HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Id Card Kardus Bekas dapat Tingkatkan Keterampilan Siswa dalam Peragaan Zakat Fitrah dengan Metode Sosiodrama

0 52

Oleh: Muna Warman, S.PdI [1]

HARIANACEH.co.id — Naskah pengembangan media Id Card kardus bekas dapat meningkatkan keterampilan memperagakan pelaksanaan zakat fitrah melalui metode sosiodrama pada siswa kelas VI SDN 2 Lawe Bulan. Keberhasilan proses belajar mengajar di dalam kelas sangat ditentukan oleh strategi, metode dan media/alat pembelajaran. Oleh karena itu setiap akan mengajar guru diharuskan untuk menerapkan metode dan alat peraga yang tepat. Karya inovasi Id Card kardus bekas ini dibuat bertujuan ; (1) meningkatkan keterampilan siswa memperagakan pelaksanaan zakat fitrah, (2) meningkatkan pemahaman siswa pada materi zakat fitrah. Karya inovasi ini berbahan dasar kardus bekas yang diberi nama Id Card. Dari lima belas (15) siswa yang mengikuti pembelajaran dengan nilai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) tujuh puluh (70), nilai rata rata kelas VI (enam) pada materi zakat fitrah 69, 16. Namun setelah menggunakan alat peraga Id Card kardus bekas terjadi peningkatan dengan nilai rata rata kelas 85,91. Karya Inovasi Pembelajaran tersebut mendapatkan respon positif dari rekan guru di sekolah dan di sekolah lain sesama guru Pendidikan Agama Islam (PAI) melalui kegiatan Kelompok Kerja Guru (KKG) Kecamatan Babussalam pada Gugus 6 (enam).

 

PENDAHULUAN

Pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) adalah materi yang sangat urgen dalam kehidupan sehari hari ditengah kehidupan masyarakat. Pentingnya pendidikan agama islam sejalan kewajiban melaksanakan syariat islam khususnya di sebagian daerah yang ada di Indonesia. Syariat Islam adalah tatacara pengaturan tentang sikap prilaku manusia guna mencapai ridho Allah SWT (Hendra, 2015). Dari pendapat tersebut dapat dipahami bahwa, salah satu upaya melaksanakan syariat islam kaffah tentu dengan pendidikan tingkat sekolah dasar. Usaha guru pendidikan agama islam untuk melaksanakan pembelajaran khususnya pada materi kewajiban umat islam.

Kemudian sejalan dengan tujuan pendidikan nasional yang tertuang dalam (20, Undang undang Nomor, 2003). tentang Sistim Pendidikan Nasional, yaitu berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia sehat berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk mencapai tujuan pendidikan nasional tersebut, guru adalah garda terdepan sebagai ujung tombak mencapai target atau cita-cita bangsa Indonesia khususnya pendidikan agama islam.

Standar nasional pendidikan adalah kriteria minimal tentang sistem pendidikan diseluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia (13, 2015). Dari Peraturan Pemerintah tersebut, bukan hanya pemerintah pusat, atau pemerintah daerah yang bertanggung jawab mencapai standar nasional pendidikan. Sekolah dan guru juga harus berperan dalam kemajuan pendidikan nasional. Standar Kompetensi Lulusan Pendidikan Dasar dan Menengah digunakan sebagai ajuan utama pengembangan standar isi, standar proses, standar penilaian pendidikan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, dan standar pembiayaan (20, 2016). Tuntutan dari permendikbud No. 20 tahun 2016 adalah agar guru dapat melaksanakan kegiatan pembelajaran sesuai dengan target yang diharapkan, yaitu siswa mampu mencapai nilai yang maksimal berdasarkan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang telah ditetapkan oleh guru dan satuan pendidikan. Diberlakukannya Kurikulum 2013 oleh pemerintah melalui Kemdikbud, adalah sebagai tantangan baru bagi seluruh guru di Indonesia.

