HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Kelestarian Satwa Liar di Aceh dan Peran Medik Konservasi

0 230

Oleh: Agung Kusasti[1]

PERLINDUNGAN satwa liar merupakan sikap dan gerakan moral dalam mewujudkan pelestarian lingkungan. Isu lingkungan menempati porsi besar dalam isu-isu dunia, salah satunya tentang kelestarian lingkungan hidup beserta keunikan satwa liarnya. Sebagai bangsa yang dianugerahi keanekaragaman hayati paling lengkap di dunia, sepantasnya rakyat Indonesia berkewajiban menjaganya sebagai rasa syukur. Mengapa perlu dilestarikan? dan mengapa kelestarian satwa liar penting bagi umat manusia?

Pertanyaan diatas bukanlah hanya pertanyaan dalam dimensi ilmu dan aspek pengetahuan saja, melainkan juga mengenai moral dan peradaban keberlangsungan hayati. Penjelasannya menjadi berarti jika diwujudkan ke dalam bentuk tindakan moral. Setiap individu memiliki tingkat penerimaan yang berbeda atas sesuatu yang menyangkut lingkungan sekitarnya. Di sinilah penulis mencoba untuk membentuk penjelasan sendiri terhadap pelestarian satwa liar dan peran medik konservasi.

Aceh dan Kekayaan Leuser

Mengutip peryataan Gubernur Aceh, drh. Irwandi Yusuf, M.Sc pada pelantikan Bupati Gayo Lues 3 Oktober 2017 lalu, “Menjaga hutan Lauser bukan hanya untuk diwariskan kepada generasi mendatang, tapi juga untuk menjaga agar tidak terjadinya bencana”. Penegasan “Sang Kapten” pada pelantikan Bupati tersebut memberikan warning kepada kita agar hutan Lauser itu mesti dirawat, dijaga dan dilestarikan beserta keanekaragaman didalamnya demi mencegah terjadinya bencana alam yang dapat merugikan rakyat Aceh.

Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) yang merupakan salah satu Kawasan Pelestarian Alam di Indonesia dengan luasnya 1.094.692 hektar, secara administrasi terletak di dua provinsi yaitu Aceh dan Sumatera Utara. Hutan ini dominannya berada di Aceh terdeliniasi meliputi kabupaten Aceh Barat Daya, Aceh Singkil, Aceh Selatan, Aceh Tenggara, Gayo Lues, Aceh Tamiang dan Aceh Timur, sedangkan di Provinsi Sumatera Utara terdeliniasi TNGL meliputi Kabupaten Dairi, Karo, dan Langkat.

Hutan yang memiliki habitat empat spesies langka di Indonesia, yaitu Gajah, Harimau, Orangutan dan Badak Sumatera, juga merupakan sebagai paru-paru dunia, untuk itu bukan Aceh saja yang mesti menjaganya, namun warga dunia ikut berpartisipasi merawat, menjaga dan melestarikannya.

Bila dikaitkan dengan program Aceh Green yang dicanangkan Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf untuk lima kedepan, tujuannya adalah untuk menjaga kelestarian hutan dan satwa yang ada di Aceh. Seperti satwa liar, tumbuhan liar atau elemental penting lainnya untuk terjaganya keseimbangan alam.

Lalu, mengapa satwa liar perlu dijaga dan dilestarikan? Jawaban pertanyaan tersebut merupakan bentuk penjelasan keilmuan yang berisikan bahasa sains sehubungan dengan rumpun ilmu pengetahuan alam. Tetapi bentuk penjelasannya tidak terbatas hanya pada aspek sains, melainkan bisa melalui pendekatan moral atau norma tertentu yang berlaku, serta juga melalui program pemerintah.

Penyelenggaraan pemerintah yang baik akan menentukan sejauh mana tujuan penyelenggaraan itu bisa dicapai dan diwujudkan. Paradigma penyelenggaraan pemerintahan yang benar adalah, pemerintah memerintah berdasarkan aspirasi dan kehendak masyarakat demi menjamin kepentingan bersama seluruh rakyat. Penyelenggaraan pemerintahan yang baik akan mempengaruhi dan menentukan pengelolaan lingkungan hidup yang baik. Oleh karena itu, pengelolaan lingkungan hidup yang baik mencerminkan tingkat penyelenggaraan pemerintahan yang baik. Tanpa penyelenggaraan pemerintahan yang baik, sulit mengharapkan akan adanya pengelolaan lingkungan hidup yang baik.

