.

Fenomena Korupsi di Indonesia dalam Paradigma Ilmu Sosiologi dan Filsafat

6 min


80
49 shares, 80 poin

Oleh: Zakia Tutdin, S.Sos[1. Alumni FISIP (Sosiologi) Universitas Syiah Kuala. Saat ini menjadi Mahasiswa Magister Sosiologi USU dan Bekerja di Yayasan Pendidikan Shafiyyatul Amaliyyah (YPSA)]

HARIANACEH.co.id, Langsa — Indonesia adalah Negara yang dipimpin oleh Presiden dengan Pemilihan Umum. Negara yang bersatu dengan slogan Bhineka Tunggal Ika dengan Lambang PANCASILA sebagai pemersatu bangsa. Negara yang diatur berdasarkan Undang-undang. Tentu setiap Negara punya Aturan-aturan yang terstruktur di bawah kepemimpinan dan pemerintahan.

Zakia Tutdin, S.Sos
Zakia Tutdin, S.Sos

Setiap warga harus mengabdi untuk negara, dan negara juga memberikan kontribusi untuk Rakyat. Beberapa aturan di bentuk baik itu secara tertulis maupun tidak tertulis. Aturan tertulis diatur dengan undang-undang sedangkan yang tidak tertulis berdasarkan nilai dan norma yang berlaku setiap wilayah (lokal).

Pancasila sebagai pemersatu bangsa Indonesia seharusnya warga bersatu dengan pancasila dengan budaya Pancasila. Pancasila tidak hanya diingat atau di hafal tetapi juga di hayati  sebagai Pedoman bagi kita untuk hidup  dalam beranekaragam suku dan budaya. Sebagi dasar memahami makna dari PANCASILA itu sendiri berikut beberapa perluasan Makna dari PANCASILA yaitu:

1. Ketuhan Yang Maha ESA

Mengandung arti bahwa pengakuan adanya Kuasa Tuhan yang Maha ESA, dan melegalkan penduduk dengan memeluk Agama sesuai dengan Agama yang disahkan di Indonesia, serta menjamin penduduk untuk beribadah sesuai dengan agama masing-masing. Ini berarti bahwa Pancasila sebagai Dasar Negara Republik Indonesia  berketuhanan yaitu umat yang beragama atau bangsa yang religius sehingga kita wajib mempercayai (beriman) terhadap adanya tuhan yang Maha ESA yaitu tuhan dari semesta alam yang mengatur seluruh hidup dan kehidupan manusia. Tentu dengan Makna dari ketuhanan yang Maha Esa mengsimbolkan bahwa bangsa Indonesia adalah  Bangsa Yang beriman menjadi panutan dan mempercayai ketuhanan yaitu pemikiran dalam filsafat tuhanan adalah pemikiran  tentang tuhan dengan pendekatan akal budi, yaitu memakai apa yang disebut sebagai pendekatan filosofis. Jadi usaha yang dilakukan manusia ini bukanlah untuk menemukan Tuhan secara absolut atau mutlak, namun mencari pertimbangan kemungkinan-kemungkinan bagi manusia untuk sampai pada kebenaran tuhan. Jadi kita sebagai bangsa Indonesia berpedoman akan Tuhan yang tidak lain akan menentukan nilai-nilai kebenaran dari apa yang dianggap baik dan buruk dalam nilai agama. Tentu setiap agama memiliki nilai yang sama akan kebaikan seperti nilai kejujuran yaitu sebagai individu tidak dibenarkan berbohong atau menipu. Salah satunya adalah Korupsi. Setiap agama tidak membenarkan manusia untuk mengambil yang bukan haknya (Korupsi). Kata Korupsi berasal dari bahasa latin corruption yang berarti kerusakan atau keboborokan, dan dipakai juga untuk menunjukkan keadaan atau perbuatan yang busuk. Korupsi merupakan keburukan, kebejatan, ketidakjujuran, dan kebusukan, dapat disuap, tidak bermoral, penyimpangan dari kesucian, kata-kata atau ucapan yang hina atau menfitnah. Jelas bahwa korupsi adalah suatu perbuatan yang tidak jujur. Setiap agama melarang umatnya untuk tidak jujur. Artinya bahwa jika kita melanggar nilai atau aturan ketidak jujuran atrinya kita telah melanggar nilai PANCASILA sila pertama.

