.

Fenomena Kekinian Pemuda Dalam Pandangan Syahrizal Usmansyah

3 min


67
87 shares, 67 poin

HARIANACEH.co.id, Langsa – Mentari begitu gagahnya pagi itu, Rabu (21/2/2018), ketika awak media memacu sepeda motor menyusuri jalan jenderal Ahmad Yani menuju sebuah kampus kebanggaan masyarakat Kota Langsa, Aceh Tamiang dan Aceh Timur yang terletak di Gampong Meurandeh Kecamatan Langsa Lama. Tak berselang lama, laju kenderaan berhenti disebuah gedung bercat putih. Tampak tertulis Universitas Samudera, disinilah tujuan itu berlabuh.
Di dalam gedung, kesibukan dan rutinitas sebuah kampus terus berlangsung. Sesosok pria muda bersahaja tampak sibuk dengan bundelan berkas di meja kerjanya. Senyumnya sumringah, ketika disapa. “Silahkan duduk, sebentar ya, bereskan berkas ini dulu baru kita berbincang,” ujar lelaki ini sembari menawarkan minuman.
Tak lama, seluruh berkas tadi sudah dirapikan. Sambil menyeruput kopi yang tersajii, bincang ringan, santai tapi serius mulai mengalir.  “Sejatinya pemuda merupakan tulang punggung pembangunan. Sejak masa perjuangan kemerdekaan bangsa, peran kaum muda sudah tercatat dalam lintasan sejarah,” begitu celoteh pemilik nama Syahrizal Usmansyah, SE, M.Si, ini mengawali pembicaraan.
Peristiwa maha penting menjelang proklamasi kemerdekaan Indonesia, tak lepas dari kegigihan kaum muda mendesak Soekarno-Hatta agar segera memproklamirkan kemerdekaan tersebut, kemudian dikenal dengan peristiwa Rengasdengklok. Demikian nukilan sejarah pergerakan kaum muda dikisahkan kembali oleh Kasubbag Perbendaharaan Biro Rektor Universitas Samudera ini, sembari menambahkan, akselerasi pembangunan tak bisa dilepaskan dari kaum muda. Karenanya, eksistensi pemuda terus menjadi lokomotif pembangunan disemua lini, baik dikancah nasional maupun kedaerahan.
Pria kelahiran Tanjung Ara, Panton Labu, 10 Juni 1979 ini memang terbilang salah satu mantan aktivis dimasanya. Tak ayal, perbincangan mengenai eksistensi pemuda dilahap tuntas olehnya. Dalam kacamatanya, secara keseluruhan komponen muda harus menjadi garda terdepan dalam beragam isu aktual. Terlebih, sekaitan dengan kesejahteraan masyarakat.
“Kaum muda itu dinamis, tapi fokus dan berkomitmen. Hanya saja, dimasa lampau sedikit sekali peran yang dipercayakan kepada kaum muda. Tapi, dizaman milenial ini pemuda semakin terdepan. Sebagai pengusaha, politisi, birokrat maupun kepala daerah sudah banyak dari sosok muda,” sebutnya.
Kini, lanjut dia, tokoh muda telah berkiprah dan membawa perubahan besar bagi kehidupan bangsa maupun daerah. Walau, tak dipungkiri kaum muda masih perlu dibimbing oleh seniornya agar lebih matang dan berkualitas. “Dampingan senior tentu perlu sebagai masukan sehingga kebijakannya menjadi lebih bermanfaat ditengah masyarakat,” tutur Wakil Bendahara DPD II KNPI Kota Langsa ini.
Pemuda Kekinian
Dengan kondisi kekinian, mantan pacar Aza Mariani Ulfa ini bertutur, pemuda harus mengetahui potensi dirinya. Artinya, anak muda “kekinian” harus sudah mengetahui minat dan bakat yang ada pada dirinya, atau istilah masa kini “passion”. Bukan lagi saatnya bertanya apa yang bisa diberikan kepada negara, melainkan dengan “possion” yang dimiliki bisa berbuat apa?
Dikatakan, banyak pemuda saat ini ‘mati kutu’ bak robot yang kehabisan daya baterainya ketika ditanya tentang rencana hidupnya kedepan. Apalagi, kaum muda yang masih mengeyam bangku perkuliahan. Bahkan tak jarang seorang sarjana yang bingung setelah lulus kuliah hendak bagaimana, bekerja apa.
Ayah empat anak ini melanjutkan, lulusan perguruan tinggi yang hebat bukan semata mereka yang memiliki Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) Cumlaude, tapi seorang sarjana yang tak kebingguan harus kemana, bagaimana dan bekerja apa setelah usai studinya di kampus. Inilah yang paling hebat, dengan tidak bermaksud mengesampingkan para sarjana cumlaude.
