HARIAN ACEH INDONESIA
HARIANACEH.co.id

Memilih Keluar dari Istana, Fatmawati Tetap Mencintai Sukarno

Kisah Cinta Sang Proklamator

Ilustrasi Cinta Sukarno dan Fatmawati. GAMBAR/Tirto
0 955

Ia hadir mewujudkan mimpi Sukarno memiliki keturunan. Memilih keluar dari Istana karena enggan dipoligami.

HARIANACEH.co.id — Suatu hari pada Agustus 1938, Fatmawati bersemuka dengan Sukarno. Fatmawati, anak semata wayang Hasan Din, pemimpin Muhammadiyah Bengkulu, baru beranjak 15 tahun. Pertemuan keduanya berjalan biasa. Saat itu belum ada pertanda apa pun jika kelak Fatmawati bakal jadi istri Sukarno.

Malam itu Fatmawati tak pulang ke Curup. Sukarno menawari Fatmawati untuk bersekolah di Rooms Katholik Vakschool bersama Ratna Juami, anak angkat Sukarno dan Inggit Garnasih. Fatmawati masih mempertimbangkannya karena, pertama-tama, terbentur persyaratan masuk.

“Bung Karno menjamin akan mengurus hal itu dan mulai hari itu juga aku tinggal di rumah Bung Karno,” kenang Fatmawati dalam memoar Fatmawati, Catatan Kecil Bersama Bung Karno (1985: 32-33).

Baca Juga

Akhirnya Fatmawati menerima tawaran itu dan Sukarno menyambutnya sebagai anggota keluarga. Sukarno, 37 tahun saat itu, memandang Fatmawati sebagai gadis remaja yang spesial. Menurutnya, Fatmawati adalah gadis cantik yang menyenangkan dan cukup cerdas; pelipur rasa sepi bagi Sukarno.

Tetapi, Sukarno agaknya belum berani berharap lebih. “Yang aku rasakan padanya adalah kasih-sayang seorang ayah,” kata Sukarno seperti dituturkan kepada Cindy Adams dalam Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia (2014: 170).

Sukarno bisa beranggapan demikian, tapi Inggit Garnasih bisa membaca perasaan terdalam suaminya. Sebagai perempuan yang peka, ia merasakan percik-percik ketertarikan dari pandangan suaminya itu. Sekali Inggit menyatakannya, Sukarno membantahnya. Tetapi Inggit terlanjur cemburu, yang menimbulkan suasana rikuh di antara keduanya.

Sumber:

Tirto

Memuat
Komentar
Sedang Loading...