Harian Aceh Indonesia
HARIANACEH.co.id

Advertisement

Ketika Nafkah Dari Suami Tidak Mencukupi, Islam Mengajarkan Para Istri Bersikap Seperti Ini

Oleh: Irenk Widodo

MEMBERI nafkah adalah kewajiban seorang suami terhadap keluarganya. Dengan adanya nafkah tersebut maka kebutuhan keluarga baik makanan, pakaian serta keperluan yang lain diharapkan akan terpenuhi.

Advertisement

Advertisement

Namun bagaimana bila kemampuan suami dalam memberikan nafkah itu minim sehingga sudah tak mencukupi lagi untuk memenuhi berbagai macam kebutuhan keluarga tersebut?

Bagaimana seorang istri menyikapi permasalahan tersebut dan bagaimana pula solusi alternatifnya?

A. Pengertian Nafkah

1. Secara Bahasa

Nafkah atau an-Nafaqah diambil dari dari kata Al-Infaq, yang artinya Pengeluaran. Dan kata al-infaq tidak dipergunakan kecuali untuk hal-hal kebaikan (Kitab Al Fiqhul Muyassar :1/337).

2. Secara Istilah

Nafkah adalah memberikan kecukupan kpd orang yang menjadi tanggungannya dengan cara ma’ruf berupa quut (makanan pokok), pakaian, & tempat tinggal dan turunan -turunan dari tiga hal tersebut. (Kitab Al-Fiqhul Muyassar :1/337)

B. Memberi Nafkah Kewajiban Suami

Seluruh ulama sepakat bahwa memberikan nafkah kepada keluarga, adalah kewajiban utama seorang suami berdasarkan beberapa dalil berikut:

1. Allah Ta’ala berfirman:

وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

“… dan kewajiban suami memberi makan dan pakaian kepada istri – istrinya dengan cara ma’ruf …” (QS. Al-Baqarah : 233)

2. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Wajib bagi kalian ( para suami ) memberikan rizki (makanan) dan pakaian dengan ma’ruf kpd mereka (para istri).” (HR. Muslim)

3. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Dan mereka (para istri) memiliki hak untuk diberi rizqi (makanan dan pakaian), yang diwajibkan atas kamu sekalian (wahai para suami).’’ (HR. Muslim)

4. Mu’awiyah Al-Qusyairi berkata: “Yaa Rasulullah, apa saja hak istri yng wajib kami tunaikan?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Kamu beri dia makan bila engkau makan, dan kamu kasih dia pakaian bila engkau juga berpakaian …” (HR. Abu Daud)

C. Nafkah Keluarga, Pahala Terbesar

Diantara 4 jenis dinar yang diinfaqkan, maka yang paling utama, adalah dinar yang untuk menafkahi keluarga. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman:

“Dinar yang kau infakkan di jalan Allah, dinar yang kau infakkan untuk membebas kan budak, dinar yang kau sedekahkan kepada orang miskin dn dinar yang kau nafkahkan kpd keluargamu, maka pahala yang paling besar ialah dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu.” (HR. Ibnu Majah dan Ahmad)

D. Memberi Nafkah Sesuai Kemampuan

1. Allah Ta’ala berfirman:

وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ لَا تُكَلَّفُ نَفْسٌ إِلَّا وُسْعَهَا

“… dan kewajiban suami memberi makan dan pakaian kepada para istri dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya ….” (QS. Al-Baqarah : 233)

2. Allah Ta’ala berfirman:

لِيُنفِقْ ذُو سَعَةٍ مِّن سَعَتِهِ ۖ وَمَن قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللَّهُ

“Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang sedang disempitkan rizkinya, hendaklah memberi nafkah dari apa yang Allah karuniakan kepadanya …”(QS. Ath-Thalaq : 7)

Berdasarkan dua ayat di atas maka besar-kecilnya nafkah tergantung kepada kemampuan suaminya. Ketika rezekinya sedang dilapangkan Allah, suami tidak boleh bakhil terhadap istrinya.

Ia wajib kasih nafkah lebih, sesuai kelebihan rizqinya. Dan ketika sedang dalam kesempitan, iapun memberi nafkah sesuai dengan kesempitannya.

Oleh sebab itu seorang istri harus pintar mengatur nafkah suami dn tidak memaksakan diri menuntut nafkah yang di luar kesanggupan suaminya ketika suami sedang dalam kesempitan rezeki.

