.

“Merajam” Keputusan Radikal Rektor UIN Kalijaga

6 min


58
23 shares, 58 poin

Oleh: Dr. Muhammad Yusran Hadi, Lc., MA[note]Penulis adalah Ketua MIUMI Aceh, pengurus Dewan Dakwah Aceh & anggota Ikatan Ulama dan Da’i Asia Tenggara.[/note]

HARIANACEH.co.id – Kita patut menyayangkan sikap rektor UIN Sunan Kalijaga (Suka) Yogyakarta Prof. KH. Yudian Wahyudi, PhD yang melarang cadar bagi mahasiswi di kampusnya baru-baru ini. Tindakan sang rektor ini telah melecehkan dan “mengeksekusi” syariat Islam serta melukai perasaan umat Islam. Menuding cadar sebagai aksi radikalisme sama saja menghina Islam.

Tentu saja Keputusan Rektor UIN Suka ini menuai reaksi dan kecaman keras serta penentangan dari umat Islam. Aturan rektor tersebut dianggap telah melukai hati umat Islam dan menimbulkan keresahan dan kegaduhan, bukan saja di internal kampus UIN Sunan kalijaga, namun juga di luar kampus dan telah menasional

Alasan rektor mengeluarkan aturan larangan cadar adalah untuk mencegah berkembangnya paham radikal di kampus UIN Suka. Alasan ini sangat tidak logis dan terlalu mengada-ada. Ini menunjukkan kekhawatiran yang berlebihan (ghuluw) dan radikal. Maka sikap rektor terkesan islamophobia. Oleh karena itu, sebagai seorang muslim penulis merasa perlu untuk mengkritisi dan “merajam” keputusan radikal rektor dan pemahaman orang-orang liberal yang sepaham dengannya. Agar kasus larangan cadar seperti ini tidak terulang di Indonesia.

Bantahan Terhadap Keputusan Radikal Rektor UIN

Sebagai seorang muslim, penulis terpanggil untuk membantah keputusan radikal rektor tersebut. Penulis menilai keputusan rektor itu bersifat radikal ditinjau dari beberapa aspek:

Pertama, ditinjau dari aspek agama, aturan rektor itu telah melanggar syariat Islam dan menentang perintah Allah Swt dan Rasul-Nya yang memerintahkan umat Islam untuk menutup aurat. Padahal seorang muslim wajib mentaati Allah Swt dan Rasul-Nya. Allah Swt berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman! taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad) dan ulil amri (pemegang kekuasaan). Kemudian jika kamu berbeda pendapat  tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul-Nya (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian..”(An-Nsa’: 59)

Dalam ayat yang lain, Allah Swt berfirman: “Hanya ucapan orang-orang yang beriman, yang apabila mereka diajak kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul memutuskan (perkara) di antara mereka, mereka berkata, “Kami mendengar, dan kami taat. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (An-Nur: 51). Allah Swt juga berfirman: “Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia telah tersesat, dengan kesesatan yang nyata.” (Al-Ahzab: 36). Oleh karena itu, yang radikal itu sebenarnya adalah orang yang melarang cadar, karena dia telah menentang hukum Allah Swt.

Kedua, ditinjau dari aspek hukum, keputusan rektor ini melanggar hukum yang berlaku di Indonesia, bahkan internasional, yang menjamin kebebasan bagi setiap orang untuk beragama dan mengamalkan agamanya. Pasal 29 Undang-Undang Dasar 1945 dan Pancasila menjadi dasar hukum bagi setiap orang untuk mengamalkan agamanya, termasuk muslimah bercadar. Di negara-negara lain, bahkan di Eropa sekalipun yang penduduknya minoritas muslim, memakai cadar tidak dilarang. Kebebasan untuk menjalankan agama dijamin oleh negara-negara itu. Maka sangat aneh, jika menutup aurat dengan cadar yang merupakan ajaran Islam dilarang di UIN Suka di negara Indonesia yang notabene penduduknya mayoritas muslim.

Bercadar itu hak dan pilihan seseorang yang harus dihormati. Maka tidak boleh dilarang atau dipaksa. Selama tidak menganggu perkuliahan atau tidak memaksa orang lain atau tidak ada upaya radikalisasi, maka cadar tidak boleh dilarang. Oleh karena itu, tindakan sang rektor ini bisa dipidanakan, karena telah melanggar hukum NKRI. Selain itu, juga telah melecehkan dan mendiskreditkan agama dengan tuduhan radikal terhadap cadar sebagai ajaran agama.

