Harian Aceh Indonesia
HARIANACEH.co.id

Tambang Minyak Ilegal Meledak, Pengawasan Lemah, HIMPI Lhokseumawe Berdukacita

HARIANACEH.co.id, Lhokseumawe – Pembina Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Kota Lhokseumawe, Muhammad Agung Rezky Afonna turut berduka cita atas meledaknya sumur minyak ilegal di Desa Pasir Putih, Kecamatan Rantau Peureulak, Kabupaten Aceh Timur pada Rabu lalu, yang saat ini mengakibatkan 21 orang meninggal dunia dan lebih dari 38 orang luka-luka.

“Kami keluarga besar HIPMI Kota Lhokseumawe turut berduka cita atas meledaknya sumur minyak di Desa Pasir Putih yang menelan korban sekitar 21 orang jiwa. Mungkin semua ini telah ditakdirkan oleh Allah dan segala sesuatu yang terjadi pasti memiliki hikmahnya, keluarga yang ditinggalkan juga harus sabar dalam menerima cobaan ini,” kata Agung kepada HARIANACEH.co.id, Jumat pagi (27/04/18).

Muhammad Agung Rezky Afonna
Pembina Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Kota Lhokseumawe, Muhammad Agung Rezky Afonna. FOTO/Dok. Pribadi

Agung berharap, Pemerintah Provinsi Aceh dan Pemerintah Kabupaten Aceh Timur beserta stekeholder terkait sudah seharusnya bersinergi dalam membuat sebuah regulasi pro masyarakat untuk memaksimalkan manfaat tambang minyak tersebut, sehingga masyarakat tidak perlu menambang minyak secara ilegal lagi dan pendapatan masyarakat pun tetap terjamin.

“Agar penambangan ilegal tidak terjadi lagi dan pendapatan masyarakat tetap terjamin, sudah seharusnya pemerintah dan para stekeholder berfikir keras untuk membuat regulasi yang pro masyarakat agar ladang minyak tersebut dapat dimanfaatkan dengan maksimal serta tidak ada yang dirugikan,” ungkap Agung.

Lanjut agung menambahkan, kurangnya lapangan kerja dan pengawasan pemerintah membuat masyarakat berani menambang minyak secara tradisional menggunakan alat seadanya dan itu dikarenakan pemerintah cenderung kurang peduli dengan keadaan tersebut, sedangkan kebutuhan hidup masyarakat semakin mendesak.

“Jika lapangan kerja tidak ada sedangkan kebutuhan hidup terus berjalan, mau tidak mau walaupun berbahaya masyarakat pasti melakukan pekerjaan itu ditambah lagi pengawasan yang nyaris tidak ada sama sekali oleh pemerintah. Daripada keluarganya kelaparan di rumah ya semua harus dilakukan demi menghidupi keluarga,” tutupnya, sambil menganggukkan kepala.[]

Beri Komentar
Loading...

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. TerimaSelengkapnya