.

Apakah Hukum Menghadiri Pernikahan Teman Non Muslim di Gereja?

5 min


69
20 shares, 69 poin

HARIANACEH.co.id – Apakah hukum menghadiri pernikahan seorang teman non muslim di Gereja? Pertanyaan seperti ini terkadang tidak terlalu dihiraukan oleh sebagian umat muslim. Dalam masalah ini, para ulama memiliki pendapat yang saling bersilangan mengenai hukum memasuki gereja.

Sebagian ulama mengatakan jika makruh hukumnya masuk ke dalam gereja, sebab Gereja adalah tempatnya para syaithon yang dikemukakan kalangan Madzhab Hanafi.

Sebagian ulama mengatakan jika tidak boleh atau haram masuk ke dalam gereja kecuali atas izin dari mereka atau non muslim yang mengundang.

Pendapat ini juga diikuti sebagian Syafi‘iyyah serta sebagian lainnya yang mengatakan boleh meskipun tidak mendapatkan izin terlebih dulu dan merupakan salah satu cara meningkatkan akhlak.

Sebagian ulama lagi mengatakan jika boleh seorang muslim memasuki Gereja dan melakukan sholat di dalam Gereja selama tidak ada patung, gambar atau salib.

Pendapat ini berasal dari kalangan madzhab Hanbali, namun sebagian dari mereka juga berpendapat jika makruh melakukan sholat di dalam Gereja yang ada patung atau gambar.

Dari ketiga pendapat ulama diatas, mereka semua sepakat jika haram masuk ke dalam Gereja apabila dilakukan untuk turut serta dalam perayaan hari raya non muslim baik itu di Gereja atau tempat lainnya.

Ini diambil dari sabda Nabi Shollallahu ‘alaihi wa sallam, “Janganlah kalian menemui orang-orang musyrik di gereja-gereja (tempat ibadah) mereka pada hari raya mereka, karena kemurkaan (Allah) turun kepada mereka.”

Hukum Menghadiri Pernikahan Non Muslim

Untuk menentukan apa dasar hukum Islam dari menghadiri undangan atau pernikahan non muslim bisa dilihat pada beberapa ayat berikut ini.

Al-Qur’an Surah Al-Mumtahanah Ayat 08

“Allah tiada melarang kamu untuk berlaku baik dan berbuat adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena fungsi agama dan tidak mengusirmu dari negerimu”.

Allah SWT tidak mempersoalkan umat muslim untuk bersikap baik pada non muslim terutama dzimiy. Meskipun berbeda dalam segi agama, akan tetapi sikap baik harus selalu dijalin dengan baik supaya hubungan yang tercipta juga baik.

Jami’ual-Ahadits, XIX:461

Selain itu, Rasulullah SAW juga melarang umatnya untuk menyakiti dzimy dalam sabda-Nya.

“Barangsiapa yang menyakiti kafir dzimmiy (kafir yang berdamai dengan kita), maka akulah musuhnya. Dan barang siapa yang bermusuhan dengan aku, aku juga akan memusuhinya nanti di hari kiamat.”

Menghadiri pernikahan non muslim adalah bentuk dari perbuatan sikap baik dimana artinya kita sudah menghargai undangan yang mereka berikan dan mereka juga akan merasa senang dengan kehadiran kita dalam memenuhi undangan yang diberikan tersebut sehingga akhirnya tali keutamaan menyambung tali silaturahmi bisa tetap terjaga dengan baik.

Kitab Fiqh Madzhab Syafi’i

Dalam Nihayatul Muhtaj disebutkan, Tidak wajib menghadiri undangan orang kafir, tetapi dianjurkan jika ada harapan masuk Islam, kerabat dekat, atau tetangga.”[note]Nihayah Al Muhtaj ila Syarh Al Minhaj, 21:356[/note]

Al-Inshaf, 13:146

Abu Daud berkata, “Imam Ahmad ditanya: “Apakah undangan orang kafir dihadiri?” Beliau menjawab: “Ya.” Zhahir perkataan Imam Ahmad ini menunjukkan bahwa beliau membolehkan dan tidak memakruhkannya.

Bahkan kata Syaikhul Islam, perkataan Imam Ahmad ini bisa dipahami bahwa mendatangi undangan orang kafir hukumnya wajib sehingga masuk ke dalam hak dan kewajiabn dalam Islam.

Karena sikap Imam Ahmad yang meng-iya-kan pertanyaan mungkin untuk dimaknai: “Ya, sebagaimana undangan orang muslim, yang statusnya wajib dipenuhi.”

Sementara Az Zarkasyi berpendapat terlarangnya menghadiri walimah orang kafir. Beliau berdalil dengan terlarangnya memberikan salam dan mengunjungi orang kafir.

Fatwa Lajnah dalam Fatawa Al Islam, 1:6407

Interaksi dengan orang kafir dalam urusan duniawi biasa dan tidak sampai pada taraf hubungan kecintaan atau loyalitas seperti contohnya pacaran beda agama, jual beli, terjalin cinta beda agama, menghadiri undangan jamuan makan atau hal mubah lainnya maka diperbolehkan dan selama tidak menimbulkan bahaya untuk orang muslim dan bahkan datang ke undangan yang diberikan sebagai sarana untuk dakwah supaya masuk Islam, maka hal tersebut justru sangat ditekankan.

Pada dasarnya umat muslim diperbolehkan untuk menghadiri pernikahan non muslim dengan syarat adanya kemaslahatan syar’i, tidak terdapat acara keagamaan didalamnya dan bersih dari simbol ataupun gambar yang menjadi ciri khas dari agama tersebut.

Sedangkan untuk pernikahan yang dilangsungkan di gereja ataupun di aula gereja, maka sebaiknya dipertimbangkan sebab ada kemungkinan tempat tersebut tidak bersih dari simbol atau gambar yang menjadi ciri khas agama dan juga untuk menghindari terjadinya fitnah seperti terpengaruh dengan ritual keagamaan atau acara yang diselenggarakan atau terbawa dengan suasana.

0/5 (0 Reviews)

Komentar


Apa Reaksi Anda?

Marah
13
Marah
Suka Suka
2
Suka
Takjub Takjub
1
Takjub
Kaget Kaget
13
Kaget
Takut Takut
12
Takut
Lucu Lucu
10
Lucu
Sedih Sedih
8
Sedih
Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Gif
GIF format