HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Mengenang Tragedi Tsunami Aceh 2004

Bulan Desember, Bulan Gempa Bumi

Kondisi Aceh paska dilanda gempa hebat. FOTO/Viva
0 1.208

Oleh: Ghazi Al Ghifari[1. Mahasiswa Fakultas Psikologi UIN Ar-Raniry Banda Aceh]

HARIANACEH.co.id, Banda Aceh — Masyarakat Aceh tentunya masih mengingat jelas tragedi yang terjadi pada 26 Desember 2004. Tragedi yang merenggut hingga 280.00 jiwa (menurut Wikipedia) tersebut juga merupakan salah satu bencana alam terbesar dalam sejarah umat manusia. Wajar saja jika bencana tersebut telah menjadi salah satu bagian inti di dalam Long Term Memory masyarakat Aceh. Belum berhenti sampai disitu, pada bulan 20 Februari 2008 Aceh kembali diguncang gempa bumi, tepatnya di kabupaten Simeulue. Gempa yang berkekuatan 7,3 SR yang mengguncang daerah tersebut seketika menghentikan seluruh kegiatan masyarakat yang menghuni pulau tersebut. Gempa tersebut telah merenggut 4 jiwa di sore hari itu.

Selanjutnya, pada tahun 2013, gempa kembali mengguncang, kali ini gempa mengguncang kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah yang notabene merupakan dataran tinggi di Provinsi Aceh. Gempa ini merenggut nyawa sebanyak 39 orang dan melukai lebih dari 400 orang. Lebih dari 3.000 rumah hancur. Berlanjut ke tahun 2016, tepatnya pada tanggal 7 Desember. Kali ini masyarakat di kabupaten Pidie Jaya dikejutkan dengan guncangan gempa, tepatnya beberapa saat ketika adzan subuh berkumandang. Tentunya, dengan kodisi yang masih gelap gulita, masih banyak jiwa yang terlelap dalam tidurnya sehingga tidak mengejutkan jika jumlah korban gempa tersebut mencapai 104 jiwa.

Beberapa saat yang lalu, masyarakat Aceh kembali dikejutkan oleh guncangan gempa bumi. Gempa yang jauh lebih kecil daripada yang sebelumnya telah melekat didalam Long Term Memory masyarakat Aceh. Namun, setelah gempa tesebut beberapa orang berasumsi bahwa “Desember yang dulunya hanya di dominasi oleh curah hujan yang tinggi, kini dikenal sebagai bulan gempa.” Asumsi tersebut tentunya mengarah ke masalah psikologis, dimana asumsi tersebut muncul akibat luka lama yang kembali bangkit. Pasca bencana terjadi, bermacam jenis bantuan hilir mudik masuk ke bumi Serambi Mekkah, namun sangat disayangkan, hal yang paling penting seringkali dilewatkan oleh Pemerintah yang tentunya memegang peran penting dalam mengatur kebutuhan pasca bencana. Pemerintah serta masyarakat seringkali mengganggap sepele kondisi psikologis pasca gempa. Dampak dari tidak adanya proses tersebut seringkali muncul dalam jangka panjang yang mempengaruhi pola pikir masyarakat Aceh terhadap suatu bencana.

Pemerintah Provinsi Aceh tentunya memiliki peran yang sangat vital dalam hal ini. Terlebih lagi, seiring bertambahnya tahun, Aceh masih menjadi juara umum dalam jumlah Orang Dengan Masalah Kejiwaan (ODMK) se-Indonesia. Memang tak terbantahkan, sumbangan besar dari peningkatan ODMK berasal dari meningkatnya pengguna NAPZA di kalangan masyarakat Aceh. Wajar saja jika sampai sekarang masih terselip istilah Aceh Pungo yang terbukti dengan prestasi tersebut. Namun, bukan berarti penurunan angka ODMK hanya berfokus pada pemberantasan Narkoba. Masalah lainnya adalah, masih banyak masyarakat Aceh yang tidak tahu betapa pentingnya Psikologi untuk kehidupan. Jika mendengar kata Psikologi, sebagian besar masyarakat langsung berasumsi bahwa kata aneh tersebut digununakan untuk orang gila. Dalam hal ini, tentunya dibutuhkan banyak peran pemerintah untuk mensosialisasikan netapa pentingnya psikologi terhadap kehidupan masyarakat Aceh.

Trauma dan Depresi

Bagi masyarakat Aceh, gempa bumi menyebabkan bekas tersendiri dalam jiwa. Bekas tersebut nantinya dapat menyebabkan sebuah rasa sakit, maka rasa sakit yang ditimbulkannya juga banyak menyangkut kejiwaan. Apalagi bila kejadian ini juga dialami langsung, pengalaman itu bisa menjadi traumatis.tentunya, akan sangat sulit mencari perbandingan pengalaman traumatis ini dengan pengalaman lain. Sebab kata traumatis itu sendiri sudah mengandung arti yang parah, walaupun kondisi sebenarnya mungkin tidak sangat berarti, tetapi bagi yang merasakan memiliki arti yang sangat menyiksa jiwa. Pengalaman traumatis tersebut akan menyebakan berbagai dampak lainnya. Untuk dampak ringan misalnya adalah menjadi peragu dalam melakukan sesuatu yang disebabkan oleh peristiwa (trauma) yang sama akan terulang kembali. Jika takutnya masih dapat di generalisir tentunya tidak akan berdampak apa-apa. Namun, pada kenyataannya ketakutan karena trauma seringkali mempengaruhi tingkat kinerja manusia.