2. Kemanusiaan yang adil dan beradap

Kemanusia yang adil dan beradap adalah makna Menempatkan manusia sesuai dengan hakikatnya sebagai makhluk Tuhan, Menjunjung tinggi kemerdekaan sebagai hak segala bangsa, dan  Mewujudkan keadilan dan peradaban yang tidak lemah.

Sila yang kedua ini menegaskan bahwa sebagai bangsa Indonesia harus memiliki rasa keadilan sebagimana mestinya tidak ada manusia yang melakukan kecurangan (Korupsi, Kolusi, dan Nepoitisme) sehingga menjamin kehidupan yang sejahtera.  Selain itu menjelaskan sebagai manusia yang beradap yaitu manusia yang memiliki adab, aturan atau prilaku manusia yang positif. Artinya ada nilai kebenaran dalam berprilaku yaitu manusia yang beradap artinya manusia yang punya prilaku yang beretika. Adab juga memiliki arti peradaban yaitu sesuatu yang khas dari setiap Negara.

Jika setiap individu mematuhi aturan sila yang kedua maka akan menjamin kesejahteraan manusia, karena setiap individu punya rasa untuk berlaku adil atas semua manusia. Akan tetapi terkadang manusia memliki kekuasaan penuh atas jabatan sehingga dapat melakukan kolusi, korupsi dan nepotisme. Pertarungan untuk mendapatkan jabatan di arena Kekuasaan kiranya memliki kemampuan untuk berlaku adil dan ideal untuk setiap pertarungan.

Jika setiap Individu mendapatkan pekerjaan dengan cara Nepotisme tentu menciptakan kondisi yang tidak Kondisif, kondisi yang tidak baik yang tidak ideal yang mengakibatkan kecurangan terstruktur dan akhirnya punya kesempatan (berkualisi) untuk berbuat kejahatan selanjutnya seperti korupsi. Tentu kegiatan ini akan merusak repotasi negara dan  akan terjadi kemiskinan struktural.

3. Persatuan Indonesia

Persatuan Indonesia memiliki makna Nasionalisme yaitu manusia yang memiliki semangat bersama rasa kesatuan yang utuh atas  Negara.  Memiliki rasa cinta bangsa dan tanah air sehingga sama-sama memperjuangkan rasa solidaritas akan semangat persatuan selanjutnya menggalang persatuan dan kesatuan Indonesia, dan menghilangkan penonjolan kekuatan atau kekuasaan, keturunan dan perbedaan warna kulit, yaitu setiap bangsa Indonesia punya rasa BhinekatunggalIka yaitu walaupun berbeda-beda suku, kebudayaan, ras, tetapi memiliki tujuan yang sama atas Negara sehingga dapat mempersatukan keinginan untuk merasakan sepenangunggan, tidak ada keberpihakan. Menumbuhkan rasa senasib dan sepenanggungan yaitu jika rakayat Indonesia ada yang miskin maka seharusnya sebagai bangsa Indonesia sebagai hasil dari kesatuan tentu tertanam akan solidaritas terhadap manusia yang lain.

4. Kerakyaratan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan

Hakikat sila ini adalah demokrasi artinya setiap orang berhak menentukan pemilihan suaranya masing-masing. Permusyawaratan, artinya mengusahakan putusan bersama secara bulat, baru sesudah itu diadakan tindakan bersama dan dalam melaksanakan keputusan diperlukan kejujuran bersama. Keterwakilan kepemimpinan atas pemilihan suara terbanyak. Jika dianalisis secara mendalam bahwa kita mempercayai kepemimpinan yang bersih.

5. Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia

Kemakmuran yang merata bagi seluruh rakyat dalam arti dinamis dan meningkat. Seluruh kekayaan alam dan sebagainya dipergunakan bagi kebahagiaan bersama menurut potensi masing-masing. Melindungi yang lemah agar kelompok warga masyarakat dapat bekerja sesuai dengan bidangnya.

