Harian Aceh Indonesia
HARIANACEH.co.id

Advertisement

Meski Moratorium, Beberapa Perusahaan Ini Masih Bakar Hutan Ekosistem Leuser

HARIANACEH.co.id – Para peneliti lapangan Rainforest Action Network (RAN) mendokumentasikan terjadinya perusakan hutan yang masih terus terjadi di wilayah Singkil-Bengkung, Kawasan Ekosistem Leuser, meskipun Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan telah mengirimkan instruksi yang merujuk pada arahan Presiden tentang moratorium ekspansi sawit dan review izin untuk menghentikan pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit di Kawasan Ekosistem Leuser.

Lokasi tersebut merupakan kawasan rawa gambut hutan padat yang menjadi hot spot keanekaragaman hayati dunia atau sebuah kawasan yang dikenal sebagai ‘ibukota orangutan dunia’, karena berfungsi sebagai rumah bagi spesies kera besar yang terancam punah.

Advertisement

Advertisement

Hutan dataran rendah yang subur ini juga diakui oleh para ilmuwan iklim sebagai salah satu lanskap paling kaya karbon di bumi, yang ketika dikeringkan dan dibakar akan menghasilkan polusi dalam skala besar pada lapisan atmosfer, seperti catatan kebakaran lahan gambut yang terjadi di provinsi Aceh pada bulan Februari tahun ini.

Aktifitas perusakan hutan ini terbukti terjadi di dalam kawasan konsesi perkebunan kelapa sawit PT. Laot Bangko yang saat ini juga berkonflik dengan masyarakat terkait lahan. Antara 25 Mei hingga Desember 2017, total 13 hektar lahan di dalam konsesi dibuka.

Aktifitas pembukaan lahan ini sempat berhenti selama beberapa bulan, tetapi dilanjutkan lagi pada Januari 2018 dengan membuka empat hektar lahan. Pada Februari 2018, titik api juga ditemukan dalam lokasi tersebut menunjukkan bahwa kondisi hutan tetap terancam.

Laot Bangko
Pada bulan Desember 2017, hasil pemantauan lapangan menemukan aktifitas perusakan hutan yang terjadi di dalam konsesi PT. Laot Bangko. Lokasi GPS: 2 ° 45’07.8 “N 97 ° 58’02.8” E

Sementara itu, PT. Indo Sawit Perkasa (PT. ISP) yang pada awal tahun 2017 sempat diprofilkan sebagai salah satu pelaku perusakan hutan di wilayah Singkil-Bengkung, hingga Maret 2018 masih melakukan aktivitas pembukaan lahan dengan menghancurkan hutan hujan dataran rendah di dalam Kawasan Ekosistem Leuser.

Berita Terkait

Bukti satelit menunjukkan bahwa PT. ISP telah menghancurkan lebih dari 67 hektar hutan.

Indo Sawit Perkasa Landsat 10Feb2017
Foto: Citra satelit yang diambil dari wilayah konsesi PT. ISP pada bulan Maret 2018 menunjukkan 67 hektar hutan di Kawasan Ekosistem Leuser dibuka untuk perkebunan sawit. Hutan yang dibuka ditunjukkan dalam warna ungu.

Selama akses untuk kelapa sawit ke pasar global masih tersedia dengan cara mengorbankan hutan dan melanggar hak asasi manusia, maka solusi jangka panjang akan sulit ditemukan dalam menyelesaikan konflik lahan dan mengamankan perlindungan Ekosistem Leuser.

Intervensi diperlukan oleh para pembeli dan distributor kelapa sawit yang mensuplai kelapa sawitnya dari pabrik kelapa sawit ini; PT. Indomas Mitra Teknik, PT. Samudra Sawit Nabati, PT. Bangun Sempurna Lestari, PT. Global Sawit Semesta, PT. Runding Putra Persada, PT. Nafasindo dan PT. Ensem Lestari. Pabrik-pabrik ini perlu mengadopsi dan menegakkan kebijakan agar tidak memasok kelapa sawit dari perkebunan yang menghancurkan hutan di dalam Ekosistem Leuser dan gagal menyelesaikan konflik lahan.

Aktivitas deforestasi yang ditemukan baru-baru ini menunjukkan bahwa perusahaan tetap membuka hutan meskipun telah ada instruksi dari Presiden Indonesia, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta surat dari Gubernur Aceh untuk menghentikan semua pembukaan lahan untuk kelapa sawit, serta komitmen yang dibuat oleh Golden Agri Resources (GAR), Wilmar dan Musim Mas untuk memprioritaskan upaya perlindungan Ekosistem Leuser dan menghentikan pembukaan hutan hujan dataran rendah dan lahan gambut di wilayah Singkil-Bengkung.

Gemma Tillack, Direktur Kebijakan Hutan,  Rainforest Action Network (RAN) menghimbau agar perusahaan pemasok kelapa sawit seperti Wilmar, Musim Mas dan Golden Agri Resources (GAR) yang memasok minyak sawit yang diproduksi dengan mengorbankan Ekosistem Leuser untuk segera melakukan intervensi dalam menghentikan aktivitas penghancuran ini dan mulai melakukan investasi dalam penyelesaian konflik lahan serta ikut mendorong perlindungan hutan berbasis masyarakat dan mendukung usaha pemulihan hutan hujan di dataran rendah Aceh.***

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Beri Komentar
Loading...

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. TerimaSelengkapnya