masalahnya, misalnya dengan berkata, “Ibu perhatikan kamu kurang tidur” atau “Ibu lihat kamu di kamar terus, tak pernah pergi dengan teman-teman”. Ucapan itu bisa menjadi jalan buat anak untuk mengutarakan isi hatinya.

5. Minta bantuan ahli

Jika anak-anak sudah mengaku tengah depersi, bersimpatilah pada perasaan sedih dan kacau mereka. Bila anak-anak tak mau bersikap terbuka, artinya mereka enggan mengungkapkan masalahnya. Cobalah minta bantuan ahli, misalnya psikolog atau psikiater.

6. Jangan ragu menanyakan niat bunuh diri

Mungkin anak pernah mengungkapkan niatnya untuk bunuh diri tapi kita tak menanggapinya dengan serius. Padahal seharusnya orang tua cepat tanggap bila mendengar anak mengoceh ingin mengakhiri hidupnya dan tanyakan alasannya.

Sumber:

Live Science

Komentar
Sedang Loading...
Memuat