Nilai-nilai dalam Pancasila telah diyakini kebenarannya oleh bangsa Indonesia. Oleh karena itu, mengamalkan Pancasila merupakan suatu keharusan bagi bangsa Indonesia. Dalam perspektif sosiologi teori Habitus dicetus oleh Pierre Bourdieu menyatakan bahwa habitus (kebiasaan) yang mengidentifikasi karakteristik umum yaitu tindakan yang diatur oleh kebiasan.

Habitus diinternalisasikan yang mereka gunakan untuk merasakan, memahami, menyadari, dan menilai dunia sosial. Melalui pola-pola itulah individu memproduksi tindakan mereka dan juga menilainya. Secara dialektika habitus adalah “produk internalisasi struktur” dunia sosial.

Jika dunia tindakan lain dari berbagai kemungkinan saling berubah, tindakan sepenuhnya bergantung kepada hukum kesadaran yang menciptakannya sehingga sama sekali tidak akan memunculkan objektivitas, jika ini bergerak karena subjek memilih untuk direvolusioner maka emosi, hasrat, dan tindakan semata-mata hanya permainan keyakinan yang buruk, dia menjadi satu ejekan menyedihkan diman orang menjadi aktor yang buruk sekaligus penonton yang baik.

Perkataan tersebut dimaksudkan unutk menjelaskan bahwa kehidupan sosial jauh lebih banyak daripada kesadaran subjektif para aktor yang bergerak di dalam kehidupan sosial itu dan mereproduksi kehidupan sosial tersebut. Ada juga realita sosial objektif yang berada diluar wilayah interaksional dan kesadaran individu.

Bourdieu seorang pemikir Prancis  menggabungkan sosiologi, antropologi, dan filsafat. Dia menulis karya klasik dalam setiap bidang keilmuan. Mulai dari budaya selera dalam distincion  sampai kajian yang menyempal tentang social suffering  dalam the weight of the World. Bourdieu memperkenalkan istilah trajektori ketika membicarakan posisi orang-orang kaya baru dan orang-orang yang kehilangan kelas. Bourdieu mengkaji berbagai macam masalah sosial seperti pendidikan, bahasa, selera, olah raga, intelektual, hubungan antara negara dan pendidikan, dan sebagainya. Setiap penelitian Bourdieu selalu diwarnai semangat mendamaikan epistemologi ilmu sosial yang bertentangan antara objektivisme dan subjektivisme,  dan juga berbagai oposisi  biner yang terdapat dalam setiap aspek ilmu sosial.

Habitus adalah struktur kognitif yang mempertandai individu dan realitas sosial. Habitus juuga merupakan struktur subjektif yang terbentuk dari pengalaman individu berhubungan dengan individu lain dalam jaringan struktur objektif yang ada di dalam ruang sosial. Habitus diindikasikan sebagai skema-skema yang merupakan perwakilan konseptual dari benda-benda dalam realitas sosial.

Dalam perjalanan hidupnya manusia memiliki skema yang terinternalisasi dan melalui skema-skema itu mereka mempersepsi, memahami, manghargai, serta mengevaluasi realitas sosial.  Berbagai skema tercakup didalam habitus seperti konsep ruang, waktu, baik-buruk, sakit-sehat, untung-rugi, berguna- tidak berguna, benar-salah, atas-bawah, depan-belakang, kiri-kanan, indah-jelek, dan terhormat-terhina.

Skema tersebut diwujudkan di dalam istilah sebagai hasil penamaan. Skema tersebut dapat dicontohkan dengan skema “sakit” yang merujuk pada suatu kondisi fisik yang tidak menyenangkan maka tindakan manusia harus diarahkan untuk menghindarinya, termasuk menghindari orang-orang yang mungkin menyebabkan munculnya kondisi sakit.