Salah satu ciri emosi takut adalah usaha untuk menghindari sumber atau yang diasosiasikan sebagai sumber ketakutan. Dengan demikian orang yang bersangkutan memiliki lingkup gerak yang lebih sempit. Semisal, seseorang yang takut akan gempa bumi, akan merespun getaran tanah yang disebabkan oleh alat berat disuatu tempat kontruksi. Akibat lebih lanjut adalah terhambatnya peluang untuk mengembangkan diri. Masih lumayan jika orang tersebut membatasi diri karena ketakutan, berarti kemungkinan-kemungkinan masih bisa dikembangkan. Bencana tidak hanya menimbulkan ketakutan tetapi juga bisa menghilangkan dorongan, dorongan untuk kerja, untuk maju, dan berkembang. Kondisi ini tentunya berdampak terhadap kualitas SDM yang sangat dibutuhkan dalam proses pembangunan bagi Aceh yang sedang mempromosikan diri ke dunia Internasional.

Baca Juga

Gangguan traumatis juga bisa melenyapkan dorongan untuk hidup. Depresi atau kesedihan yang mendalam bisa berkembang menjadi keputusasaan. Merasa bahwa segala usaha dan miliknya telah tiada. Seseorang yang mengalami gangguan traumais dapat beranggapan bahwa tidak ada ada guna berusaha jika hasilnya sama saja. Asumsi ini memang tidak benar, namun tidak mudah meluruskannya.

Dorongan Sosial

Selama ini, penanganan korban bencana Alam di Aceh hanya berfokus pada penolongan yang bersifat fisik. Penangan seperti ini memang sangat dibutuhka oleh korban, namun belum cukup. Jika pun ada penolongan yang bersifat psikologis semisal pendekatan sosial maupun dorongan sosial, tentunya penanganan yang dilaukan tidak maksimal. Biasanya, hal yang sering didapat para korban, misalnya anak-anak hanya hiburan pembangkit motivasi seperti menanyi bersama, didatangi artis, maupun lainnya. Kegiatan tersebut tentunya tentunya tidak berdasarkan ilmu psikologi sehingga hanya bersifat sementara. karenanya, peran ahli psikologi akan lebih membantu mengembalikan motivasi kembali ke posisi semula, tentuny dengan berbagai cara yang sesuai dengan psikologi.

Pendekatan

Salah satu intervensi awal yang dapat diberikan untuk membantu para korban adalah adalah Pscyhological First Aid (PFA). Menurut World Health Organization (2011), PFA merupakan tindakan humanis dan mendukung dalam membantu seseorang yang menderita dan membutuhkan bantuan akibat bencana alam atau krisis. PFA sendiri dapat dilakukan dengan cara mendengarkan, membuat penyintas merasa nyaman, membantu seseorang untuk terhubung orang lain, dan menyediakan informasi serta dukungan praktis untuk memenuhi kebutuhan penyintas. PFA sendiri tidak harus dilakukan oleh para ahli, tetapi dapat dilakukan oleh komponen masyarakat yang sudah dilatih terlebih dahulu. Oleh karenanya, ahli psikologi yang telah terlebih dahulu mengerti tentang PFA dapat memberikan pelatihan kepada masyarakat agar dapat mandiri.

Sementara ini pemerintah Aceh lebih terfokus dalam memberikan bantuan fisik ketika becana alam melanda, sedangkan bantuan non-fisik belum banyak terlihat. Salah satu masalah yang menjadi tugas besar masyarakat Aceh adalam mensosialisasikan psikologi ke seluruh penjuru Aceh sehingga ketersediaan para pemberi pelayanan PFA tidak lagi menjadi masalah.

Standar intervensi PFA bedasarkan Evidence-based yaitu berdasrkan bukti atau fakta yang terjadi dilapangan. Standar lainnya adalah PFA haruslah praktis serta dapat diterapkan dilapangan. PFA yang diterapkan tentunya sesuai dengan tahapan perkembangan manusia, adaptif, dan sesuai denga budaya.

Tahapan selanjutnya yang dapat dilakukan oleh psikolog adalah mitigasi yaitu tahapan persiapan yang dilakukan sebelum bencana muncul sehingga memperkecil resiko ketika terjadi bencana. Psikolog dapat berkontribusi dalam tahap mitigasi dengan kemampuan berkomunikasi dan melakukan psikoedukasi terhadap masyarakat yang tentunya dilakukan secara terstruktur.[]

Komentar
Sedang Loading...
Memuat