Harian Aceh Indonesia
HARIANACEH.co.id

Advertisement

Perkembangan Bakat dan Kreativitas Anak Dalam Peran Keluarga

Oleh: Thalcya Syawina Putri[note]Mahasiswi Jurusan Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala[/note]

Sejak lahir seorang anak sudah dianugerahi bakat yang dimilikinya, walaupun ada beberapa anak tidak mengembangkannya dan tidak mengetahui bakat yang ada pada dirinya sendiri. Sudah semestinya sebagai orang tua harus peka terhadap perkembangan anak tersebut, dalam hal kecil maupun hal yang paling besar.

Advertisement

Advertisement

Seorang anak membutuhkan kasih sayang dan rasa peduli antara orang tua oleh anak. Ada beberapa orang tua memaksa untuk mengikuti apa yang mereka inginkan. Bagi seorang anak dukungan orang tua sangat berarti dalam perkembangan seorang anak, hanya dukungan orang tua yang membuat kita semangat dan bahagia. Walaupun kemauan untuk mewujudkan bakat yang kita inginkan tidak tercapai, tetapi melihat senyuman orang tua yang sangat bahagia kita sebagai anak sangat bangga.

Jika keinginan untuk mengembangkan kreatifitas mereka tidak didukung oleh orang tua, dan tetap mempertahankan keinginan orang tua, maka anak tersebut akan merasa terbebani, dan tidak nyaman terutama pada situasi dirumah. Karena dengan adanya pertentangan orang tua dan anak muncul pertengkaran yang mempertahankan setiap pilihan masing-masing. Sikap orang tua yang mendukung bakat dan kreatifitas anak secara umum seperti, menghargai pendapat anak, meyakinkan bakat yang sudah ada pada diri  mereka  dan mendukung bakat mereka. Sikap orang tua yang tidak mendukung akan bakat dan kreatifitas anak. Misalnya, jika anak itu melatih bakat dan kreativitas  anak tersebut akan dihukum. Dengan perlakuan seperti itu, anak tersebut dalam perkembangannya tidak seperti perkembangan anak yang sewajarnya karena dengan sikap itu membuat anak tersebut menjadi terpuruk, cemas dan ketakutan.

Mengembangkan ide atau kreatifitas anak sangatlah penting. Dengan mengembangkannya, maka itu menjadi cara untuk orang tua memotivasi ide yang ada pada dirinya. Terkadang ada orang tua yang tidak peduli dengan kreatifitas anak dan mereka merespon dengan biasa saja, dan di saat itu pulalah anak merasakan kurang diperhatikan, karena tidak dihargai dan tidak dipedulikan oleh orang tuanya. Orang tuanya saja tidak peduli apalagi orang lain yang meresponnya, oleh karena itu anak merasakan cemas dan pesimis dengan kreatifitas yang ia miliki, sehingga ia menjadi pribadi yang tertutup karena tidak percaya diri dengan lingkungan sekitarnya.

  • Di dalam Undang – Undang  Nomor 20 tahun 2003 tentang Dasar, Fungsi dan Tujuan Sistem Pendidikan Nasional, Bab II pasal 3 tertulis : Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Kemudian pada Bab V pasal 12 ayat 1 point b tertulis setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat dan kemampuannya.
  • Potensi yang dimaksud di atas bisa diartikan sebagai bakat, maupun minat siswa. Saat ini banyak remaja maupun dewasa yang tidak tahu akan bakat, maupun minatnya. Bila mereka tahu akan bakat dan minatnya sejak dini mereka mampu menjadikan bakat tersebut sebagai kekuatan maka dewasa nanti mereka bisa menjadi orang yang sukses.

Bakat merupakan potensi yang dimiliki oleh seseorang sebagai bawaan sejak lahir. Adapun bakat yang dimiliki anak meliputi bakat linguistic, bakat musical, bakat logis–matematis, bakat spasial, bakat kinestetik, bakat interpersonal dan bakat intrapersonal.

Ciri–ciri anak yang berbakat pada suatu hal adalah ia senang melakukan hal tersebut, berkonsentrasi, rasa ingin tahu yang sudah besar, memiliki kemampuan yang lebih pada bidang itu. Beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk mengembangkan bakat sang anak yaitu perhatian, motivasi, dukungan, pengetahuan, latihan, penghargaan, sarana, lingkungan, kerjasama, teladan yang baik.

Karakteristik Anak Berbakat

Ellen Winner (Santrock, 2011) seorang pakar di bidang kreativitas dan anak berbakat, ada 3 kriteria menjadi ciri anak berbakat:

  1. Dewasa lebih dini (precocity). Anak berbakat adalah anak yg dewasa sebelum waktunya apabila diberi kesempatan untuk menggunakan bakat dan talenta mereka.
  2. Belajar menuruti kemauan mereka sendiri. Anak berbakat belajar secara berbeda dg org lain yg tak berbakat. Tidak membutuhkan banyak dukungan dari orang dewasa.
  3. Anak yang berbakat tertarik untuk memahami bidang yang menjadi bakat mereka. Memperlihatkan minat yang besar dan obsesif, kemampuan kuat dan fokus. Motivasi internal yang kuat.

Kreatifitas adalah kemampuan seseorang untuk menciptakan sesuatu yang baru, misalnya ada yang mengartikan kreativitas sebagai upaya melakukan aktivitas baru dan mengagumkan. Menurut Santrock kreativitas adalah kemampuan untuk memikirkan tentang sesuatu dalam cara yang baru dan tidak biasanya serta untuk mendapatkan solusi-solusi yang unik. Kemampuan ini dapat terkait dengan bidang seni maupun ilmu pengetahuan, Kreativitas perlu dikembangkan sejak dini karena kreativitas mempengaruhi dan meningkatkan kecerdasan seseorang.

Mengapa kreativitas begitu penting dalam hidup dan perlu ditanam dalam diri anak sejak dini? Karena dengan berkreasi orang dapat mewujudkan (mengaktualisasikan) dirinya, dan aktualisasi diri  merupakan kebutuhan pokok tingkat tertinggi dalam hidup manusia (Maslow, 1959).

Dalam menghadapai anak berbakat orang tua harus menunjukkan sikap memahami, peduli terhadap pikiran dan perasaan anak, bersikap terbuka dan memberi peluang kepada anak untuk mengekspresikan dirinya. Kreativitas anak akan berkembang jika orang tua selalu bersikap demokratis, yaitu: mau mendengarkan omongan anak, menghargai pendapat anak dan mendorong anak untuk berani mengungkapkannya. Jangan memotong pembicaraan anak ketika ia ingin mengungkapkan pikirannya. Jangan memaksakan pada anak bahwa pendapat orang tua paling benar, atau melecehkan pendapat anak.[]

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Beri Komentar
Loading...

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. TerimaSelengkapnya