E. Lalai Memberi Nafkah Adalah Dosa

Karena memberi nafkah adalah kewajiban seorang suami maka jika suami dengan sengaja melalaikan nya maka dikatakan ia telah berdosa.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam bersabda: “Seseorang dipandang berdosa tatkala dia menyia-nyiakan orang yang jadi tanggungannya.” (HR. Abu Daud, Ibnu Hibban)

Oleh sebab itu agar terlepas dari dosa suami harus memberikan nafkah itu menurut kemampuan pada saat itu dan istripun wajib memahami kemampuan suaminya yang sedang dalam kesempitan rezeki.

F. Menyikapi Kesempitan Rezeki Suami

Ketika suami sedang mengalami kesempitan rejeki hingga nafkah yang diberikan sudah tidak mencukupi, maka seorang istri yang baik tidak akan memojokkan suaminya namun perlu menyikapinya dengan:

1. Tetap Mensyukuri

Ia yakin bahwa dengan tetap mensyukuri atas apa yang suami berikan meskipun cukup minim, maka Allah pasti akan menambah nikmat itu kepadanya.

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ

“Dan (ingatlah) tatkala Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu …’.” (QS. Ibrahim: 7)

2. Tetap Bersabar

Ketika suami sedang dalam kesempitan rezeki dan istri menyikapinya dengan penuh sabar maka Allah memberi predikat kepadanya sebagai orang yang benar imannya dan bertaqwa.

Allah Ta’ala berfirman: “Dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam pepera ngan, mereka itulah orang-orang yang benar imannya dan mereka itulah orang -orang yang bertaqwa.” (QS. Al-Baqarah : 177)

3. Tidak Putus Asa

Sikap terpuji seorang istri saat ekonomi suaminya sedang dalam kesempitan yaitu tidak putus asa, ia harus tetap bersemangat menjadi pengatur rumah tangganya.

Allah Ta’ala berfirman:

وَلَا تَيْأَسُوا مِن رَّوْحِ اللَّهِ ۖ إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِنرَّوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ

“… janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah, hanyalah orang-orang yang kafir.” (QS. Yusuf : 87)

4. Tetap Qona’ah (Merasa Cukup)

Apapun keadaan suami sekarang ini ia tetap akan menerimanya dengan Qona’ah yang menjadikan hati tenang dan merasa cukup.

Dari Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam bersabda:

“Sungguh sangat beruntung orang yang masuk Islam kemudian mendapatkan rezeki yang secukupnya dan Allah menganugerahkan padanya sifat qona’ah ats pemberian-Nya.” (HR. Ibnu Majah)

5. Banyak Berdoa

Ketika rezeki suami sedang dalam kesempitan, ia selalu berdoa untuk kelapangan rezeki suami-nya dengan kerendahan hati. Allah Ta’ala berfirman:

ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً

“Berdoalah kepada Tuhan dengan merendahkan diri dann dengan suara hati yang lembut tersembunyi …” (QS. Al-A’raf : 55)

6. Membelanjakan Secara Hemat

Ketika nafkah suami sudah minim karena keadaan, maka istri harus bisa memebelanjakannya dengan hemat dengan cara mengurangi kebutuhan-kebutuhan sekundernya. Yang demikian itu supaya mendapat rahmat Allah.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ” Semoga Allah merahmati seseorang yang mencari penghasilan secara baik, membelanjakan hartanya secara hemat, dan bisa menyisihkan tabungan sbg persediaan di saat kekurangan dan kebutuhannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

G. Solusi Alternatif

Apabila seorang suami memang sudah tidak dapat mencari penghasilan tambahan lagi dari sektor lain sedang kebutuhan keluarga meskipn sudah dibuat sesederhana mungkin namun tetap saja tak cukup.

Maka istri bisa mengusulkan dirinya kepada suami, agar diperbolehkan bekerja membantu suami yang sedang sempit rizqinya.

Dan bila suami mengijinkn hendaklah memilih pekerjaan yang sesuai fitrahnya sebagai muslimah, akan lebih bagus jika pekerjaan itu dilakukan di dalam rumahnya.

Upaya ini adalah ikhtiar untuk mengubah keadaan ke arah lebih baik sebagaimana Allah perintahkan dalam firman-Nya. Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ

“… sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, hingga mereka mau mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri …” (QS. Ar-Ra’du :11)

H. Penutup

Demikianlah bahasan mengenai nafkah suami dari perspektif syariah. Sungguh terpuji seorang istri yang mampu menyikapi kesempitan rezeki suaminya itu dengan tetap bersyukur, tetap sabar, tetap qona’ah, bisa berhemat, selalu berdoa dan ikut memberikan solusi alternatif membantu suaminya mengubah keadaan.

Itulah kemuliaan seorang istri, dan Surga adalah tempat yang layak baginya. Semoga bermanfaat, Amin.[]

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Beri Komentar
Loading...

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. TerimaSelengkapnya