Habitus menurut Bourdieu merupakan hasil pembelajaran melalui pengasuhan aktiviatas bermain, belajar, dan pendidikan masyarakat di dalam arti luas. Pembelajaran yang kita lakukan terkadang tidak menyadari dan secara halus dan tampil sebagi suatu yang wajar sehingga akan kelihatan alamiah atau berasal dari sananya.  Habitus juga mencakup pengetahuan dan pemahaman seseorang mengenai dunia yang memberikan kontribusi tersendiri pada realitas dunia itu. Habitus juga merubah-ubah yang mengupakan adanya kompromi dengan kondisi material. Hal ini akan memberikan kontribusi baru untuk membangun sebuah prinsip baru agar memunculkan sebuah praktik didalam individu.

Bourdieu mengenalkan konsep habitus , yakni pola persepsi, pemikiran dan tindakan yang bertahan dalam waktu yang panjang, yang disebabkan oleh suatu kondisi objektif, namun tetap berlangsung bahkan ketikan kondisi tersebut sudah berubah. Bourdieu menekankan bahwa habitus adalah konstruksi perantara bukan konstruksi yang mendeterminasi. Habitus juga merupakan sebuah sifat yang tercipta karena kebutuhan. Habitus berhubungan dengan harapan-harapan dalam kaitannya dalam bentuk modal yang secara erat dihubungakan dengan modal karena sebagian habitus tersebut beruba freksi sosial dan budaya berperan sebagai pengganda berbagai jenis modal. Pada kenyataanya, ia menciptkan bentuk modal simbolis di dalam dan diri mereka sendiri.

Pancasila mampu menyatukan keragaman dan pancasila itu menjadi saksi bersatu jika keadilan dan cinta kepada manusia maka membatinkan pancasila dalam prilaku sangat penting. Jadi jika individu/ aktor semakin Pancasilais maka dia tidak Korupsi, tidak manipulasi, tidak menghakimi sesama berdasarkan keyakinan, dan berprilaku keadilan.

Jadi pancasila harus menjadi habitus. Jika aktor dalam kehidupan sosial  menanamkan nilai pancasila sebagai Habitus (kebiasaan) tentu akan menciptakan kehidupan yang kondusif. Bahkan pemikiran atau persepsi itu akan selalu terstruktur dalam waktu yang panjang dan bahkan ketika kondisi sudah berubah.  Tentu kebiasaan lama akan di atur dengan perubahan kebiasaan baru tentu perlu proses untuk mensinergikan Nilai Pancasila sebagai Habitus (kebiasaan).  Butuh proses yang panjang untuk mengubah kebiasaan Individu.

Jadi menurut Bourdieu tindakan sosial merupakan struktur tindakan itu sendiri (prilaku Individu itu sendiri).  Negoisasi dalam budaya berasal dari kesadaran habitus dan pada tingkatan individu habitus juga berarti sistem prilaku dan disposisi yang relatif permanen dan berpindah dari sutu objek ke objek lainnya secara simultan mengintegrasikan antara seluruh pengalaman sebelumnya.

Sebagai bangsa Indonesia kiranya jadikan Pancasila sebagai Habitus (kebiasaan), tanamkan nilai tersebut dalam diri setiap individu. Sehingga akan membentuk tindakan yang sinergis dengan Pancasila. Tidak ada yang berbeda-beda kita semua bersatu atas nama tanah air atas nama negara, atas nama bendera, atas nama kesejahteraan sosial, atas nama kehidupan yang arif mari perbenah diri kita. Wujudkan diri dengan beriman akan nilai-nilai Pancasila.

Jika selama ini Pancasila belum menjadi sebuah nilai Habitus maka mulai saat ini berubahlah mari lakukan Revolusi, perubahan untuk Habitus (Kebiasaan) yang menanamkan nilai-nilai yang Pancasilais. Bagi mereka yang koruptor coba berikan beberapa alternatif bagi kita seorang akademis buatlah paradigma untuk membantu mengubah kebiasaan buruk menjadi kebiasaan yang baik. Wujudkan nilai PANCASILA mulai sekarang.[]

0/5 (0 Reviews)

Komentar


Apa Reaksi Anda?

Marah
10
Marah
Suka Suka
13
Suka
Takjub Takjub
12
Takjub
Kaget Kaget
10
Kaget
Takut Takut
9
Takut
Lucu Lucu
8
Lucu
Sedih Sedih
5
Sedih
Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Gif
GIF format