HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Berbicara Bibit, Bupati Abdya Akmal Ibrahim Mengaku Galau

0 913

HARIANACEH.co.id, BLANGPIDIE — Bupati Aceh Barat Daya (Abdya) Akmal Ibrahim mengaku galau saat berbicara masalah bibit. Karena, bibit  menurutnya merupakan hal paling pokok dalam dunia pertanian.

Pengakuan tersebut di sampaikan Bupati Abdya, Akamal Ibrahim dihadapan puluhan undangan dalam acara Gerakan Tanam Penangkaran Benih Tanaman Pangan Program Desa Mandiri Benih Tahun 2017 Kementerian Pertanian Republik Indonesia, yang berlangsung di Desa Tangan-tangan Cut, Kecamatan Tangan-tangan, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) Kamis (30/11/2017).

“Semua, segala sesuatu dalam dunia pertanian ini dimulai dengan bibit. Makanya, kalau berbicara bibit, saya agak galau, susah. Apalagi ini penangkar,”ujarnya di awal sambutan dalam bahasa Aceh.

Karena tambahnya, semasa dirinya tidak menjabat lagi sebagai kepala daerah, beberapa orang datang kepadanya, untuk meminta beli bibit, padahal saat itu dirinya bukanlah penangkar.

”Waktu saya tidak lagi menjabat sebagai bupati, para penangkar datang menjumpai saya, untuk meminta beli, padahal saat itu saya bukan penangkar, tetapi para penangkar langsung mengemasnya, maka jadilah benih asal,” kisahnya dengan nada candaan.

Sat itu sambung Akmal Ibrahim, dirinya rutin setiap tahun menanam pagi, dan hasil padinyapun cukup bagus, sehingga orang-orang berdatangan untuk membeli bibit padinya.“Saat mereka minta beli, saya tanya untuk apa, ingin jadi penangkar kata mereka, dan padi itu dibungkus dengan berat lima kilogram, lalu di jual kepemerintah,” imbuh Akmal Ibrahim.

Makanya, lanjut Bupati Abdya, kenapa orang tidak percaya kepada penangkar, karena kerja Muebalot-balot (asal-asalan). Jika ini yang berlaku, tentu tujuh keturunan kita akan berdosa, kalau asal-asalan, karena kata Akmal Ibrahim, yang korban masyarakat miskin juga.”Makanya ada saya dengar kepala desa menolak membeli bibit penangkar, wajar kalau kerjanya asal-asalan, dan itu merupakan cambuk peringatan kepada kita,” ulasnya.

Menurut Akmal Ibrahim, apa yang disampaikan itu, merupakan masalah yang sedang dihadapi saat ini, namun, itu semua itu bisa di perbaiki. Karena saat ini, Pihak Pusat dan Propinsi, cukup tinggi memberikan dukungan untuk Abdya, ditambahlagi Abdya sudah dikenal secara nasional dibidang pertanian.

“Cukub besar dukungan, dipercayakan Abdya, sebagai zona penangkaran, sebagai sumber benih, untuk barat selatan, ini kesempatan. Namun jika asal-asal seperti dulu, tentu akan sia-sia,” cetusnya.

Akmal Ibrahim berjanji, akan memenuhi harapan pihak Propinsi Aceh, jika pihak penangkar benar-benar bekerja dengan iklas dan bertangung jawab. Jika benar demikian, Pemerintah akan mengeluarkan rekomendasi untuk pembelian bibit pada penangkaran Abdya.

“Untuk itu saya berharap, penagkaran benih berjalan dengan baik, dan saya menginginkan 2018, Abdya tidak mendatangkan lagi bibit dari luar, cukup dengan bibit penangkaran, jika ini berhasil, saya sangat berterikasih kepada semua pihak, apa lagi Benih padi sigupai sedang ditangani oleh ahli top genetic dari Jepang yang sudah melewati empat tahap, tentu ini sebuah keberuntunga bagi petani dan masyarakat Abdya,” tuturnya.

Sebelumnya, Kabid Pembenihan pertanian Aceh, Habiburahman dalam sambutannya, berharap agar pemerintah daerah membantun kekurangan keluhan para pengakar benih, sehingga Abdya menjadi, percontohan benih baik di Aceh dan Indonesia.

“Di Abdya nanti, akan terbangun sigupai center, yang itu akan mewakili, inovasi tehnologi pertanian di aceh dan saya yakin ini juga akan menjadikan percontohan di Indonesia,” demikian singkatnya.

Acara yang bertajuk, “Melalui Gerakan Tanam Kita Wujudkan Aceh Barat Daya  sebagai salah satu Kabupaten  yang Mandiri Benih di Wilayah Barat Dihadiri Bupati Abdya, Akmal Ibrahim, Kadis Pertanian Abdya, Muslim Hasan, Kabid Pembenihan Dinas Pertanian Aceh, Habiburahman, Anggota DPRK Abdya dan seluruh para undangan lainnya. (HAI/Jul)

loading...