HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Jejak Digital Tercipta atas Tindakan Masyarakat Itu Sendiri

Aplikasi GPS Google Maps pada Samsung S5. FOTO/Shutterstock
0 572

HARIANACEH.co.id — Pada awal tahun 2018 sebuah e-mail dari Go-Jek, masuk. Dalam e-mail itu Go-Jek memberikan informasi kilas-balik atas apa yang saya lakukan bersamanya setahun penuh, pada 2017 lalu. Menurut Go-Jek, saya telah melakukan 253 kali perjalanan dan menghemat 5.710 menit waktu di jalan.

Selain Go-Jek, ada pula Uber yang memberikan informasi serupa. Dalam laman Year With Uber 2017, saya disebut telah memanfaatkan layanan UberMotor, layanan ride-sharing khusus motor aplikasi itu, sebanyak 11 kali. Dengan jarak tempuh total sepanjang 93 kilometer.

Informasi kilas-balik seperti yang dilakukan Go-Jek maupun Uber merupakan bagian dari jejak digital atau digital footprint. Sandi S. Varnado dalam jurnalnya berjudul “Your Digital Footprint Left Behind at Death: An Illustration of Technology Leaving the Law Behind” mengatakan bahwa jejak digital merupakan kumpulan jejak dari semua data digital, baik dokumen maupun akun digital. Jejak digital dapat tersedia baik bagi data digital yang disimpan di komputer maupun yang disimpan secara online.

Manusia masa kini menghasilkan jejak digital jauh lebih besar dibandingkan masa sebelumnya. Ini terjadi karena masifnya penggunaan smartphone. Tahun 2017 diperkirakan ada 2,32 miliar pengguna smartphone di seluruh dunia. Pada tahun ini jumlahnya diprediksi meningkat hingga mencapai 2,53 miliar pengguna.

Melalui smartphone hampir segala jejak digital bisa tercipta. E-mail yang dikirim/diterima, pembaruan status di media sosial, jejak navigasi GPS, hingga foto/video yang disimpan, semuanya menghasilkan jejak digital.

Dalam laman Techterm, jejak digital terbagi menjadi dua, dilihat dari cara bagaimana suatu kegiatan digital menghasilkan jejak. Ia adalah jejak digital pasif dan jejak digital aktif. Jejak digital pasif merupakan jejak yang tidak sengaja ditinggalkan. Tidak ada tindakan aktif yang dilakukan si pemilik jejak dalam menghasilkan jejak digital itu. Contoh dari jejak digital pasif ialah rekaman linimasa Google MapsSegala tujuan, rute, maupun titik-titik yang dikunjungi, terekam oleh Google Maps. Perekaman tujuan maupun rute dilakukan tanpa ada tindakan aktif si pemilik jejak digital untuk memberikannya.

Google Maps mampu merekam jejak terutama bagi segala smartphone yang memasang aplikasi tersebut dengan mengaktifkan fitur GPS. Sayangnya, dalam laporan yang dirilis Quartz, Google dikatakan tetap mengumpulkan data lokasi meskipun fitur lokasi atau GPS dimatikan pemilik smartphone.

Sementara itu jejak digital aktif merupakan segala jejak digital yang tercipta atas peran aktif si pengguna. Ini misalnya termuat dalam segala unggahan atau pembaruan status di media sosial. Serta segala e-mail yang dikirim pemilik jejak digital. Dengan sadar mereka menciptakan jejak digitalnya sendiri.

jejak digital
Infografik by Tirto
Baca Juga

KONSPIRASI BUMI DATAR

Foto Bumi Bulat dari Teknologi Satelit vs Teori Bumi Datar

Jejak digital, yang tercipta atas segala tindak-tanduk digital penggunanya, sesungguhnya lebih tepat disebut sebagai bom ranjau yang tertanam di dalam si pemilik jejak. Bom akan “meledak” terutama jika ada pihak-pihak tertentu yang menargetkan si pemilik jejak digital. Apalagi jika si pemilik jejak diketahui memiliki data-data digital yang merugikan dirinya. Kelly Moore dalam jurnalnya berjudul “The Influence of Personality on Facebook Usage, Wall Posting, and Regret” menyatakan bahwa 20 persen pengguna Facebook tak mau apapun yang ia unggah ke media sosial itu dilihat oleh atasan mereka.

Gwenn Schurgin O’Keeffe dalam jurnalnya berjudul “The Impact of Social Media on Children, Adolescents, and Families” menyatakan bahwa meskipun jejak digital memiliki risiko yang berbahaya, pemilik umumnya tak menyadari. Ia mengatakan, ada anggapan “apa yang terjadi di ranah online, hanya ada di dunia itu” oleh para pemilik jejak digital.

Soal bahaya jejak digital ini juga dilontarkan oleh Pramono Anung, Sekretaris Kabinet pada pemerintahan Joko Widodo. Melalui akun Twitter resminya, Pramono mengatakan: Bagi siapapun yg pengen jabatan politik, dan harus ikut berkompetisi dlm pilihan, hati2 dengan sampah digital yg berkaitan dgn tindakan moralitas akan tersimpan dengan rapi dan akan dikeluarkan pada saat yg tepat #BOMSampahDigital #SekedarInfo.

Politikus yang terkena serangan jejak digital di awal tahun politik ini ialah Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas. Melalui keterangan media yang ia berikan, Azwar mengaku dikirimi gambar-gambar dari masa lalunya. Ia tidak menjelaskan bagaimana gambar-gambar masa lalunya itu bisa beredar luas, termasuk siapa yang pertama kali mengambil gambar tersebut dan menyimpannya.

“Saya juga dikirimi macam-macam gambar di masa lalu untuk mencegah saya mengambil kebijakan-kebijakan tertentu […] Ada sejumlah upaya pembunuhan karakter, termasuk teror yang kerap saya diterima dan keluarga,” terang Azwar yang kini didaulat PDI Perjuangan sebagai calon gubernur Jawa Timur.

Jejak digital terbukti merupakan sebuah “barang” yang berharga. Berbeda dengan jejak fisik yang mudah dihilangkan, jejak digital sangat sulit untuk dihapuskan, bahkan setelah bertahun-tahun.

“Kehadiran fisik dari data (jejak digital) yang sangat kecil yang bahkan kita tidak pikirkan (bisa) menjadi kekacauan,” terang Michael Kaiser, direktur eksekutif National Cyber Security Alliance pada Wired. “Tapi (akumulasi kehadiran fisik yang kecil itu) kita mengumpulkan banyak sekali serpihan (jejak digital) dan beberapa di antaranya bisa berbahaya jika hilang atau dicuri,” tambahnya.

Salah satu contoh jejak digital berharga ialah informasi pribadi yang dengan mudah diberikan pengguna guna menukarkannya dengan akun e-mail gratis, akun media sosial gratis, atau akun-akun digital lain secara gratis. Tong Sun, pimpinan pada Scalable Data Analytics Research Lab, yang berada di bawah naungan Xerox, menulis di Wired mengatakan bahwa ini tercipta atas iming-iming “personalisasi” yang ditawarkan pemilik layanan digital.

Jejak digital, merujuk karya Varnado, yang dimiliki masing-masing warga Amerika Serikat diperkirakan berharga mendekati $55 ribu. Sayangnya, nilai berharga jejak digital ini banyak tak disadari pemiliknya. Jejak digital akan berharga bila si pemilik dirugikan atas jejak digital dirinya yang dimanfaatkan pihak-pihak tak bertanggungjawab.[]

Sumber:

Tirto

Memuat
Komentar
Sedang Loading...