.

Peran Ulama Dalam Pembebasan Mesir Dari Hegemoni Dinasti Syi’ah Fathimiyah

2 min


83
28 shares, 83 poin

HARIANACEH.co.id — Keberhasilan Shalahuddin Al-Ayyubi dalam membebaskan negeri Mesir dari hegemoni Dinasti Syi’ah Fathimiyah (567 H), selain meneruskan ide cemerlang dari pemimpin-pemimpin muslim kawakan sebelumnya (seperti: Nuruddin Zanki dan lainnya), juga merupakan jasa luhur  ulama.
Mereka berjasa besar sebagai pelapang jalan terjal menuju pembebasan Bumi Kinanah. Tanpa bermaksud membatasi, ulama sekaliber Abu Hamid Al-Ghazali, Abdul Qadir Jailani dan Al-Qadhi Al-Fadhil rahimahumullah adalah di antara ulama-ulama brilian yang memuluskan jalan pembebasan.

Imam Ghazali (450-505 H)

Ulama yang dikenal dengan julukan ‘Hujjatul Islam’ ini bukan saja berjasa besar dalam mendidik generasi-generasi unggul yang nantinya menorehkan prestasi besar berupa pembebasan Baitul Maqdis di masa Shalahuddin, tapi juga sebagai figur penting yang berjuang menolak ideologi Syi’ah yang gaungnya sampai masa Shalahuddin.

Dalam buku “Shalâhuddîn al-Ayyûbî wa Juhûduhu fî al-Qadhâ ‘alâ al-Daulah al-Fâthimiyah wa Tahrîr al-Bait al-Maqdis (2008: 162-163) Dr. Muhammad Shallabi menulis catatan menarik mengenai perjuangan Imam Ghazali dalam menumpas Syi’ah Bathiniyah. Sosok yang dikenal dengan magnum opus “Ihyâ ‘Ulûmiddîn” ini termasuk deretan ulama besar di sekolah-sekolah Nidhzamiyah yang berusaha ekstra keras dalam memancangkan ideologi Ahlus Sunnah dan membendung ideologi Syi’ah.

Banyak karya-karya lahir -untuk menolak ideologi Syi’ah- dari ulama-ulama madrasah Nidzamiyah ini. Salah satunya adalah karya Imam Ghazali yang berjudul “Fadhâ`ih al-Bâthiniyah” (487 H) Di dalamnya, dengan sangat berani penulis “al-Munqidz min al-Dhalâl” ini membabat habis ideologi Syi’ah yang menyimpang.

Padahal, saat itu propaganda Syi’ah sedang gencar-gencarnya, dan mereka tidak segan-segan membunuh –dengan berbagai cara- bagi yang menentang pemahaman mereka, sebagaimana Nidzam Al-Mulk yang menjadi korban.

Menariknya, meski perjuangan Ghazali dalam melawan Syi’ah bisa mengancam nyawanya, namun beliau secara kontinu berjuang melawan mereka –melalui jalur pemikiran- serta membuka kedok Syi’ah yang sesungguhnya. Sikap tegas Ghazali terhadap Syi’ah ini penting dicatat bagi tokoh atau ulama yang bersikap lembek dan kompromistis terhadap Syi’ah, dengan mengupayakan perdamaian semu antara Ahlus Sunnah dan Syi’ah.

Abdul Qadir Jailani (470-561 H)<>

Tak ayal lagi, salah satu bentuk nyata sumbangsih ulama bermadzhab Hanbali ini, adalah menanggulangi secara aktif ideologi Syi’ah. Dalam bukunya yang berjudul “al-Ghunyah li Thâlibi Thârîq al-Haqqi Azza wa Jalla”  (1417: 179-184), beliau membahas tentang bagian-bagian Syi’ah serta beberapa penyimpangannya.

Menariknya, Syekh Abdul Qadir al-Jailâni dalam membantah ajaran-ajaran sesat Syi’ah, atau aliran menyimpang lainnya, tidak mengedepankan emosi, tapi argumentasi. Dr. Mâjid Ersan al-Kailâni dalam buku “Hâkadza Dhahara Jîlu Shalâhuddîn wa Hâkadza Âdat al-Quds” (1995: 236-238) menyebutkan bahwa Syekh Pendiri Madrasah Qadiriyah ini melawan aliran-aliran menyimpang pada zamannya melalui diskusi atau dialog.

Diskusi yang dilakukan beliau –sebagaimana catatan Muhammad al-Shallâbi dalam “Ashru al-Daulah al-Zankiyah”- memiliki dua keistimewaan: Pertama, menggugurkan argumentasi lawan-lawan dialognya bukan dengan ideologi Sunni yang diyakininya, tapi justru menggunakan ideologi menyimpang mereka.

Artinya, beliau menjatuhkan mereka, dengan senjata yang mereka sendiri. Kedua, luasnya pengetahuannya mengenai aliran-aliran menyimpang. Tak mengherankan jika beliau sangat berani berdiskusi dengan aliran-aliran menyimpang (2017: 406-407)

Jasa besar yang dimainkan oleh Syekh Abdul Qadir (sebagaimana yang ditandaskan oleh Majid dan Shallabi) di antaranya usaha efektifnya dalam melawan pemikiran Syi’ah Konservatif Bahtiniyah dan lainnya; di samping itu mempunyai andil besar –meski tidak secara langsung- dalam meruntuhkan Daulah Fathimiyah Ubaidiyah di Mesir dan yang tak kalah penting adalah sebagai pelapang jalan bagi masuknya Shalahuddin (1138-1193 M) dalam ekspedisi pembebasan Mesir dari hegemoni Daulah Syiah Fathimiyah.

Al-Qadhi Al-Fadhil (526-596 H)

Beliau adalah ‘Tangan Kanan” Shalahuddin Al-Ayyubi. Seorang ulama ahli sastra yang berjasa besar dalam membantu menumpas Syi’ah Fathimiyah di Mesir (Shallabi, 2008: 295). Selain sebagai ulama yang disegani, beliau juga sebagai qadhi (hakim) cemerlang, administrator ulung, strateg andal, penghidup ajaran ahlus sunnah di Mesir, serta sosok brilian di balik pembebasan Bumi Kinanah dari cengkeraman Syi’ah.

Tidak berlebihan jika kepada figur alim dan pemberani ini, Shalahuddin pernah membuat statemen, “Kalian jangan menyangka bahwa aku bisa menguasai negeri-negeri dengan pedang-pedang kalian, tapi dengan pena Al-Fadhil.” (Abdus Salam, 2002: 246).

Kata-kata Shalahuddin ini bukan sekadar pujian biasa, karena pada faktanya beliau banyak terbantu dalam misi pembebasan-pembebasan yang dicanangkannya.

Dari beberapa contoh tersebut, nyatalah bahwa jasa ulama terhadap pembebasan Mesir dari Daulah Syi’ah Fathimiyah sangat besar. Karenanya, upaya untuk menanggulangi merebaknya ideologi Syi’ah, bukanlah hal sederhana. Perjuangan ini membutuhkan kolektifitas, sinergi, totalitas umat, dan dukungan intensif serta proaktif dari ulama.<>
Sumber: Hidayatullah.com 

0/5 (0 Reviews)

Komentar


Apa Reaksi Anda?

Marah
2
Marah
Suka Suka
5
Suka
Takjub Takjub
4
Takjub
Kaget Kaget
2
Kaget
Takut Takut
1
Takut
Lucu Lucu
13
Lucu
Sedih Sedih
11
Sedih
Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Gif
GIF format