.

Tak Berkategori

Ketidakmampuan CRU Bekerja Secara Maksimal Saat Meredam Konflik

1 min


70
22 shares, 70 poin

HARIANACEH.co.id, Banda Aceh — Pemerintah membangun Conservation Response Unit (CRU) di beberapa wilayah untuk meredam eskalasi konflik yang kian tinggi antara manusia dan gajah. Tujuannya untuk meredam dan mereduksi konflik. Namun, dengan segala keterbatasan, penempatan pos “tanggap darurat” itu belum berjalan maksimal.
Seperti dikutip dari laman aceHTrend, penempatan gajah jinak dan pawang (mahot) di CRU awalnya merupakan respon dari banyaknya sengketa wilayah antara gajah dan manusia di Aceh. Pertarungan untuk merebut “tanah air” membuat korban terus berjatuhan. Populasi satwa payung ini pun kian tergerus akibat dibunuh ataupun mati sendiri karena kekurangan daya tahan tubuh. Akan tetapi, dengan anggaran yang minim, pakan gajah jinak yang tidak sesuai antara asupan dan kebutuhan, membuat semuanya menjadi centang walau belum menjadi centang perenang.
“Dengan membangunan CRU menempatkan gajah jinak dan petugas bekerja sama dengan pemerintah Aceh dan dengan pihak swasta untuk merespons setiap kejadian konflik,” kata Sapto Aji Prabowo, Kepala BKSDA, Jumat pekan lalu (2/2/2018).
Ia menjelaskan, Balai Konservasi Sumber Daya Alam Aceh (BKSDA) membangun tujuh pos CRU yaitu di Aceh Timur, Aceh Utara, Pidie, Aceh Jaya, Aceh Barat, Aceh Selatan dan Bener Meriah pos ini bertujuan untuk merespons setiap konflik yang terjadi namun keberadaan pos ini belum berjalan maksimal.
Namun tambah Sapto, CRU di Aceh masih sangat terbatas dari segi jumlah serta anggaran. “Sarana CRU masing sangat terbatas. Namun pelan -pelan kami akan mengefektifkan, pada tahun ini kami juga akan mengadakan kendaraan roda dua di daerah agar cepat merespons laporan masyarakat,” ujarnya.
Di samping itu Sapto juga berharap pihak pemerintah kabupaten ikut memberikan dukungan pendanaan. “Tidak mungkin semua pendanaan kami tanggung. Eskalasi konfliknya kian kencang, dengan luasan kawasan yang harus kami tangani, tentu support dari pemkab sangat kami butuhkan,” terangnya.
Hingga saat ini, selain membangun CRU, pihaknya juga membentuk tim respons konflik dari unsur masyarakat. warga dilatih untuk mampu melakukan penggiringan dan pengusiran gajah liar, baik dengan menggunakan petasan maupun meriam bambu.
Hal lainnya yang menurut Sapto harus dilakukan adalah membentuk kawasan perlindungan gajah. Di sana harus dilakukan pengkayaan pakan dan sealami mungkin, agar gajah kerasan. “Penataan ruang juga harus berbasis ekologi, sehingga kawasan jelajah gajah tidak dimasukkan ke dalam kawasan produksi masyarakat,” imbuhnya.[]

0/5 (0 Reviews)

Komentar


Apa Reaksi Anda?

Suka Suka
8
Suka
Takjub Takjub
6
Takjub
Kaget Kaget
5
Kaget
Takut Takut
4
Takut
Lucu Lucu
2
Lucu
Sedih Sedih
13
Sedih
Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Gif
GIF format