“Tidak semuanya demikian. Tapi fenomena kelimpungan masih kerap mendera sarjana muda. Cumlaude penting, menngetahui apa yang harus dilakukan usai kuliah jauh lebih penting,” papar mantan Kasubbag Umum BKPP Kabupaten Aceh Timur ini mengulas isu kekinian pemuda.
Tak hanya itu, Syahrizal mengingkatkan pentingnya kaum muda memiliki kemandirian. Maksudnya, tambah dia, memiliki keahlian dan keterampilan yang bisa diandalkan sebagai suatu karya yang bisa menghasilkan pundi rupiah. Kemandirian ekonomi penting dalam menata masa depan yang gemilang.
Disamping itu, kaum muda harus memiliki jiwa kepemimpinan. Estafet kepemimpinan pasti beralih dari generasi ke generasi. Disinilah dibutuhkan kesiapan pemuda dalam menyongsong estafet tersebut. Leadeship, katanya, dapat diperoleh melalui berorganisasi. Baik diinternal kampus maupun organisasi kepemudaan dan pengkaderan yang ada.
“Tak cukup dengan mandiri secara ekonomi. Manajemen kepemimpinan juga dibutuhkan pada seorang pemuda. Belajar berorganisasi dan mengorganisasikan diri adalah hal terpenting dalam mencapai taraf akhir eksistensi kaum muda,” paparnya.
Memang apa yang disampaikannya adalah buah dari segudang pengalaman Syahrizal ketika masih aktif sebagai aktivis. Sebelum diangkat sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) dengan pangkat/golongan III/a ditahun 2007 silam, ia telah malang-melintang dalam berorganisasi baik ditingkatan Badan Eksekutif Mahasiswa, organisasi pengkaderan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) maupun organisasi sosial seperti Palang Merah Indonesia (PMI).
Ketika disinggung apakah Syahrizal akan bertarung sebagai salah seorang kandidat Ketua KNPI Kota Langsa pada hajatan Musda mendatang, sembari tersenyum lepas ia menjawab diplomatis.
“Sebagai pemuda, berkonstribusi dan mengabdi di induk organisasi kepemudaan adalah khitah berorganisasi. Siapapun kandidat akan ditentukan melalui jumlah dukungan OKP sebagai pemilik suara. Saat ini, saya fokus menuntaskan sisa masa kepenggurusan dibawah komando ketua Zulfan,” terang mantan Gubernur Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Samudera ini meyakinkan.
Alumnus program pasca sarjana Universitas Syiah Kuala ini menegaskan, kondisi pemuda saat ini harus dikemas dengan baik. Agar kekuatan pemuda menjadi patron dalam pembangunan multi aspek. Wadah kepemudaan harus bisa mewarnai pembagunan. Peran strategis penting dimainkan sesuai porsi dan ritme yang ada.
Dinilah, ucapnya, dibutuhkan seorang tokoh sentral sebagai simbol pemersatu pemuda, khususnya di Kota Langsa agar kedepan pemberdayaan sumberdaya kaum muda bisa terdistribusi dengan baik.
“Elemen pemuda perlu bersatu. Kemudian membelah diri pada beragam profesi yang ada seperti pengusaha, birokrat, politisi, karyawan, akademisi, jurnalis, maupun aktivis dan lainnya. Ini yang disebut peemberdayaan sumberdaya,” imbuh ayah Tazkia Ulya Rifa, Syahira Najiha, M Aqlan Azka dan M Aqna Azka ini.
Diakhir perbincangan, Syahrizal mengingatkan pentingnya kaum muda menangkal bahaya laten yang mulai bergeliat akhir-akhir ini. “Salah satu tugas kaum muda adalah menangkal dan mewaspadai bahaya laten. Meneguhkan ideologi dan keimanan adalah bagian menangkal prilaku laten tesebut, disamping tidak terlibat narkoba,” pungkasnya. (Her)

0/5 (0 Reviews)

Komentar


Apa Reaksi Anda?

Suka Suka
5
Suka
Takjub Takjub
4
Takjub
Kaget Kaget
2
Kaget
Takut Takut
1
Takut
Lucu Lucu
13
Lucu
Sedih Sedih
10
Sedih
Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Gif
GIF format