Harian Aceh Indonesia
HARIANACEH.co.id

Advertisement

Teks Proklamasi Sempat Ditolak Sukarni karena Kurang Revolusioner

Drama Jelang Proklamasi

HARIANACEH.co.id — DALAM buku berjudul Jejak Intel Jepang karya Wenri Wanhar yang dikatapengantari sejarawan Belanda Harry Albert Poeze, ungkapan “pemindahan” kekuasaan menjadi tarik ulur perdebatan yang sengit.
“Isinya (teks Proklamasi) tidak memiliki semangat revolusiner, ” kata Sukarni blak-blakan. Bersama Chaerul Saleh, Sukarni melontarkan kekecewaanya, dalam buku tersebut.
Dua orang yang mewakili kelompok pemuda ini protes. Dengan kalimat pedas membombardir, menyerang  kelompok tua yang diwakili Soekarno dkk. Kata “Pemindahan” dalam teks Proklamasi disoal.
“Pemindahan” diterjemahkan bebas dalam bahasa Jepang sebagai gyoseiken no iten yang artinya pemindahan pengawasan adminstratif. Diksi “penyerahan” kedaulatan dinilai lebih revolusioner ketimbang “pemindahan” yang terkesan lunak dan kompromis. Begitu juga dengan kata “dioesahakan” dengan cara seksama seharusnya tidak perlu direvisi dengan “diselenggarakan”.
Sejarah mencatat teks Proklamasi hasil tulisan tangan Bung Karno. Teks yang dikumandangkan di rumah Jalan Pengangsaan Timur 56 itu disusun di lantai atas rumah Laksmana Muda Tadashi Maeda.
Awalnya menggunakan judul Maklumat Kemerdekaan. Kemudian diganti Proklamasi Kemerdekaan. Dalam penyusunan teks itu Bung Karno tidak sendiri. Di sana ada Mohammad Hatta dan Ahmad Subarjo. Sementara di antara kelompok pemuda radikal yang kelak menyandang sebutan Pemuda Menteng 31, diwakili Sukarni dan Chaerul Saleh.
Dua aktivis yang terkenal vokal dan bernyali. Keduanya juga salah satu motor penggerak peristiwa Rengasdengklok. Menculik Dwi Tunggal untuk tujuan percepatan proklamasi kemerdekaan.
Setelah melalui kesepakatan bersama, Ahmad Subarjo lah penengah sekaligus pengambil inisiatif membawa Dwi Tunggal ke rumah Laksamana Maeda.
Sukarni merupakan pimpinan asrama Menteng 31 sekaligus Ketua “kesebelasan” Komite Aksi Proklamasi Kemerdekaan. Di kelompok ini (Menteng 31) terdapat juga nama pemuda AM Hanafi, Wikana, DN Aidit, Djohar Nur, Abu Bakar Lubis, dan Subadio Sastrosatomo.
Buku “Menteng 31, Membangun Jembatan Dua Angkatan” menyebut pemuda Menteng 31 berbeda haluan dengan kelompok Prapatan 10 atau kelompok Pemuda Sjahrir.
Sebelum pecah dan masing masing berdiri sebagai dua kelompok (Menteng 31 dan Prapatan 10) yang berbeda metode perjuangan, para pemuda ini tergabung menjadi satu dalam organ Persatuan Pemuda.
Tak heran secara frontal Sukarni dan Chaerul Saleh tidak gentar menyatakan kemerdekaan Indonesia tidak perlu melibatkan anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).
Sukarni tidak ambil pusing dengan sikap anggota PPKI yang lebih dahulu menyatakan puas. PPKI menilai isi teks Proklamasi tulisan Bung Karno sudah sesuai.
Mereka beralasan kekeliruan memilih diksi dalam teks dikhawatirkan mendorong angkatan darat Jepang berpihak ke sekutu yang diperkirakan segera tiba di Indonesia.
Tetapi tidak bagi Sukarni dan Chaerul Saleh. Tanpa tedeng aling-aling menyemprot PPKI sebagai bentukan Jepang. Bahkan mereka menganggap sebagian tokoh tua yang hadir sebagai antek Jepang.
Usai merampungkan teks sekaligus menyempatkan bersantap sahur, ketiga tokoh bangsa (Bung Karno, Bung Hatta dan Ahmad Subarjo) bergegas menuju serambi ruang utama rumah Maeda.
Di sana sudah berkumpul Sutardjo Kartohadikusumo, Teuku Moh Hasan, Latuharhary, Radjiman Wediodiningrat, Amir, Jusuf Kunto, GSJ Ratulangi, IG Ketut Pudja, dan Otto Iskandardinata.
Kemudian juga Iwa Kusumasumantri, Abbas, Andi Pangeran, K Gunadi, Semaun Bakri, Sajuti Melik, BM Diah, Supomo, Samsi, Buntaran, Andi Sultan DG Radja, Hamidan dan AR Ripai.
Hadir juga sejumlah perwira militer Jepang, di antaranya tuan rumah Laksamana Maeda, Nishijima, Yoshizumi, dan Miyoshi.
Bagi Sukarni dan Chaerul Saleh, kemerdekaan Indonesia harus murni lahir dari orang Indonesia. Kemerdekaan tidak ada hubungannya dengan Jepang.
Apalagi orang-orang yang sejak awal bekerja keras menyiapkan Proklamasi justru tidak terlihat di antara kerumunan disekeliling dwi tunggal.
Saat itu jelang adzan subuh. Suasana serambi ruang utama kediaman Laksmana Maeda Jumat 17 Agustus 1945 dini hari sontak memanas. Perdebatan sengit antara kelompok tua yang diwakili Soekarno dan Hatta dengan kelompok muda yang diwakili Sukarni dan Chaerul Saleh tak terelakkan.
Bung Karno buru-buru tampil kemuka. “Rapat ini bukan rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia. Tapi adalah rapat wakil-wakil bangsa Indonesia”.
Bung Karno angkat bicara, mencoba menenangkan orang-orang di dalam ruangan. Isi teks Proklamasi bisa diterima. Namun bukan berarti serta merta memuluskan penandatanganan.
Bung Karno menghendaki semua yang hadir turut menandatangani teks proklamasi. Bung Karno beralasan semua sebagai wakil rakyat Indonesia dari seluruh penjuru Tanah Air.
Sukarni dan Chaerul Saleh kembali memperlihatkan sikap keras kepalanya. Keduanya menolak. Keduanya melihat di antara yang hadir terdapat orang orang yang terbiasa hidup dengan sistem kolonial.

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Beri Komentar
Loading...

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Terima Selengkapnya