HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Nelayan Sabang Suguhkan Atraksi Budaya Adat Meulaot

Sabag Sail 2017

0 1.062

HARIANACEH.co.id, SabangNelayan Kota Sabang, Provinsi Aceh, menyuguhkan atraksi Budaya Adat Meulaot di Gampong Balohan, Senin (4/12/17) pagi. Atraksi budaya memeriahkan Sail Sabang 2017 itu, mendapat perhatian sejumlah pengunjung termasuk wisatawan mancanegara.

Usai acara seremoni, atraksi adat meulaot diawali dengan menepung tawari kapal nelayan, kemudian kapal dibawa beberapa meter dari pantai dan para nelayan melempar jala. Jala itu kemudian dibentuk melingkar. Seiring dengan itu, tarian tarik pukat ditampilkan di tepi pantai.

Setelah itu, para pengunjung menyantap kuah beulangong yang dimakan dengan nasi bungkus ala Aceh atau yang disebut bu kulah.

Panglima Laot Kota Sabang, Muhammad Ali Rani mengatakan, setiap tahunnya nelayan di Sabang menyelenggarakan Khanduri Adat Laot. Namun, untuk jadwal kendurinya tidak pasti tergantung kesepakatan nelayan dan musim. Panglima Laot sendiri mengawasi berjalannya hukum laut, budaya melaut, dan memantau peristiwa laut.

“Pada hakiki sebenarnya, kenduri meulaot ini dibuat dengan nelayan dilarang melaut selama tiga hari. Biasa dibuat pada Rabu habis, tapi itu tidak pasti,” kata Muhammad Ali disela acara adat meulaot.

Kenduri meulaot digelar untuk mensyukuri hasil laut dan membagi hasil yang didapat nelayan kepada anak yatim. Selain itu, ujar Ali, kenduri adat meulaot menjadi wadah silaturahmi nelayan. Pada kenduri laot hari ini, 11 panglima laot dari 11 teluk di Sabang ikut hadir di Gampong Balohan.

Diluar penyelenggaraan adat meulaot tersebut, Muhammad Ali berharap pemerintah Kota Sabang membangun pabrik es untuk nelayan Sabang agar memudahkan mereka mengawetkan ikan hasil tangkapan.

Ketua MAA Kota Sabang, Ramli Yus mengatakan, atraksi budaya adat meulaot kali ini bagus untuk memberitahu generasi muda dan masyarakat internasional akan salah satu budaya melaut di Aceh. Dengan dilaksanakan kegiatan rutin tersebut, lanjutnya, proses pelestarian budaya juga berlangsung.

Sekda Sabang, Sofyan Adam menjelaskan, atraksi budaya adat meulaot merupakan tradisi leluhur yang harus dilestarikan untuk menghormati budaya lokal.

Sebelumnya, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Reza Fahlevi mengatakan, Disbudpar Aceh turut menggelar atraksi ini untuk mempromosikan budaya nelayan Aceh setiap hendak turut ke laut mencari untuk menjalankan profesinya.

Atraksi Budaya Adat Meulaot juga digelar guna meningkatkan pengetahuan masyarakat dan pengunjung tentang prosesi adat melaut Aceh yang mengandung nilai syariat, ekonomi, dan sosial. Sekaligus menambah daya tarik pelaksanaan event Sail Sabang.

“Kegiatan ini menyampaikan pesan kepada masyarakat internasional bahwa adat meulaot telah berlangsung turun-temurun di Aceh, yang bertujuan melestarikan laut dan pesisir pantai untuk menjaga lingkungan dan keberlangsungan hidup biota laut, dimana dampaknya dapat menopang kehidupan manusia terutama masyarakat nelayan sepanjang pesisir pantai yang ada di Aceh,” ujarnya.[*]

loading...