Materi pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di SD Negeri 2 Lawe Bulan tidak mudah diserap oleh siswa, khususnya pada materi zakat fitrah. Hal tersebut terbukti dengan rendahnya minat dan pemahaman siswa dalam mengikuti pembelajaran dikelas pada materi tersebut. Rendahnya minat dan pemahaman siswa mengikuti pembelajaran Pendidikan Agama Islam pada materi zakat fitrah bisa saja disebabkan oleh factor kesalahan dari guru. Guru dominan menggunakan metode ceramah dan Tanyajawab saja, serta tidak didukung oleh alat peraga yang tepat. Guru juga sering melupakan bahwa kunci dari keberhasilan siswa ada pada proses pembelajaran yang dilakukan oleh pendidik. proses pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru dan siswa di sekolah hendaknya memberikan bekal berupa moral, sikap dan berbagai keterampilan. Berdasarkan uraian diatas pembelajaran PAI materi zakat fitrah dianggap masih jauh dari kondisi ideal yang diharapkan. Siswa belum sepenuhnya terampil dalam memperagakan dan memahami tata cara pelaksanaan zakat fitrah, walaupun mereka sering mendengar dan melihat langsung peristiwa tersebut melalui orang tua mereka pada saat bulan ramadhan tiba. Adakalanya para siswa mengalami kesulitan walaupun ia telah mengerahkan seluruh tenaga dan pikiran untuk belajar. Pemahaman yang didapatkan tetap saja sedikit sekali. Jelaslah dalam hal ini telah terjadi ketidakseimbangan antara tenaga dan pikiran yang telah dikerahkan untuk belajar dengan hasil belajar yang didapat. Karena itu, proses belajar perlu metode yang tepat agar masalah dapat dihindarai (Hakim, 2005). Berdasarkan pendapat tersebut, maka guru berusaha meningkatkan minat siswa dalam belajar melalui metode yang tepat dan menyenangkan bagi siswa seperti metode sosiodrama,simulasi,rekreasi dan metode lainya yang sesuai dengan materi. Dari situasi tersebut ada baiknya guru menggunakan metode sosiodrama yang akan mampu meningkat hasil belajar siswa pada materi zakat fitrah.

Media atau alat peraga sesuatu yang mampu memudahkan guru menyampaikan materi. Berdasarkan pengalaman penulis manfaat dari media pembelajaran antara lain; (i) akan menumbuhkan semangat belajar siswa karena akan menarik perhatian mereka, (ii) makna bahan pengajaran akan menjadi lebih jelas, dan memungkinkan tercapainya tujuan pengajaran, (iii) metode mengajar akan lebih bervariasi selama kegiatan belajar karena siswa dapat langsung memerankannya. Guru merangkai sebuah alat peraga sederhana berupa” Id Card” terbuat dari kardus bekas yang akan dikolaborasikan dengan metode sosiodrama pada materi zakat fitrah. Dengan metode sosiodrama dan alat peraga Id Card kardus bekas akan mampu meningkankan keterampilan siswa untuk memperagakan pelaksanaan zakat fitrah, dan juga akan meningkatkan pemahaman siswa pada materi tersebut.

Nilai siswa yang rendah serta belum mampu mencapai KKM disebabkan dari permasalahan yang timbul pada saat proses pembelajaran berlangsung. Siswa kelas VI SD Negeri 2 Lawe Bulan yang berjumlah 15 orang terdiri dari 07 laki-laki dan 08 perempuan, kebanyakan dari mereka mengalami kesulitan mengikuti pembelajaran Pendidikan Agama Islam khususnya pada materi zakat fitrah. Diantara 15 siswa hanya 07 siswa saja yang mampu mencapai nilai di atas KKM, selebihnya berada di bawah KKM, baik nilai praktek maupun nilai pengetahuan. Berdasarkan pengamatan guru, timbulnya masalah disebabkan oleh beberapa faktor sebagai berikut; (1) siswa belum mempunyai buku paket kurikulum tiga belas (K 13), (2) dana BOS sangat minim dan belum mampu membeli buku siswa, (3) guru juga kesulitan dalam mencari bahan ajar,karena tidak adanya jaringat internet disekolah, (4) guru kurang kreatif untuk membuat karya inovasi pembelajaran, (5) metode yang tidak efektif dilakukan guru dalam proses pembelajaran. Permasalahan di atas menyebabkan terjadinya beberapa hal pada siswa, yaitu; (1) aktifitas siswa rendah dalam belajar serta kurang menyukai materi PAI, (2) siswa kurang termotivasi dengan pembelajaran yang konvensional dan minim sarana belajar, (3) siswa kurang terampil melaksanakan tugas,khususnya tugas-tugas praktek, (4) hasil belajar yang dicapai siswa belum memuaskan.

