HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Demi Jinakkan Harimau Sumatera Boni dan Bonita, BBKSDA Panggil Pawang Asal Aceh

Sudah 40 hari lebih harimau Sumatera yang menerkam karyawati perkebunan sawit berkeliaran di Desa Tanjung Simpang, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau. FOTO/Liputan6.com/M Syukur
0 1.039

HARIANACEH.co.id, Indragiri Hilir — Sudah 40 hari lebih harimau Sumatera yang menerkam karyawati perkebunan sawit, Jumiati, berkeliaran di Desa Tanjung Simpang, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau. Perangkap dipasang dengan umpan kambing tak dilirik hewan buas yang diberi nama Bonita ini.

Tak kunjung dimakannya umpan membuat tim dari Balai Besar Konservasi Sumberdaya Alam (BBKSDA) Riau mendatangkan pawang harimau dari Aceh. Sang pawang bernama Sarwani sudah berada di lokasi memburu harimau yang ternyata ada dua ekor itu.

“Satu kami nama Boni dan lainnya Bonita. Nama terakhir diduga kuat sebagai penyerang Jumiati,” ucap Kepala Humas BBKSDA Riau, Dian Indriati, di Pekanbaru, Selasa siang, 13 Februari 2018.

Selain pawang harimau, juga ditambah beberapa perangkap, termasuk yang terbuat dari bahan alami seperti papan. Sejauh ini, sudah enam perangkap dipasang dengan umpan kambing dan kambing hutan.

Tak Pedulikan Umpan

Harimau Sumatera
Sudah 40 hari lebih harimau Sumatera yang menerkam karyawati perkebunan sawit berkeliaran di Desa Tanjung Simpang, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau. FOTO/Liputan6.com/M Syukur

Hanya saja, dari beberapa rekaman video yang dipasang di depan perangkap, hewan dengan nama Panthera tigris Sumatrae itu hanya lewat tanpa mempedulikan umpan di dalamnya.

“Namun begitu, petugas terus berusaha menangkap sesuai dengan prosedur penanganan konflik antara manusia dengan hewan,” sebut Dian.

Meski telah menempuh berbagai cara, petugas yang juga terdapat aparat kepolisian, lembaga konservasi internasional WWF, dan dibantu masyarakat, tidak mau menggunakan peluru bius untuk ditembakkan kepada harimau. Padahal, harimau itu sering berpapasan dengan petugas.

Menurut Kepala Bidang I BBKSDA Riau, Mulyo Hutomo, cara itu tidak akan ditempuh karena bisa membahayakan harimau dan tim di lapangan. Apalagi, bius yang digunakan baru bereaksi setelah 30 menit.

“Setelah ditembak bius, harimau itu akan lari. Nanti bisa sulit melacaknya,” kata Hutomo.

Bila pun nanti ditemukan setelah dibius, perlu beberapa penanganan. Ditakutkan harimau itu kembali sadar, sehingga membahayakan petugas yang ingin menangkapnya. “Ada pedomannya yang harus dijalankan supaya tidak membahayakan satwa dilindungi dan manusia,” Hutomo menegaskan.

Sebelumnya, Hutomo juga menyebut ada perubahan pelaku pada harimau di lokasi teraebut. Harimau yang awalnya menghindari manusia, sekarang justru mendekati dan masuk perkampungan.

“Harimau ini terus terlihat di sekitar perkebunan. Bahkan, berani berhadapan dengan sekelompok orang,” ujarnya.

Sumber:

Liputan6

Komentar
Sedang Loading...
Memuat