Dengan adanya terobosan program “Aceh Green” dari Pemerintah Aceh, diharapkan menjadi langkah kongkrit dalam upaya melestarikan satwa liar yang berada dalam koridor hutan di Aceh. Hal ini juga perlu didukung dengan kesadaran dari masyarakatnya, sebab ada dua bentuk kerugian yang diperoleh masyarakat jika mengorbankan kekayaan hayatinya. Pertama, kehilangan kekayaan sumber daya alam yang sangat penting dan dibutuhkan oleh banyak manusia di luar kawasan tersebut. Kedua, tidak ada lagi kesempatan untuk mengembalikan kekayaan hayati yang sudah punah .

Generasi mendatang tidak akan pernah bisa menyaksikan dan memiliki kekayaan hayati. Untuk itu, perubahan pola berpikir bagi generasi mendatang untuk memelihara hutan dengan kearifan lokal.

Peran Dokter Hewan dalam Medik Konservasi

Sebagai dokter hewan muda yang saat ini sedang menjalankan program pendidikan profesi di Fakultas Kedokteran Hewan Unsyiah. Sangat menarik untuk mengaitkan permasalahan diatas dengan bagaimana peran profesi ini untuk menjadi salah satu solusi ke depan dalam melestarikan dan melindungi satwa liar ke depannya.

Saat ini, di Indonesia  jumlah dokter hewan yang membidangi medik konservasi sangat sedikit, apalagi di Aceh, hanya puluhan orang saja. Penyelamatan keanekaragaman hayati dan lingkungan hidup harus saling terkait antara ilmu konservasi dengan ilmu kesehatan. Konservasi dengan tiga prinsipnya sudah jelas sekali perannya terhadap gerakan penyelamatan sumber daya alam hayati, sekarang pertanyaannya justru pada hubungan antara ilmu kesehatan dengan gerakan penyelamatan keanekaragaman hayati.

Ilmu kesehatan sama penting dengan ilmu konservasi karena kedua ilmu ini mempunyai peran yang sangat signifikan terhadap kelestarian hayati bumi ini, dalam hal ini dibutuhkan suatu ilmu kesehatan khusus yang berkaitan dengan lingkungan atau dikenal dengan kesehatan lingkungan. Medik konservasi merupakan konsep yang tepat bagi gerakan penyelamatan lingkungan hidup, dalam konsep ini sudah menempatkan biosentrisme, ekosentrisme, dan bahkan ekofeminisme dalam memandang alam, sehingga hal ini merupakan dasar bagi penghargaan terhadap hak asasi alam.

Salah satu hak alam sebagaimana hak manusia adalah hak untuk hidup sehat dan sejahtera, sehingga peran medik konservasi sangatlah diperlukan untuk meningkakan hak-hak alam dan hal ini merupakan pemecah masalah terhadap isu-isu lingkungan yang berkembang saat ini. Tujuan dari medik konservasi itu sendiri adalah mencari dan melihat kesehatan ekologis dan penghuninya. Singkatnya medik konservasi melingkupi kesehatan manusia, hewan, ekosistem untuk terciptanya sebuah ekologi yang sehat dan seimbang. Sehingga kedepannya diharapkan akan banyak muncul dokter-dokter hewan yang bergerak di bidang medik konservasi di Aceh dan Indonesia sebagai bentuk dari “The Acts for The Voiceless” untuk pelestarian dan perlindungan satwa liar yang ada di negeri ini, karena bekerja di bidang ini butuh tantangan dan pengabdian.

Tidak semua satwa liar di negeri ini mampu bertahan hidup di lingkungan buatan. Sebagian besar di antaranya justru sangat rentan dan tergantung dengan habitat asalnya. Satwa liar akan tetap menjadi binatang liar di manapun mereka hidup dalam sistem sosial manusia. Mereka satwa liar bisa menjadi identitas nasional, seperti halnya kebudayaan dan adat istiadat yang menjadi ciri khas dari suatu wilayah (negara). Kearifan dalam kehidupan tidaklah begitu saja menerima paradigma usang tentang pembangunan. Kita bukan hidup untuk hanya hari ini atau masa kita sekarang, melainkan untuk masa mendatang dan untuk keturunan dan generasi selanjutnya. Yang kita inginkan adalah generasi selanjutnya bisa secara langsung mengetahui gajah, badak, harimau, dan orangutan dengan mata mereka sendiri, bukan melalui buku cerita ataupun film yang dikemas secara animasi.[]


CATATAN KAKI:
  1. Mahasiswa Kedokteran Hewan Unsyiah, tinggal di Banda Aceh. Email: [email protected]
loading...