Secangkir Kopi Bersama Sultan

Sore hening, rinai hujan merambat lembut di bibir tampungan. Kami duduk dengan beberapa kerabat di balai balai yang kami namai Panteue. 8 min


36
47 shares, 36 poin
Secangkir Kopi Bersama Sultan
Ilustrasi Secangkir Kopi dalam Dialog Imajiner. FOTO/Grid.ID

Oleh: Ampuh Devayan1

SORE hening, rinai hujan merambat lembut di bibir tampungan. Kami duduk dengan beberapa kerabat di balai balai yang kami namai Panteue.  Balai yan kami sebuat sebagai sekolah alam itu selalu ramai diskusi. Namun sekarang balai itu agak sepi. Kecuali bila ada  sahabat yang mampir untuk sekedar melepas penat,  mungkin risau. Sesekali terjadi diskusi liar yang sering tak ada ujung. Ya begitulah. Memang sekarang ini banyak persoalan sering tidak jelas ujung pangkal. Tanpa penyelesaian!

Persoalan yang menimpa rakyat negeri terus saja tambah. Berlipat lipat, berbelit belit, dan bertindih tindih. Belum kelar yang satu sudah muncul lainnya. Seperti benang kusut! Mulai soal pendidikan tak lagi berdaulat, para elit negeri saling gontokan dan suka meradang, kelompok yang mengaku beragama tapi akhlaknya aniaya, pemukatan jahat, bisikan berbisa para penjilat, ibu-ibu pejabat doyan arisan sampai soal prilaku teroris bikin aksi keji. Yang sedang aktual soal gonjang ganjing anggaran, peseiaran, dan slogan-slogan penncitraan yang jadi bunga bibir setiap musim.  “Mari kita hebatkan negeri, kita perjuangkan demokrasi, entaskan kemiskinan, dan akan memperbaiki nasib kalian rakyat ini.”  Tapi tinggal janji. Realitas rakyat tetap saja pada keadaanya, miskin, susah dan menderita, ditipu, bodoh dan dibodoh-bodohi pula. Rakyat pun tak kalah gigih. Lempar sambu caci maki. Baik yang anti maupun yang membelahi.

Advertisements

“Ya sudah. Sekarang ini memang sudah tidak jelas mana yang benar, mana yang salah, siapa yang bodoh siapa yang bijaksana. Semuanya berselemak. Maka kita jangan ikut memperkeruh keadaan ini. Sebab itu tidak bijak dan haram, kata fatwa ulama!”

“Bang, jangan bicara ulama!” sela seorang kerabat.

“Mereka yang mengklaim ulama itu lebih dahsyat licinnya. Kita wajib tazim pada mereka bila saja tetap teguh sebagai suluh umat. Bukan meracuni umat!” timpalnya sambil berkacak pinggang.

Advertisements

Dulu Aceh memang dikenal ladang ulama. Mereka memiliki marwah, tak akan tergoda jabatan, apalagi berfoya-foya. Ulama itu penerus Nabi. Mereka berada di hati umat, memberi pencerahan. Itulah yang membuat Aceh pernah mengalami pucak kejayaan. Aceh dijuluki pewaris malak. Aceh menjadi depot ilmu dan pusat tamadun dunia. Ulama Aceh dahulu, berani mengatakan yang benar meski ia harus dikucilkan, bahkan ada dieksikusi. Tapi itu dulu!

Di tengah diskusi yang mulai menjurus pada adu pendapat itu, sontak kami hentikan. Seorang pria gagah, tinggi kekar, mata tajam dan rambut separuh ikal, mampir setelah menghentikan seekor Gajah yang dikendarainya. Kami makin terperangah memandang laki-laki penuh marwah, memakai baju kebesaran terlihat sebilah rincong bertampuk emas terselip di pinggang. Pasti itu bukanlah sembarang orang.

“Assalamualaikum”.
“Waalaikumussalam warahmatullah” serentak kami jawab salamnya. Dan spontan, kami menunduk tanda takzim.

Advertisements

Suasana menjadi hening, kecuali saling menoleh dan berusaha menenangkan hati yang beraduk-aduk duga-duga, siapa seseorang yang asing. Maklum, sebagai orang awam jarang ketemu dengan sosok orang yang begitu berwibawah seperti itu. Dan tampaknya orang tersebut  memahaminya. Dengan lembut ia meminta kami agar kembali duduk seperti biasa. Dia pun mulai bicara:

“Hambalah sang penguasa perkasa negeri-negeri di bawah angin, yang terhimpun di atas tanah Aceh dan atas tanah Sumatera dan atas seluruh wilayah-wilayah yang tunduk kepada Aceh, yang terbentang dari ufuk matahari terbit hingga matahari terbenam)”.

(Orang itu diam sejenak).

Tanpa jeda, aku langsung menyahut, “Ampun daulat Tuanku Paduka! Maafkan hamba bila sudah terledor tingkah dan tak ta’zim kepada Paduka (Orang itu hanya tersenyum). Aku separuh sujud menundukkan kepala yang spontan diikuti teman-teman dengan raut wajah kebingungan.

ku baru sadar saat mendengar kalimat-kalimat yang diucapkan lelaki perkasa itu. Aku ingat itu adalah penggalan surat Sultan Iskandar Muda, ketika membalas surat Ratu Elizabeth 1 yang dibawa utusannya, Sir James Lancester. Surat Iskandar Muda, untuk menunjukkan kepada dunia betapa pentingnya Kerajaan Aceh sebagai kekuatan utama di dunia.

Advertisements
  1. Mantan Redaktur di Media Harian Serambi Indonesia

Bagikan ke teman anda!

36
47 shares, 36 poin

Komentar

Apa Reaksi Anda?

Suka Suka
0
Suka
Takjub Takjub
0
Takjub
Kaget Kaget
0
Kaget
Takut Takut
0
Takut
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Marah Marah
0
Marah
Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Image
Photo or GIF
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Countdown
The Classic Internet Countdowns