Berdasarkan uraian tersebut diatas, rumusan masalah pada pembelajaran adalah sebagai berikut: (1) Apakah penggunakan Id Card kardus bekas melalui metode sosiodrama, dapat meningkatkan keterampilan siswa memperagakan pelaksanaan zakat fitrah? (2) Apakah terdapat perbedaan hasil belajar siswa sebelum dan sesudah menggunakan Id Card kardus bekas melalui metode sosiodrama pada materi zakat fitrah?

Dengan memperhatikan rumusan masalah di atas, maka tujuan Karya Inovasi Pembelajaran Id Card kardus bekas adalah sebagai berikut: (1) Untuk meningkatkan keterampilan siswa memperagakan pelaksanaan zakat fitrah. (2) Untuk memperoleh perbedaan hasil belajar siswa sebelum dan sesudah menggunakan alat peraga ID Card kardus bekas melalui metode sosiodrama pada materi zakat fitrah.

Berdasarkan tujuan di atas, karya inovasi pembelajaran Id Card kardus bekas ini diharapkan dapat bermanfaat kepada berbagai pihak antara lain sebagai berikut:

a. Bagi siswa;

  1. lebih mudah memperagakan pelaksanaan zakat fitrah,
  2. mudah memahami materi zakat fitrah,
  3. menambah keyakinan terhadap kewajiban menunaikan zakat fitrah.
Baca Juga

b. Bagi Guru;

  1. memiliki pengetahuan serta lebih mudah dalam menyampaikan materi pembelajaran,
  2. berinovasi dalam pembelajaran,
  3. memudahkan mencari solusi atau pemecahan masalah pembelajaran,
  4. lebih aktif dan kratif dalam melaksanakan pembelajaran.

c. Bagi sekolah;

  1. sekolah diuntungkan dengan adanya perbaikan pembelajaran oleh guru melalui Karya Inovasi Pembelajaran,
  2. hasil belajar yang baik akan mempengaruhi prestasi sekolah secara umum,
  3. meningkatkan hasil belajar siswa, baik ujian semester maupun ujian sekolah.

Adapun dampak positif dari Karya Inovasi Pembelajaran berupa Id Card kardus bekas ini adalah sebagai berikut:

a. Bagi siswa;

  1. meningkatkan semangat siswa dalam pembelajaran, khususnya materi zakat fitrah,
  2. siswa antusias memakai dan mencoba Id Card yang terbuat dari kardus bekas,
  3. siswa mengikuti pembelajaran dengan perasaan senang, dan aktivitas belajar yang tinggi.

b. Bagi Guru;

  1. dengan adanya inovasi pembelajaran, guru memiliki pengetahuan, dan ketrampilan, khususnya dengan memanfaatkan alat peraga sederhana dalam pembelajaran,
  2. guru berinovasi dalam pembelajaran,
  3. guru kreatif mencari solusi atau pemecahan masalah pembelajaran,
  4. guru telah mampu memanfaatkan bahan bahan bekas untuk dimanfaatkan dalam pembuatan alat peraga,
  5. dengan semangat guru mengumpulkan kardus bekas,telah membantu pemerintah dan masyarakat mengurangi sampah,sehingga dampaknya terhadap kesehatan.

c. Bagi sekolah;

  1. sekolah diuntungkan dengan adanya kreativitas perbaikan pembelajaran oleh guru melalui Inovasi Pembelajaran,
  2. sekolah terbantu dengan adanya pembelajaran yang inovasi akan meningkatkan aktivitas belajar anak yang akan bermuara pada peningkatan hasil belajar siswa.

d. Bagi masyarakat;

  1. dengan dimanfaatkannya kardus bekas oleh guru,telah membantu pemerintah dan masyarakat dalam membersihkan lingkungan,
  2. mengurangi sampah lingkungan,sehingga dapat menghindari dari penyakit.

CATATAN KAKI:
  1. Guru PAI SDN 2 Lawe Bulan , Kab. Aceh Tenggara, Aceh
loading...