Ketiga, ditinjau dari aspek Hak Asasi Manusia (HAM), keputusan rektor itu telah melanggar Hak Asasi Manusia (HAM) dan merusak nilai-nilai kemanusiaan. Padahal bercadar itu hak dan pilihan seseorang. Setiap orang berhak berekspresi dengan pakaian apapun, selama tidak menganggu orang lain dan tidak melanggar norma sosial dan agama. Begitu pula berhak mengamalkan ajaran agamanya. Seharusnya sang rektor toleran dan menghargai hak asasi mahasiswi dalam bercadar selama mereka tidak mengganggu perkuliahan atau tidak memaksa orang lain bercadar atau tidak ada upaya radikalisasi. Tuduhan radikal terhadap mahasiswi bercadar telah melukai hati umat Islam, khususnya para mahasiswi yang bercadar di UIN, baik mahasiswi UIN Suka maupun bukan.  Padahal mereka wanita baik yang menjaga auratnya dan taat beragama. Sikap intolerasi dan otoriter yang diperagakan oleh sang rektor merusak nilai-nilai kemanusiaan. Oleh karena itu, tindakan sang rektor ini sangat tidak manusiawi.

Keempat, ditinjau dari aspek keadilan, aturan larangan cadar itu diskriminatif dan tidak berkeadilan. Mahasiswi muslimah yang menutup aurat dengan cadar dianggap radikal dan diancam dengan sanksi dikeluarkan dari kampus jika tetap bercadar setelah terlebih dahulu dibina. Padahal mereka menutup aurat itu karena patuh perintah agama dan untuk menjaga kehormatan. Anehnya, mahasiswi tidak menutup auratnya, baik dengan cadar ataupun jilbab, tidak dianggap radikal dan tidak dikenakan sanksi. Padahal perbuatan ini melanggar agama dan tidak menjaga kehormatan. Sepatutnya, merekalah yang dianggap radikal dan dikenakan sanksi.

Kelima, ditinjau dari nama baik UIN, keputusan tersebut telah mencoreng UIN seluruh Indonesia, khususnya UIN Suka. Larangan cadar ini justru terjadi sebuah institusi pendidikan Islam (perguruan Tinggi Islam) yang bernama Universitas Islam Negeri (UIN). Nilai-nilai keislaman seharusnya melekat di kampus ini dan diterapkan sesuai dengan nama kampus ini. Sebagai seorang intelektual, seharusnya rektor menghargai perbedaan pendapat para ulama mengenai cadar sebagai bentuk kebebasan intelektual dan toleransi. Tindakannya ini juga bertentangan dengan visi dan misi UIN Suka yang islami seperti yang telah dicetuskan oleh para pendahulu dan pendiri kampus ini. Maka tidak heran jika selama ini ada persepsi negatif dari masyarakat terhadap kampus UIN Suka gara-gara ulah para oknum dosen dan alumninya yang berpikiran nyeleneh dan anti syariat alias liberal. Anehnya, paham liberal yang berkembang selama ini di UIN Suka tidak dianggap radikal dan tidak pula dilarang. Padahal inilah paham radikal sebenarnya, karena telah melecehkan syariat dan menentang Allah Swt.

Keenam, ditinjau dari aspek logika, keputusan rektor melarang mahasiswi bercadar dengan alasan radikal itu tidak logis. Tidak masuk akal orang yang taat beragama dikatakan berpaham radikal. Agama tidak mengajarkan terorisme dan radikalisme, bahkan mengharamkannya. Jadi, di mana radikalnya?!! Apakah salah seorang muslimah taat kepada agama?!! Ini jelas tuduhan yang mengada ada dan berlebihan. Terkesan islamophobia. Padahal, tidak ada kaitan sama sekali antara memakai cadar dengan radikalisme. Seandainya terbukti ada mahasiswi bercadar yang radikal, maka sepatutnya oknum mahasiswi itu saja yang dibina atau diberi sanksi. Tidak boleh mengeneralkan tuduhan ini kepada semua mahasiswi bercadar sehingga menjadikan alasan untuk melarangnya. Jika mau jujur, tidak ada muslimah bercadar menjadi radikal dan teroris. Jutaan muslimah bercadar di Mekkah dan Madinah setiap tahunnya, namun tidak ada aksi pemboman atau aksi radikal yang dilakukan oleh muslimah bercadar.

