.

Memory SMONG

2 min


19
19 shares, 19 poin

Oleh: Ampuh Devayan[note]Mantan Redaktur Harian Serambi Indonesia[/note]

HARIANACEH.co.id, Banda Aceh — Bagi yang menggunakan kalender Masehi, Selasa hari ini genap 13 tahun tragedy Smong/ tsunami (26 Desember 2004-26 Desember 201). Sedangkan kalender Hijriyah yang digunakan umat Islam, terjadi hari Ahad 14 Zulkaedah 1425 H, dan peringatannya jatuh pada hari Minggu 06 Agustus 2017 lalu (14 Zulkaidah 1437 H).

Ampuh Devayan
Ampuh Devayan

Smong Aceh adalah episode kecil yang dibentangkan Tuhan untuk kita penontonnya: manusia yang hidup. Bumi Aceh diguncang gempa, dan hanya dalam durasi menit, bulir-bulir air pekat dari laut menyatu membentuk bah, menyiram daratan Aceh. Hampir sebagian peta Serambi Mekkah koyak digerus, dan membawanya pergi ratusan ribu saudara kita masuk dalam pusara ombak.

13 tahun tragedi itu terasa melintas cepat. Allah telah memberi tanda, menggelayut perkasa di gulungan badai Smong. Gelombang yang tinggi dengan kekuatan arusnya hampir sama dengan kecepatan pesawat terbang tiba-tiba saja menerjang pantai dan daratan. Semuanya yang dilewati porak poranda, pupus dari muka bumi. Mayat manusia bergelimpangan, bangunan-roboh dan lenyap. Struktur pantai berubah, yang tertinggal setelah itu hanyalah lumpur-lumpur hitam berbalut dengan sampah kehidupan yang muntah dari perut bumi. Ratusan ribu penduduk kelaparan dan kedinginan di tenda-tenda pengungsian. Mereka berkurung dalam ketakutan oleh ratusan kali gempa susulan. Dalam keletihannya, airmata berlinang menangisi ketidakberdayaan.

Manusia tak bisa apa-apa, hanya bisa berserakan dan terbujur kaku. Begitulah kemudiannya, atas kehendak Allah swt pula bangsa-bangsa di dunia mengulurkan tangannya. Bantuan kemanusiaan datang dari mana-mana. Yang sakit diobati, yang lapar diberi makan. Yang galau dan putus asa ditemani dengan iman dan asuhan kejiawaan. Bahkan yang berperang pun akhirnya berdamai.

Sekarang, adakah panorama kedukaan dalam memori ini akan mempertebal ketaqwaan, rasa insyaf, dan kekuatan iman kepada kebesaran dan kekuasaan Allah swt. Adakah kita telah memungut hikmah, hari ini, dan menjadi kesadaran dalam perjalanan menempuh sejarah kehidupan masa depan agar tidak berpaling dari Allah?

Smong, hanya kiamat-kiamat kecil yang dipraktikkan Tuhan. Dia mempertontonkan keperkasaannNya lewat layar bencana. Seperti tampilan bioskop atau sinetron di layar televisI. Manusia yang tergulung ombak laut adalah objek perenungan bagi kita yang hidup. Begitu film usai, bioskop ditutup dan televisi dipadamkan. Para penonton merekamnya, membangun cerita, kemudian mengomentarinya, Dan alurnya tidak pernah sama karena sutradaranya Maha mencipta cerita.

Sudah 13 tahun berlalu, apakah cerita sedih karya tuhan itu, telah kita lupakan, adakah kita mengirim sepotong doa untuk mereka yang telah mendahului? Apakah kita sudah memungut faedahnya? Memahami musibah sebagai ajaran atau peringatan? Atau justru kita makin lupa diri? Makin zalim, dan jahanam? Wallahu…

0/5 (0 Reviews)

Komentar


Apa Reaksi Anda?

Marah
4
Marah
Suka Suka
6
Suka
Takjub Takjub
5
Takjub
Kaget Kaget
4
Kaget
Takut Takut
2
Takut
Lucu Lucu
1
Lucu
Sedih Sedih
12
Sedih
Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Gif
GIF format