Pandangan Para Ulama Mengenai cadar

Para ulama sepakat (ijma’) mengatakan bahwa menutup aurat itu wajib hukumnya. Mereka berargumentasi dengan Al-Quran dan As-Sunnah. Di antaranya, firman Allah Swt: “Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudungnya ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau para perempuan (sesama Islam) mereka, atau hamba sahaya yang mereka miliki, atau para nelayan laki-laki (tua) yang tidak punya keinginan (terhadap perempuan), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan…” (An-Nur: 31).

Allah Swt juga berfirman: “Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin, “Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. “Yang demikian itu agar mereka tidak diganggu… Dan Allah Maha Pengampun dan Maha Penyanyang.” (Al-Ahzab: 59). Begitu pula hadits-hadits Rasul saw memerintahkan untuk menutup aurat. Bahkan Istri-istri dan anak-anak Rasul saw bercadar.

Berdasarkan Alqur’an dan Hadits, maka para ulama sepakat (ijma’) bahwa menutup aurat itu wajib hukumnya. Mereka juga berijma’ bahwa pakaian paling utama dan paling sempurna dalam menutup aurat itu cadar. Ini tidak ada khilafiah di antara para ulama. Sebagaimana merekapun sepakat bahwa bercadar itu merupakan simbol, pemikiran dan ajaran agama.

Namun para ulama berbeda pendapat apakah bercadar itu wajib atau sunnat? Perbedaan pendapat mereka ini disebabkan perbedaan pendapat mereka mengenai batasan aurat sesuai dengan pemahaman mereka terhadap ayat-ayat Alqur’an dan hadits-hadits perintah menutup aurat. Sebahagian ulama berpendapat bahwa aurat wanita itu seluruh tubuhnya. Maka hukum bercadar itu wajib. Ini pendapat ulama Syafi’iyyah dan Hanabilah. Sebahagian ulama lain berpendapat bahwa aurat wanita itu seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan. Menurut mereka muka dan telapak tangan itu bukan aurat. Maka bercadar itu hukumnya tidak wajib, namun sunnat atau dianjurkan, karena lebih utama dan sempurna dalam menutup aurat. Ini pendapat ulama Hanafiyyah dan Malikiyyah.

Kesimpulannya, perintah menutup aurat dengan cadar maupun jilbab memiliki dasar hukum yang kuat yaitu Al-Quran, as-Sunnah dan ijma’. Melarang cadar berarti menentang Al-Quran, hadits dan ijma’ para ulama. Terlepas dari khilafiah para ulama mengenai hukum cadar wajib atau tidak, namun para ulama sepakat bahwa bercadar itu paling utama dan sempurna dalam menutup aurat. Merekapun sepakat bahwa cadar itu ajaran Islam dan tidak boleh dilarang.

Jadi, jelaslah bahwa cadar merupakan simbol, pemikiran dan ajaran Islam, bukan budaya Arab seperti yang dituduh oleh orang-orang kafir orientalis dan pengikut mereka dari orang-orang Islam Liberal yang anti terhadap syariat Islam.  Oleh karena itu, bercadar tidak boleh dilarang. Apapun alasannya, pelarangan cadar tidak bisa diterima secara agama, logika, HAM dan hukum. Kasus seperti ini tidak boleh terulang lagi di Indonesia.

Meskipun secara pribadi penulis memilih pendapat  ulama yang mengatakan bahwa muka dan kedua telapak tangan bukan aurat, namun penulis tetap objektif dan proporsional dalam memandang persoalan cadar dengan menghargai pendapat ulama yang mewajibkan cadar dan tidak menafikan cadar dan jilbab itu sebagai simbol, pemikiran dan ajaran Islam.

Akhirnya, mari kita bersikap objektif dan proporsional dalam menilai persoalan cadar. Meskipun persoalan cadar itu persoalan khilafiah, namun kita wajib menghargai pendapat ulama yang mewajibkannya. Kita harus jujur dan akui bahwa cadar dan jilbab merupakan identititas muslimah, pemahaman para ulama dan ajaran Islam. Melarang cadar sama saja menafikan simbol, pemikiran dan ajaran Islam. Selain itu, sama saja telah menentang, melecehkan dan “mengeksekusi” ajaran Islam. Perbuatan ini maksiat. Inilah paham radikal sesungguhnya. Semoga kita selalu diberi petunjuk dari Allah Swt dan dijaga dari kesesatan. Amin!

0/5 (0 Reviews)

Komentar


Apa Reaksi Anda?

Marah
9
Marah
Suka Suka
12
Suka
Takjub Takjub
10
Takjub
Kaget Kaget
9
Kaget
Takut Takut
8
Takut
Lucu Lucu
6
Lucu
Sedih Sedih
4
Sedih
Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Gif
GIF format